Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Harga Kopi Muria Kudus Cenderung Stabil Jelang Panen Raya

Seorang petani memanen kopi usai pelaksanaan Wiwit kopi di Desa Colo Kudus. (Murianews/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Harga komoditas kopi Muria di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjelang panen raya tahun 2022 ini cenderung stabil. Kondisi itu juga dibarengi dengan jumlah permintaan yang juga cenderung stabil pula dari tahun ke tahun.

Ketua Kelompok Tani Kopi Desa Colo Purbo Wiyanto mengatakan, untuk komoditas dalam bentuk brongkol kopi yang dijual ke pengepul, harga rata-ratanya adalah mencapai Rp 500 ribu per kuintal.

Sementara untuk harga biji kopi dalam bentuk kering beras, per kilonya mencapai Rp 25 ribu.

”Menjelang panen raya ini juga harganya masih di kisaran ini, di tahun kemarin sempat ada permintaan kenaikan namun tahun ini stabil kembali,” kata Purbo, Jumat (24/6/2022).

Purbo menyebut, untuk satu hektare lahan kopi bisa menghasilkan sekitar 5 ton brongkol kopi campur.

Baca: Mengenal Tradisi Wiwit Kopi di Desa Colo Kudus

Sebagian petani, menjualnya ke pengepul dari Kabupaten Wonosobo maupun Temanggung. Sebagian petani lainnya memilih untuk menjual brongkol ke koperasi kopi milik para petani kopi di Desa tersebut.

”Saat ini kan mereka menjualnya terserah ya mau dijual ke mana, ya memang rata-rata ke daerah Wonosobo dan Temanggung,” ucapnya.

Untuk memulai panen raya, masyarakat di Desa Colo telah menggelar tradisi Wiwit Kopi. Dalam tradisi itu, semua petani kopi di daerah tersebut menggelar doa bersama di areal perkebunan. Tradisi itu pada tahun ini dilakukan pada Kamis (24/6/2022) sore kemarin.

Baca: Fakta Candi Borobudur, Pemerintah Hindia Belanda pernah Mendirikan Warung Kopi di Puncak Stupa

Usai memanjatkan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, mereka lalu menyantap semacam bekal pakem yang berisi nasi, ayam, telur, tahu, tempe, dan kuluban yang mereka bawa dari rumah secara beramai-ramai.

Walau terkesan sederhana, tradisi yang terus digelar setiap tahun itu menyimpan makna yang mendalam bagi para petani di sana.

”Tradisi ini digelar sebelum panen raya, jadi masing-masing petani dengan keluarganya membawa ambengan (bekal) dari rumah. Kemudian kami berdoa bersama dan makan bersama di tengah perkebunan,” ucapnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...