Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Penyebab Mata Kedutan yang Perlu Diketahui, Pernah Mengalami?

Ini Penyebab Mata Kedutan yang Perlu Diketahui, Pernah Mengalami?
Foto: Ilustrasi mata kedutan (freepik.com)

MURIANEWS, Kudus – Mata kedutan hampir pernah dialami semua orang. Kondisi ini biasanya terjadi tiba-tiba atau tanpa sebab sebelumnya dan biasanya hanya berlangsung sebentar saja.

Meski demikian mata kedutan ini bisa mengganggu aktivitas. Pasalnya, saat mata berkedut-kedut ini membikin tidak nyaman.

Lantas apa penyebab mata kedutan ini? Apakah mata kedutan ini berbahaya?

Baca juga: Ini Tips Mencegah Mata Lelah akibat Bekerja Terlalu Lama di Depan Laptop

Berikut berbagai penyebab mata kedutan, seperti dilansir dari laman Hello Sehat, Kamis (23/6/2022).

1. Orbikularis miokimia

Orbikularis miokomia adalah suatu kondisi di mana terjadi kedutan mata secara konstan dan tiba-tiba. Umumnya, kedutan hanya terjadi pada salah satu sisi mata dan lebih sering mengenai daerah kelopak mata bawah.

Kedutan tidak akan terlalu terlihat secara nyata oleh orang lain, tapi akan terasa menganggu oleh yang mengalaminya. Kedutan jenis ini tidak berbahaya dan biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Namun, Anda dapat mencoba menarik sedikit kelopak mata yang sedang berkedut tersebut untuk mengurangi gejala kedutan yang dirasakan.

Apabila hal ini sering terjadi, cobalah untuk mengelola stres serta mengurangi konsumsi kopi dan minuman beralkohol karena kedutan jenis ini sering kali diperparah oleh hal-hal tersebut.

2. Blefarospasme

Lain halnya dengan orbikularis miokimia yang biasanya hanya mengenai satu sisi mata, blefarospasme sering kali mengenai kedua mata sekaligus. Kedutan mata yang dirasakan tidak disertai dengan rasa nyeri dan lebih sering mengenai bagian kelopak mata atas.

Umumnya kedutan hanya akan berlangsung dalam hitungan detik sampai 1-2 menit, sehingga tidak membahayakan. Namun, jika kedutan berlangsung lebih lama (berjam-jam hingga berminggu-minggu) atau kedutan tersebut sampai membuat mata Anda terpejam sempurna.

Anda perlu memeriksakan mata Anda ke dokter untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi mata, kondisi mata kering, atau kelainan lainnya pada jalur saraf wajah.

3. Sindrom Tourette

Beda dengan kedua jenis penyebab kedutan di atas yang bisa hilang dengan sendirinya, kedutan karena sindrom Tourette tidak bisa dihentikan. Anda hanya bisa mengurangi gejalanya.

Kedutan mata sering kali sudah ditemukan sejak usia dini yang tidak hanya berhubungan dengan kedutan di daerah mata, tetapi juga dengan gangguan lainnya. Ambil contohnya, gerakan atau hentakan anggota tubuh secara tiba-tiba atau mengeluarkan suara-suara yang tidak bisa dikendalikan.

Kondisi ini berhubungan dengan kelainan pada sistem saraf sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis saraf.

4. Gangguan kadar elektrolit

Gangguan elektrolit dalam tubuh dapat berupa kadar elektrolit (natrium, kalium, magnesium, dan lainnya) yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Umumnya penurunan kadar kalium yang menyebabkan terjadinya kelemahan pada otot-otot anggota gerak dan juga timbulnya kedutan mata atau kedutan pada otot-otot kecil di daerah tubuh lainnya seperti jari.

Berkurangnya kadar kalium dalam tubuh bisa terjadi pada Anda yang sedang diare, muntah, atau punya luka bakar yang luas. Oleh karena itu, diperlukan penanganan dan pemeriksaan menyeluruh untuk mengatasi kedutan dan juga kelemahan otot yang dirasakan.

Apakah kedutan mata itu berbahaya?

Secara garis besar, kedutan di daerah mata dalam waktu singkat yang tidak disertai dengan kelainan di bagian tubuh lainnya merupakan sebuah kondisi yang tidak membahayakan kesehatan.

Namun, kedutan di daerah mata disertai dengan gangguan pada bagian tubuh lainnya memerlukan perhatian khusus karena mungkin saja merupakan suatu tanda bahaya.

Jangan tunda untuk memeriksakan diri Anda ke dokter apabila kedutan mata tersebut menganggu atau kalau Anda punya kekhawatiran tertentu.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: hellosehat.com

Comments
Loading...