Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

1.529 Orang di Grobogan Positif HIV sejak 2002, 91 di Antaranya Anak-Anak

1.529 Orang di Grobogan Positif HIV sejak 2002, 91 di Antaranya Anak-Anak
Foto: Sub Koordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Grobogan Gunawan (Murianews/Saiful Anwar)

MURIANEWS, Grobogan – Kasus HIV/AIDS atau human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome di Grobogan tampaknya harus mendapatkan perhatian yang sangat serius. Sebab, jumlah kasus yang ditemukan hingga saat ini sudah cukup banyak. Bahkan, sebagian penderita HIV/AIDS ini sudah meninggal.

Data dari Dinkes Grobogan, jumlah kasus HIV/AIDS mulai tahun 2002 hingga Mei 2022 sebanyak 1.529 orang. Yang bikin miris, dari 1.529 kasus HIV/AIDS ini sebanyak 91 di antaranya merupakan anak-anak.

Sub Koordinator Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) pada Dinkes Grobogan Gunawan menerangkan, angka tersebut juga membuat Grobogan menjadi lima besar kasus terbanyak se-Jateng. Dari 19 kecamatan di Grobogan, ada beberapa kecamatan yang kasusnya tinggi.

Baca juga: Warga Binaan di Lapas Kelas IIB Purwodadi Jalani Pemeriksaan HIV/AIDS

”Hampir semua kecamatan ada. Paling tinggi di Purwodadi, kemudian Toroh, Wirosari, dan Penawangan,” ungkap Gunawan, Kamis (23/6/2022).

Gunawan menyebutkan, dari catatannya, sudah terdapat 380 orang penderita HIV yang meninggal. Dalam setiap tahun, angka kasusnya pun cenderung naik.

”Di sepanjang 2022 hingga akhir Mei lalu terdapat 50 orang kasus baru,” sambungnya.

Berbagai upaya pun telah dilakukan Dinkes Grobogan dengan pihak terkait. Selain deteksi dini kepada kelompok resiko, upaya lainnya yakni lebih mendekatkan akses kesehatan dengan para penyintas HIV.

”Sekarang ini kami upayakan seluruh puskesmas di-upgrade agar bisa melayani pengobatan HIV. Kalau tes kan memang sudah sejak dulu bisa,” imbuhnya.

Lebih lanjut Gunawan mengatakan, meskipun kasusnya terus naik, namun kabar baiknya masyarakat sudah tidak lagi menganggap penyintas HIV sebagai orang mesti dijauhi. Menurutnya, masyarakat kini lebih memahami tentang penularan HIV/AIDS.

”Kalau dulu kan sampai diusir di tetangganya. Sekarang sudah tidak ada seperti itu, sudah lebih paham,” tutupnya.

 

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Dani Agus

Comments
Loading...