Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Siber Santik Diluncurkan di Kudus untuk Cegah DBD

Lokakarya pencegahan DBD yang digelar Puskesmas Ngembal Kulon. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus — Program Siber Santik diluncurkan Puskesmas Ngembal Kulon, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Terlebih di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon, sudah ada satu korban meninggal akibat DBD.

Siber Santik merupakan akronim dari Siswa Berantas Sarang Nyamuk dan Jentik. Program ini diluncurkan dalam lokakarya yang membahas pencegahan DBD, Rabu (22/6/2022).

Dalam lokakarya ini sejumlah stakeholder dihadirkan. Seperti Forkopimcam, perwakilan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kepala desa, kepala SD/MI di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon.

Diketahui, Puskesmas Ngembal Kulon memiliki enam wilayah kerja. Meliputi Desa Ngembal Kulon, Desa Tumpang Krasak, Desa Megawon, Desa Jepang Pakis, Desa Loram Wetan, dan Desa Getas Pejaten.

Kepala Puskesmas Ngembal Kulon, Kamal Agus Efendi di wilayah kerjanya ada 61 kasus kejadian demam berdarah hingga awal Juni 2022 ini.

”Sejauh ini ada 61 kasus demam berdarah. Satu di antaranya meninggal. Terjadi di Desa Getas Pejaten pada Februari 2022,” katanya.

Baca: DBD Bikin Tiga Anak di Kudus Kehilangan Nyawa di Awal 2022

Sehingga pihaknya meluncurkan program Siber Santik. Dengan program ini, maka upaya pencegahan DBD dilakukan dengan melibatkan anak-anak sekolah.

”Selama ini gerakan pencegahan demam berdarah hanya melibatkan orang dewasa dengan cakupan di rumah saja. Padahal penyebab demam berdarah bisa terjadi di luar lingkungan rumah seperti sekolah. Maka kami ajak siswa SD/MI,” imbuhnya.

Sementara itu, Camat Jati Fiza Akbar mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya pertemuan seperti ini harus dilakukan.

Pihaknya juga menyampaikan pentingnya pencegahan demam berdarah di level sekolah. Karena demam berdarah tidak hanya terjadi di lingkungan rumah saja.

”Ini bentuk komitmen kami untuk mencegah demam berdarah sampai di level terkecil mulai di tingkat desa hingga sekolah,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...