Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Melihat Perang Obor Tegalsambi Jepara dari Dekat

Melihat Perang Obor di Tegalsambi Jepara dari Dekat
Pasukan saling serang dalam atraksi Perang Obor di Tegalsambi Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Jepara, Jawa Tengah digelar lagi. Dua tahun vakum akibat Covid-19 belum terkendali memupuk kerinduan warga melihat langsung warisan budaya itu.

Perang Obor diselenggarakan Senin (20/6/2022) malam. Sekitar pukul 19.00 WIB warga sudah berkumpul memadati area peperangan.

Jalanan semakin dipadati warga setelah pasukan pembawa api dan senjata berupa gulungan daun kelapa kering bergerak menuju panggung utama. Seseorang membawa kemenyan dalam piring yang terbuat dari tanah liat.

Baca: Tradisi Jembul Tulakan Jepara Tak Lepas dari Kisah Sang Ratu

Kemenyan itu dibawa ke tengah-tengah perempatan. Setelah diletakkan di jalan, kemenyan dibakar lalu mereka merapal doa. Pasukan pembawa senjata setinggi dua meter itu melingkari mereka.

Selesai doa dipanjatkan, salah satu senjata disulut dari api kemenyan. Aroma kemenyan semakin menusuk rongga hidung.

Setelah itu, kemenyan dibawa ke depan panggung. Sebagai simbolisasi, Sekda Jepara Edy Sudjatmiko menyulut senjata obor. Keriuhan menggema di sepanjang jalan.

Ada sekitar 500 senjata obor dan sekitar 50 pasukan yang beraksi malam tadi.

Sesaat kemudian, penonton yang sebelumnya memadati tengah jalan menyingkir ke pinggir. Jalanan terbelah. Pasukan mencari posisi masing-masing.

Mereka saling menyulutkan api satu sama lain. Satu per satu mengambil ancang-ancang dan saling berhadapan. Lalu, sekejap kemudian mereka berlari untuk memukulkan obor kepada lawan yang dihadapi.

Amukan obor seperti menyulut amarah. Perang Obor semakin mungkin bisa dikendalikan.

Tak ada kawan dan lawan abadi malam tadi. Kawan yang semula ikut menghajar lawan, dalam waktu berbeda berubah menjadi lawan.

Begitu sebaliknya dan terjadi tiada henti. Tak jarang, percikan api menghempas pada barisan penonton.

Sekilas, amukan obor itu terkesan disertai amarah dan dendam. Namun, setelah satu jam berperang menggunakan obor, mereka kembali berpelukan, saling melumuri minyak untuk mengobati luka, lalu tertawa bersama.

Petinggi Tegalsambi, Agus Santoso, mengatakan amuk-amukan antar pasukan itu menjadi upaya untuk melestarikan Perang Obor. Dirinya memastikan, sejak dulu tak pernah ada konflik antar pasukan setelah saling serang dalam gelanggang api itu.

”Ini bukti bahwa rakyat Tegalsambi memiliki nyali besar. Berani berperang. Tapi tetap sportif,” jelas Agus.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...