Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Tradisi Jembul Tulakan Jepara Tak Lepas dari Kisah Sang Ratu

Tradisi Jembul Tulakan Jepara Tak Lepas dari Kisah Sang Ratu
Meriahnya tradisi Jembul Tulakan di Kecamatan Donorojo, Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Tradisi Jembul Tulakan kembali digelar warga Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Senin (20/6/2022). Perayaannya sempat tertunda dua tahun akibat Pandemi Covid-19.

Warisan budaya itu tak hanya menjadi identitas warga setempat. Namun, juga jadi kebanggaan Bumi Kartini. Tradisi Jembul Tulakan ternyata tak lepas dari kehidupan sang Ratu Jepara, Ratu Kalinyamat.

Petinggi Desa Tulakan, Budi Sutrisno mengatakan tradisi Jembul Tulakan bermuara pada jalan hidup Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara era penjajahan Portugis.

Baca: Jembul Tulakan di Jepara Bak Lautan Manusia

Diceritakan, pada masa lampau, Ratu Kalinyamat memiliki dendam dengan Arya Penangsang. Dendam itu berawal dari terbunuhnya Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat di tangan Arya Penangsang.

Setelah itu, Ratu Kalinyamat membuat sumpah dengan bertapa wuda. Dalam hal ini, tapa wuda atau telanjang tidak dimaknai telanjang dalam arti sebenarnya. Melainkan, Ratu Kalinyamat ‘menelanjangi’ dirinya dari sifat keduniawian dan kemewahan sebagai ratu.

Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Tidak sekali-kali saya turun dari pertamaan, jika belum bisa membersihkan kaki dengan jambul atau rambut Arya Penangsang, red),” ucap Budi menirukan sumpah Ratu Kalinyamat yang dipercayai masyarakat itu, Senin (20/6/2022).

Tempat pertapaan Ratu Kalinyamat sendiri dipercaya terletak di Bukit Donorojo. Saat itu, Ratu Kalinyamat memerintahkan Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati) untuk membunuh Arya Penangsang.

Pada akhirnya, kerabat Ratu Kalinyamat itu berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Rambut dan darah Arya Penangsang dibawa kepada Ratu Kalinyamat di pertapaan bernama Sonder itu.

Tak hanya kesed dengan rambut atau jambul Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat juga keramas dengan darah sosok yang membunuh suaminya itu.

”Setelah keberhasilan itu, akhirnya Ratu Kalinyamat menghentikan tapa wudanya,” jelas Budi.

Lalu, jambul tersebut diarak ke permukiman masyarakat setempat. Dari tragedi itulah, akhirnya masyarakat Desa Tulakan menggelar tradisi Jembul Tulakan.

Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali pada Senin Pahing Zulkaidah. Masyarakat mengarak Jembul yang terbuat dari siratan atau irisan tipis bambu di sekitar rumah kepala desa.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...