Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Tips Melaksanakan Ibadah Sa’i bagi Jemaah Haji Kategori Risiko Tinggi

Tips Melaksanakan Ibadah Sa’i bagi Jemaah Haji Kategori Risiko Tinggi
Foto: Lokasi Sa’i Masjidil Haram (detikcom/Madin)

MURIANEWS, Kudus – Menunaikan Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima. Ada banyak keutamaan yang didapat dengan melaksanakan ibadah haji ini.

Dalam pelaksanaan ibadah haji memiliki rukun-rukun yang harus dijalani. Untuk bisa melaksanakannya maka dibutuhkan ketahanan fisik yang baik, seperti saat melaksanakan ibadah sa’i.

Di antara ratusan ribu Jemaah haji Indonesia, ada yang tergolong dalam kategori risiko tinggi (risti). Bagi jemaah risti ini ada tips yang bisa dilaksanakan agar bisa melaksanakan ibadah dengan baik, terutama saat sa’i.

Baca juga: Jemaah Diminta Siapkan Tenaga Untuk Puncak Haji

Kepala Seksi Kesehatan Haji Daerah Kerja Makkah Muhammad Imran menjelaskan beberapa tips yang bisa dilakukan jemaah  risti. ”Metodenya istirahat-istirahat. Dari Safa ke Marwa jalan kaki 400 meter. Bagi yang risti, saat jalan dari Safa ke Marwa, sejenak berhenti. Istirahat dulu, berdoa 2 menit untuk menurunkan denyut nadi,” kata Imran, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.

”Yang penting memberikan kesempatan jantung istirahat supaya tidak terlalu terforsir. Kemudian jalan lagi setiap putaran harus istirahat. Mungkin selesainya lebih lama, tapi lebih aman,” sambungnya.

Menurut Imran, sebaiknya jemaah risti harusnya didampingi agar tidak tertinggal dengan kelompok jemaahnya. “Bisa didampingi ketua regunya atau dibarengkan dengan jemaah lain,” ujar Imran.

Ia menyarankan, jemaah yang punya riwayat penyakit jantung dan PPOK atau Penyakit Paru Osbstruktif Kronis disarankan memakai kursi roda, karena rawan terhadap serangan jantung. ”Biasanya karena merokok lama, jadi belum sampai ke Marwa sudah sesak nafas,” lanjutnya.

Kusuma Yudha, Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang mendampingi jemaah Kloter  SUB-02  menjelaskan, ia bersama seorang tenaga medis kloter terus memantau jemaah risti dalam kloternya.

”Jemaah risiko tinggi harus diawasi khusus karena mempunyai penyakit bawaan yang sudah diderita dari Indonesia. Jadi kita memantau supaya tidak ada kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan,” jelasnya.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: kemenag.go.id

Comments
Loading...