Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Asuh 2 Adik usai Ibu Meninggal, Bocah di Sragen Dinobatkan Jadi Hero Anak Unicef

Tim Unicef Indonesia Perwakilan Surabaya melakukan dukungan psikososial kepada anak yang terdampak Covid-19 di wilayah Kecamatan Karangmalang, Sragen, Minggu (12/6/2022) lalu. (Istimewa/Unicef)

MURIANEWS, Sragen — United Nations Children’s Fund (Unicef) menobatkan Keysha, bocah belia asal Karangmalang, Sragen sebagai ebagai Hero Anak. Itu terjadi setelah Unicef terketuk melihat Keysha harus mengasuh adik-adiknya setelah sang ibu meninggal akibat Covid-19.

Bocah yang baru lulus SMP itu dinilai Unicef sebagai sosok inspiratif atas perjuangannya yang berperan sebagai orang tua kedua adiknya yang masih berusia delapan tahun dan tiga tahun.

Kisah heroik Keysha itu diceritakan oleh Spesialis Perlindungan Anak Unicef Indonesia Kantor Perwakilan Surabaya, Naning Puji Yulianingsih, Rabu (15/6/2022).

Berdasarkan cerita yang diberikan, Keysha kehilangan ibunya saat masih duduk di Kelas II SMP. Sementara ia memiliki dua adik yang saat itu berusia delapan tahun dan tiga tahun.

”Bisa dibayangkan seorang Keysha yang masih belia kehilangan sosok ibu. Keysha inilah yang menggantikan peran ibunya untuk mengurus kedua adiknya. Sebagai remaja tentu Keysha ini dekat dengan ibunya, untuk curhat tentang masalah perempuan. Keysha pun sadar betapa ayahnya juga sedih kehilangan istrinya,” ungkap Naning seperti dikutip Solopos.com.

Setelah sang ibu meninggal, Keysha harus mengurus dirinya sendiri dan kedua adiknya. Mulai dari memandikan adiknya yang paling kecil hingga memeluknya saat hendak tidur dan seterusnya.

”Memang ada ayah dan kakeknya di rumah, tetapi Keysha yang lebih berperan dalam mengurus adik-adiknya,” terangnya.

”Sekarang Keysha sudah lulus SMP. Kakeknya yang di Bekasi menawarkan untuk pindah dan sekolah di sana. Ia bersedia pindah. Saat proses perpindahan itu tiba-tiba adiknya yang bungsu sakit. Akhirnya Keysha memutuskan untuk membatalkan pindah ke Bekasi demi adiknya. Saya tidak tega. Saat sakit siapa yang merawat adik? Kalimat itu yang terucap saat kami tanya,” ujar Naning.

Ayah Keysha bekerja sebagai tukang parkir di depan warung makan dan membuka bengkel motor kecil-kecilan. Pekerjaan sang ayah menyita banyak energi sehingga saat anaknya sakit tak bisa memberikan perhatian yang cukup.

”Kisah Keysha ini merupakan salah satu contoh dari 500-an anak di Sragen yang sama-sama kehilangan orangtua karena Covid-19. Apa yang dilakukan Keysha ini menjadi inspirasi bagi semua anak serta inspirasi bagi kami di Unicef dan di Pemkab Sragen,” lanjut Naning.

Ia mengatakan anak-anak seperti Keysha membutuhkan dukungan dan kepastian agar pendidikannya berlanjut. Untuk Keysha, ia dipastikan mendaftar dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA 2022.

Naning menerangkan Unicef sebagai lembaga PBB ikut memberi dukungan lewat Pemkab Sragen dalam bentuk bantuan teknis sampai lebih spesifik perlindungan anak. Unicef juga, kata dia, mendukung adanya rumah singgah dan rumah layanan lainnya.

Kepala DP2KBP3A Sragen, Udayanti Proborini, menyampaikan dengan dukungan dari Unicef dan Pemkab Sragen, anak-anak terdampak Covid-19 ini bisa tetap survive, mandiri, dan kuat untuk kehidupan ke depan. Dia mengatakan program Safe 4C dari Unicef yang memberikan rasa nyaman dan aman bagi anak ini bisa lahir di desa-desa.

”Kedatangan Unicef ini mampu memotivasi seluruh OPD terkait untuk bersama-sama mendukung perlindungan terhadap anak. Pada 2021 lalu, Unicef sudah memberi pelatihan di 15 desa,” katanya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...