Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Biang Bangkrutnya Dua Pabrik Gula Zaman Belanda di Kudus

Rumah dinas karyawan yang tersisa dari Pabrik Gula Besito Kudus. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus — Pada zaman penjajahan Belanda, ada tiga pabrik gula yang didirikan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dari tiga pabrik gula itu, kini hanya tinggal PG Rendeng saja yang masih beroperasi.

Sementara dua pabrik lain yakni Pabrik Gula Besito dan Tanjungmojo, sudah puluhan tahun lalu bangkrut.

Tiga pabrik ini menjadi salah satu sumber keuangan kas Belanda usai Perang Jawa melawan Diponegoro.

Pabrik Gula Besito didirikan tahun 1835. Kemudian diikuti Pabrik Gula Tanjungmojo di 1836, dan Pabrik Gula Rendeng di 1840.

Sejarawan Kudus, Edy Supratno mengatakan, dua pabrik tersebut bangkrut karena dua faktor.

Baca: Sejarah Pabrik Gula Besito, Pabrik Gula Pertama di Kudus

Pertama karena adanya hama yang menyerang kebun tebu yang notabene merupakan bahan dasar gula pasir.

”Faktor kedua karena permintaan tebu dari negara Eropa mulai menurun. Karena saat itu ada temuan gula bit yang bahan dasarnya bukan tebu,” katanya.

Diketahui, gula bit yakni gula yang bahan dasarnya berasal dari hasil etraksi tanaman bit atau sugar beet. Artinya, gula bit bukan didapatkan dari tanaman tebu.

Baca: Pabrik Gula di Kudus Saksi Bisu Tanam Paksa Belanda

Edy memperkirakan, kedua pabrik gula tersebut bangkrut setelah tahun 1930. Ketika dua pabrik tersebut tutup, Pabrik Gula Rendeng menjadi andalan.

”Pabrik Gula Rendeng masih eksis. Kemudian Pabrik Gula Rendeng mengambil alih Pabrik Gula Besito dan Pabrik Gula Tanjungmojo,” imbuhnya.

Bangunan fisik Pabrik Gula Besito dan Pabrik Gula Tanjungmojo saat ini sudah tidak ditemukan. Namun jejak dua pabrik gula tersebut masih dapat ditemui.

Yakni diketahui dari adanya rumah dinas pegawai pabrik gula tersebut.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...