Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Pabrik Gula Tanjungmojo Kudus, Dibangun Belanda untuk Eropa

Bangunan rumah dinas karyawan Pabrik Gula Tanjungmojo di Desa Tanjungrejo, Kudus, Jawa Tengah. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus — Belanda membangun tiga pabrik gula di Kabupaten Kudus, usai kas negara menderita akibat Perang Jawa melawan Diponegoro. Salah satu pabrik gula yang dibangun yakni Pabrik Gula Tanjungmojo.

Lokasi pabrik gula ini berada masuk wilayah administrasi Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pabrik Tanjungmojo ini dibangun pada tahun 1836, setahun setelah Belanda membangun Pabrik Gula Besito di Kudus.

Pabrik Gula ini mempunyai kapasitas produksi yang besar. Karena menurut Sejarawan Kudus Edy Supratno untuk memenuhi kebutuhan pasar di Eropa saat itu.

”Pabrik Gula Tanjungmojo ini dibangun untuk memenuhi pasokan gula pasir ke Eropa,” katanya, Selasa (14/6/2022).

Menurutnya, produksi gula dari Pabrik Besito dirasa oleh Belanda belum mampu memenuhi permintaan gula pasir dari negara-negara Eropa. Sehingga dibangunlah pabrik ini.

”Permintaan gula pasir dari negara Eropa saat itu sangat tinggi. Pabrik Gula Besito belum mampu mengkover tingginya permintaan gula pasir saat itu,” sambungnya.

Baca: Sejarah Pabrik Gula Besito, Pabrik Gula Pertama di Kudus

Lebih lanjut, Edy memberikan bukti jika Pabrik Gula Tanjungmojo ini merupakan yang terbesar dibandingkan dengan Pabrik Gula Besito dan Pabrik Gula Rendeng yang berdiri setelahnya di tahun 1840.

Edy menjelaskan, Pabrik Gula Besito memiliki lahan tebu seluas 959 bau (satu bahu sekitar 7.000 meter persegi, red), sementara Pabrik Gula Tanjungmojo memiliki luasan tanam 2,500 bau, dan Pabrik Gula Rendeng memiliki luasan tanam 1.225 bau.

Dari luasan tanam masing-masing pabrik gula itu, berpengaruh pada besaran jumlah produk gula pasir yang dihasilkan di tahun yang sama yakni pada 1928.

Pabrik Gula Besito di tahun 1928 mampu memproduksi 8.897 ton gula pasir. Sedangkan PG Rendeng di tahun 1928 mampu memproduksi 11.152 ton gula pasir. Sementara itu, Pabrik Gula Tanjungmojo mampu menghasilkan 21.675 ton gula pasir di tahun 1928.

”Artinya di tahun yang sama, produksi gula pasir paling banyak berasal dari Pabrik Gula Tanjungmojo. Produksinya banyak karena luasan tanamnya paling besar,” ungkapnya.

Baca: Pabrik Gula di Kudus Saksi Bisu Tanam Paksa Belanda

Murianews juga menemui Ketua Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) Desa Tanjungrejo, Hadi Paryono. Dia menjelaskan, saat ini bangunan fisik Pabrik Gula Tanjungmojo sudah tidak ada.

Namun, dia memberikan informasi jika dahulu lokasi Pabrik Gula Tanjungmojo membentang dari di tiga dukuh.

”Mulai dari Dukuh Pabrik, Dukuh Patihan, dan Dukuh Banjaran di Desa Tanjungrejo,” katanya, saat ditemui di Balai Desa Tanjungrejo, Selasa (14/6/2022).

Dia juga menyampaikan pendirian Pabrik Gula Tanjungmojo ini untuk menyuplai kebutuhan gula pasir di beberapa negara di Eropa. Menurutnya, saat itu gula pasir begitu diminati.

“Pabrik Gula Tanjungmojo ini yang terbesar di Kudus. Produk gula pasirnya diekspor sampai Eropa,” pungkasnya.

Murianews menelusuri lokasi bekas Pabrik Gula Tanjungmojo. Namun, bangunan fisiknya memang sudah tidak ada. Saat ini yang tersisa hanya rumah dinas pegawai Pabrik Gula Tanjungmojo.

Bangunan rumah dinas pegawai Pabrik Gula Tanjungmojo ini saat ini masih dapat ditemui di Dukuh Banjaran dan Dukuh Pabrik. Bangunan tersebut masih kokoh berdiri.

Namun, beberapa dinding warna catnya sudah mengelupas dan memudar. Di sekitar bangunan juga ditumbuhi rumput yang begitu banyak.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...