Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Pabrik Gula di Kudus Saksi Bisu Tanam Paksa Belanda

Bekas rumah dinas pegawai Pabrik Gula Besito, Kudus, Jawa Tengah yang masih tersisa. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus — Kabupaten Kudus mempunyai sejarah keberadaan tiga pabrik gula di era Belanda. Tiga pabrik ini berjasa menopang kas Pemerintah Belanda yang terkuras setelah perang Jawa melawan Diponegoro.

Tiga pabrik gula itu yakni Pabrik Gula Besito, Pabrik Gula Tanjungmojo, dan Pabrik Gula Rendeng. Pabrik-pabrik gula ini pula menjadi saksi bisu sistem tanam paksa atau Cultuurstelsel yang diterapkan Belanda di Hindia Belanda.

Gubernur Jendral Van den Bosch adalah Gubernur Jendral untuk Hindia-Belanda (1830-1834) yang kali pertama menggagas dan menerapkan sistem tanam paksa itu.

Sistem tanam paksa ini diberlakukan untuk mengisi kas Belanda yang kosong setelah berperang melawan Diponegoro.

Diketahui, Perang Diponegoro berlangsung pada 1825 sampai 1830. Perang tersebut berlangsung selama lima tahun.

Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Sejarawan Kudus Edy Supratno saat ditemui Murianews memaparkan jika berdirinya tiga pabrik gula ini tak lepas dari upaya Belanda yang ingin mengisi kembali kasnya yang habis.

“Perang yang berlangsung selama lima tahun itu menguras kas Belanda. Maka Belanda mengambil kebijakan Cultuurstelsel atau tanam paksa,” katanya, Selasa (14/6/2022).

Dari Cultuurstelsel itu, Belanda mengekspor beragam komoditas untuk diekspor ke Eropa. Salah satunya gula.

”Kebijakan tanam paksa kan butuh pabrik juga kan. Dari situlah dibangun sejumlah pabrik gula, di anataranya tiga pabrik gula di Kudus,” ujarnya.

Baca: Selain PG Rendeng, di Kudus Ada Dua Pabrik Gula Lain yang Sempat Berjaya

Kali pertama Belanda membangun Pabrik Gula Besito pada tahun 1835. Pabrik Gula Besito ini lokasinya di Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Setahun berikutnya atau tahun 1836, Pabrik Gula Tanjungmojo dibangun di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Kemudian, Pabrik Gula Rendeng dibangun pada tahun 1840. Pabrik ini berlokasi di Desa Rendeng, Kecamatan Kota.

Ketiga pabrik tersebut mengelola lahan tebu yang yang luasnya berbeda-beda. Pabrik Gula Besito memiliki luas lahan sekitar 959 bau (satu bau sekitar 7.000 meter persegi).

Pabrik Gula Tanjungmojo memiliki luasan tanah 2.500 bau, dan Pabrik Gula Rendeng yang paling luas, yakni 1.225 bau.

Baca: Sejarah Pabrik Gula Besito, Pabrik Gula Pertama di Kudus

Kapasitas produksi pabrik gula ini cukup besar. Pada tahun 1928, Pabrik Gula Besito mmampu memproduksi 8.897 ton gula. Di tahun yang sama, Pabrik Gula Tanjungmojo mampu menghasilkan 21.675 ton gula pasir.

”Sedangkan Pabrik Gula Rendeng di tahun 1928 mampu memproduksi 11.152 ton gula,” ujarnya.

Dari tiga pabrik itulah, menurut Edy, Belanda memiliki keuntungan yang luar biasa dari gula yang diekspor ke Eropa.

”Kas Belanda yang tadinya defisit akibat Perang Diponegoro, bisa tertutup bahkan lebih-lebih dengan keberadaan tiga pabrik gula tersebut,” pungkasnya.

Dari tiga pabrik gula ini, hanya tinggal satu pabrik yang masih beroperasi hingga saat ini yakni Pabrik Gula Rendeng.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...