Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Tujuh Tokoh di Kudus yang Diabadikan Jadi Nama Jalan

Warga Melintasi Jalan Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Nama-nama jalan di Kabupaten Kudus banyak yang diambil dari nama tokoh. Nama mereka diabadaikan sebagai nama jalan, bukan tanpa sebab, tapi karena kiprah dan perjuangannya.

Sedikitnya ada tujuh tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Kabupaten Kudus, dan namanya diabadikan menjadi jalan.

1. Jalan Sunan Kudus

Tokoh pertama yang diabadikan menjadi nama jalan yakni Sunan Kudus. Lokasi Jalan Sunan Kudus berada di sebelah selatan Masjid Agung hingga ke arah barat menuju ke perempatan Jember.

Pemerhati Sejarah sekaligus Dosen Institut Agama Islam negeri (IAIN) Kudus, Moh Rosyid menjelaskan, Sunan Kudus merupakan putra dari Sunan Ngudung. Dari penjelasannya, sebelum berdakwah di Kudus, Raden Ja’far Shodiq merupakan pemimpin pasukan perang Kesultanan Demak.

”Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di Tajug (nama Kudus di era saat itu, red). Saat itu di Tajug atau Kudus masyarakat mayoritas masih memeluk agama Hindhu,” katanya, Sabtu (11/6/2022).

Moh Rosyid mengatakan, agama Hindu yang masih menjadi mayoritas dipeluk oleh warga Kudus dibuktikan dengan eksistensi bangunan bercorak Hindu. Seperti Langgar Bubrah, ornamen-ornamen di dinding bagian dalam Masjid Langgardalem di Desa Langgardalem, dan dua pintu gapura bercorak Hindu di area Menara Kudus.

“Sunan Kudus termasuk orang yang sakti dan sering dijadikan sebagai tempat bertanya. Istilahnya sebagai pinisepuh,” ujarnya.

2. Jalan Sunan Muria

Kemudian ada Sunan Muria. Nama ini juga ditetapkan sebagai nama jalan. Lokasinya di kawasan sekitar SMPN 1 Kudus.

Sunan Muria atau Raden Umar Said merupakan salah satu Walisongo, yang berdakwah di sekitar kawasan Gunung Muria. Makam Sunan Muria selalu ramai dikunjungi peziarah.

”Hal ini dibuktikan dengan adanya Masjid Sunan Muria. Kehidupan beliau juga di pegunungan sekitar Muria,” ujarnya.

3. Jalan Habib Ja’far Alkaff

Nama tokoh lainnya yang dijadikan nama jalan di Kudus yakni Habib Ja’far Alkaff.

Lokasi Jalan Habib Ja’far Al Kaff berada di sebelah utara Masjid Agung Kudus. Jalan ini dulunya bernama Jalan Masjid.

Perubahan nama jalan itu dilakukan bertepatan dengan HUT ke-472 Kabupaten Kudus pada Kamis 23 September 2021.

Habib Ja’far disebut-sebut sebagai Allah yang memiliki maqam majdub atau wali jadzab. Atau bisa diartikan sebagai sebuah keistimewaan yang diberikan oleh Allah bahkan ketika dia masih berada di kandungan ibunya.

”Habib Ja’far merupakan tokoh muslim di Kudus. Beliau merupakan trah habaib,” jelasnya.

Baca: Kisah Habib Ja’far Alkaff, Wali yang Restunya Diburu Pejabat

Setelah tutup usia, Jenazah Habib Ja’far Alkaff dikebumikan di Pemakaman Islam Ploso, Kudus, Jawa Tengah pada Sabtu (2/12/2021). Lokasi makam Habib Ja’far berada di samping makam sang ayah, Habib Muhammad Alkaff.

4. Jalan Sosrokartono

Penggunaan nama tokoh sebagai nama jalan di Kudus juga mengambil dari nama Sosrokartono. Jalan ini lokasinya berada di kawasan Makam Kaliputu, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Sosrokartono memiliki nama lengkap Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono. Sosrokartono merupakan putra Bupati Jepara Raden Mas Ario Sosrodiningrat.

RM Panji Sosrokartono lahir di Mayong, Kabupaten Jepara, 10 April 1877. Ia merupakan kakak RA Kartini, dan dikenal sebagai wartawan perang yang menguasai berbagai macam bahasa.

Bahkan dikabarkan ia menguasai lebih dari 35 bahasa. Ia juga menjadi putra Indonesia pertama yang melanjutkan pendidikan di Belanda.

”Masa muda beliau banyak dihabiskan di luar negeri. Beliau orang Indonesia pertama yang kuliah di Belanda,” jelas dia.

Baca: Sosrokartono, Wartawan Perang Jenius Putra Bupati Jepara

Lebih lanjut, setelah menempuh studi di Belanda, Sosrokartono kemudian kembali ke Indonesia. Tepatnya di Bandung, Jawa Barat.

Sosrokartono memang tidak berasal dari Kabupaten Kudus. Namun ia dimakamkan di Pesaeran Sedo Moekti yang berada di Kaliputu Kudus.

“Beliau menetap di Bandung dan menjadi mitra diskusi Bung Karno. Tidak banyak kiprah beliau di Kudus, karena memang jarang menghabiskan waktu di Kudus. Setelah wafat beliau dimakamkan di Pesarean Sedo Moekti, Kaliputu Kudus,” imbuhnya.

 

Plang nama Jalan Nitisemito, Kudus, Jawa Tengah. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

5. Jalan Nitisemito

Selanjutnya, ada nama Jalan Nitisemito. Lokasi Jalan Nitisemito berada di kawasan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kudus.

Penamaan Jalan Nitisemito ini diambil dari nama pengusaha rokok di Kudus yang bernama Nitisemito. Dia mendapat sebutan Raja Kretek dengan merek rokok Bal Tiga.

“Nitisemito merupakan orang asli Kudus yang sukses mengembangkan usaha rokok,” jelas Moh Rosyid.

Baca: Menengok Sejarah Kretek di Kudus, Bermula dari Obat Sesak Napas Haji Djamhari

Peninggalan Nitisemito masih dapat dilihat hingga kini. Salah satunya Omah Kembar yang terletak di Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

“Peninggalan beliau juga banyak yang disimpan di Museum Kretek,” imbuhnya.

6. Jalan HM Subchan ZE

Kemudian ada Jalan HM Subchan ZE. Ruas jalan ini berada di kawasan kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus hingga ke utara menuju ke arah perempatan Jember, Kudus.

HM Subchan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPRS dan dikabarkan sering mengkitisi Soekarno.

“HM Subchan itu dia tokoh muda Nahdlatul Ulama. Beliau wafatnya di Makkah,” ujarnya.

Subchan ZE lahir di Kepanjen, Malang Selatan, 22 Mei 1931. Tumbuh di lingkungan santri di Kudus.

Anak keempat dari 13 bersaudara. Ayahnya H Rochlan Ismail, adalah mubaligh, pedagang, dan pengurus Muhammadiyah di Malang.

Baca: Subchan ZE, Pemilik Nama Jalan di Kudus yang Meninggal Misterius Usai Kritik Soeharto

Sedangkan ibunya pengurus Aisyiyah. Sewaktu kecil dia diangkat anak oleh pamannya, H Zaenuri Echsan, seorang pengusaha rokok kretek asal Kudus. Nama Zaenuri kemudian disematkan dibelakang nama Subchan.

7. Jalan dr Lukmono Hadi

Nama jalan ini diambil dari nama dr Loekmono Hadi yang juga dijadikan nama RSUD Kudus. Loekmono Hadi merupakan pribumi pertama yang memimpin rumah sakit di Kabupaten Kudus saat masa penjajahan.

Loekmono Hadi sangat berperan dalam membantu para korban melakukan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947 di Kudus.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...