Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Tugas Agung Kaum Santri

Hermansyah Kahir *)

ADA sebuah buku menarik yang saya baca di semester awal tahun 2022 ini. Buku tersebut berjudul Jihad Keilmuan dan Kebangsaa Pesantren, yang ditulis oleh Jamal Ma’mur Asnawi—seorang aktivis Nahdlatul Ulama asal Pati.

Secara khusus buku itu mengulas peran santri dalam semua aspek kehidupan. Salah satu pembahasan yang saya baca berulang-ulang adalah tugas agung seorang santri. Menurutnya, seorang santri memiliki dua tugas agung, yaitu mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin) dan membimbing masyarakat menuju jalan yang benar.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tugas utamanya adalah mendidik para santrinya dengan materi keagamaan. Selama ini santri memang dikenal di kalangan masyarakat sebagai sosok yang memiliki wawasan keagamaan yang jarang dimiliki oleh mereka yang tak pernah mencicipi sistem pendidikan pesantren.

Sebagai benteng akidah Ahlussunah Wal Jama’ah, santri dituntut memiliki pemahaman agama yang kuat (tafaqquh fiddin) sehingga ia mampu merespons berbagai persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, kaum santri tak boleh setengah-setengah dalam mempelajari ilmu agama.

Ilmu agama merupakan perkara yang agung di mana dengan ilmu tersebut seseorang bisa memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat. Semua yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikrullah serta orang yang berdzikir, orang yang berilmu agama dan orang yang mengajarkan ilmu agama” (HR. At-Tirmidzi).

Kaum santri perlu memperkuat diri dengan ilmu keislaman seperti akidah, akhlak, ulum Alquran, hadis, bahasa Arab, fikih, dan ilmu keislaman lainnya yang bisa mengantarkan dirinya menjadi pribadi yang tafaqquh fiddin.

Tentu saja, untuk memaksimalkan perannya kaum santri perlu membekali diri dengan ilmu di luar keislaman tadi. Misalnya, santri perlu juga belajar sains dan teknologi.

Menyelesaiakan Persoalan Umat

Dalam konteks mempelajari ilmu agama, seorang santri tidak boleh asal-asalan memilih guru atau pondok pesantren. Carilah guru yang jelas sanad keilmuannya. Jangan belajar ilmu agama dari sembarang orang. Karena itu, sebelum memutuskan diri untuk nyantri, selektiflah dalam mencari pondok pesantren. Sebab, kalau sampai salah mempelajari ilmu agama akibatnya akan sangat fatal.

Tugas kedua seorang santri adalah mendidik dan membimbing masyarakat ke jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Tugas ini menuntut kaum santri untuk mempraktikkan secara langsung ilmu-ilmu yang diperoleh dari pesantren. Ini merupakan tantangan, apakah seorang santri bisa berkontribusi positif untuk kemaslahatan umat atau justru sebaliknya.

Di tengah masyarakat inilah seorang santri diharapkan bisa menebar kebaikan sesuai keilmuan dan kemampuan yang dimilikinya. Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kebaikan santri tidak dilihat saat mondok, melainkan di kehidupan saat menjadi alumni.

Mengamalkan ilmu dan menebar kebaikan kepada orang lain menjadi bagian penting yang mesti dilakukan. Setelah lulus dari pondok pesantren, seorang santri berkewajiban mengamalkan ilmunya untuk kepentingan umat.

Santri tidak boleh berdiam diri menyaksikan ketidakadilan dan penyimpangan di tengah-tengah masyarakat. Dengan ilmu yang dimilikinya, kaum santri harus menjadi obor di tengah kegelapan. Santri harus terdepan dalam menyelesaikan persoalan umat.

Jangan sampai kita menjadi santri yang hanya pandai berteori tapi miskin amal. Ilmu tanpa amal itu seperti pohon yang tak berbuah. Buah dari ilmu itu adalah amal.

Malik bin Dinar berkata, jika seorang hamba mempelajari suatu ilmu dengan tujuan untuk diamalkan, maka ilmu itu akan membuatnya semakin merunduk. Namun, jika seseorang mempelajari ilmu bukan untuk diamalkan, maka itu hanya akan membuatnya semakin sombong (berbangga diri).

Saat ini kita hidup di era yang penuh dengan berbagai tantangan. Karenanya, kaum santri sedari awal harus mempersiapkan diri dengan bekal terbaiknya.

Sebelum terjun ke masyarakat, santri harus memiliki ilmu agama yang mumpuni sehingga dengan ilmu tersebut ia mampu mendidik dan membimbing masyarakat ke jalan kebaikan. Wallahu a’lam bish shawab. (*)

 

*) Belajar di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan (2004-2006)

Comments
Loading...