Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Cerita Tukang Becak Grobogan Bertahan di Tengah Kehadiran Ojek Online

Cerita Tukang Becak Grobogan Bertahan di Tengah Kehadiran Ojek Online
Darmadi, salah satu tukang becak di Purwodadi yang terus bertahan di tengah Pandemi. (Murianews/Saiful Anwar)

MURIANEWS, Grobogan – Tukang becak masih ditemui di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Mereka masih bertahan di tengah perkembangan teknologi transportasi. Masih banyak pula warga yang menggunakannya.

Para pengayuh becak di Grobogan ini bertahan karena beberapa faktor. Salah satunya, karena memang tak punya keahlian lain untuk menopang ekonomi keluarga.

Salah satunya, Darmadi (65). Tukang becak yang mangkal di depan kantor BPPKAD Grobogan ini mengaku tak punya keahlian lain.

Baca: Lagi Santuy, Tukang Becak di Grobogan Ini Ketiban Minyak Goreng

Sudah 35 tahun lamanya atau sejak 1977 ia menggeluti profesi sebagai pengayuh becak. Dulunya, ia sempat menjadi kuli banguunan. Namun, sudah tak lagi kuat.

”Tapi ya mau bagaimana lagi, bisanya cuma ini. Mau jadi ngaduk semen (jadi kuli, red) sudah tidak kuat,” kata bapak dua anak itu.

Beruntung, anak-anaknya yang bekerja di luar Jawa masih mengirimi uang untuk kebutuhannya. Sebab, ia tak punya tabungan sendiri.

Warga kampung Kebondalem, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan itu mengaku selalu menyisihkan Rp 5 ribu dari hasilnya menarik becak. Selain untuk makan sehari-hari, uang yang dikumpulkan itu untuk merawat becaknya.

”Kalau karatan biasanya penumpang tidak mau. Jadi harus selalu dicat ulang, diganti bannya. Dua tahun sekali ini pasti saya ganti bannya,” kata dia.

Menurutnya, 500 orang pengayuh becak di Grobogan tersebar di beberapa lokasi. Meski banyak yang berprofesi sebagai pengayuh becak, ternyata mereka tak dikumpulkan dalam sebuah paguyuban.

Alasan tak punya ketrampilan lain juga diakui Mat Khoironi, pengayuh becak yang mangkal di Kawasan Simpang Lima Purwodadi. Akibatnya, ia pun tak bisa berbuat banyak saat pandemi datang. Pendapatannya sampai turun drastis.

Tak hanya pandemi yang membuat pendapatannya turun. Kemajuan teknologi di dunia transportasi seperti ojek online juga membuat penumpangnya berkurang.

”Seminggu pernah hanya dapat Rp 50 ribu. Itu benar-benar yang paling sepi,” ujarnya.

Untuk menopang ekonomi keluarganya, ia mengandalkan istrinya yang berjualan sayur di Pasar Agro. Ia pun tak begitu merisaukan kalau tak mendapat penumpang.

Alhamdulillah, istri jualan di pasar. Jadi kalau lagi sepi penumpang ya masih ada penghasilan,” kata bapak empat anak itu.

Sepi penumpang sudah bisa dihadapinya. Bahkan, dia pernah tidak dibayar penumpangnya. Ia juga pernah coba pindah tempat mangkal. Namun, hasilnya juga tak memuaskan.

”Pernah pindah ke Pasar Agro, tapi malah disuruh nunggu setelah penumpang masuk pasar. Saya tunggu-tunggu tidak kembali (dan tidak dibayar, red),” ungkapnya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...