Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Tiga Hari, 21 Sapi di Sragen Sembuh dari PMK

Ternak sapi diperiksa apakah terpapar virus PMK atau tidak. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Sragen — Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen mencatat ada 21 sapi yang semula terjangkit virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sembuh dalam kurun waktu tiga hari terakhir.

Ke-21 sapi tersebut tersebar di beberapa wilayah Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen. Dengan hasil tersebut tak ada lagi kasus PMK di Gondang yang membuat kecamatan ini beralih dari zona merah ke zona hijau.

Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Sragen, drh Toto Sukarno mengatakan, cepatnya hewan PMK yang sembuh tersebut karena data yang masuk ke dinas terbilang terlambat. Selain itu, hewan-hewan tersebut telah menjalani masa inkubasi selama 10 hari.

”Petugas di Gondang itu tidak melaporkan begitu ada kasus PMK. Justru yang melaporkan warga lain. Disnakkan baru mendapat informasi adanya kasus PMK saat sapi-sapi itu hampir sembuh. Karena itu, dalam waktu tiga hari sudah bisa sembuh,” katanya seperti dikutip Solopos.com.

Dia menerangkan selain Gondang, seluruh kecamatan (19 dari 20 kecamatan) di Sragen masih berstatus zona merah PMK. Kasus tertinggi masih di Kedawung dengan jumlah sapi yang terserang PMK sebanyak 52 ekor, disusul Sumberlawang dengan 43 ekor, dan Sambungmacan ada 35 kasus. Jumlah kasus di kecamatan lainnya sebanyak 32 ekor ke bawah.

Hingga Rabu malam, jumlah kasus PMK di Sragen menyerang 430 ekor sapi dengan 104 ekor di antaranya dinyatakan sembuh. Kasus aktif PMK di Sragen kini ada 296 ekor dan 39 ekor di antaranya merupakan kasus baru.

Sementara gerakan penyemprotan disinfektan massal di kandang-kandang ternak akan kembali dilakukan pada Jumat (10/6/2022). Gerakan ini melibatkan aparat TNI dan kepolisian.

“Setiap kecamatan membutuhkan disinfektan sampai lima liter sehingga kalau penyemprotan dilakukan di 20 kecamatan maka membutuhkan 100 liter disinfektan,” ujar Toto.

Ia menerangkan jika para peternak mau berhenti sejenak membolisasi hewan ternaknya maka kasus PMK ini bisa segera reda. Pada kenyataannya, lanjut Toto, masih banyak pedagang yang menjual ternaknya bukan di kandang ternak, namun di tempat lain secara sembunyi-sembunyi. Sehingga ada mobilisasi ternak.

“Di Tanon pernah ada laporan masyarakat kemudian kami berkoordinasi dengan Polsek Tanon untuk membubarkan. Pernah juga berjualan di permakaman wilayah Sragen Kota juga dibubarkan aparat kepolisian,” ujarnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Comments
Loading...