Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Keluh Kesah Pengusaha Roti di Kudus saat Gandum dan Telur Mahal

Pekerja usaha roti tengah mengolah tepung gandum untuk membuat roti. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Perang antara Rusia dengan Ukraina berdampak bagi tingginya harga gandum. Tingginya harga gandum juga dipengaruhi oleh larangan ekspor gandum dari negara India.

Tak hanya itu, harga telur sebagai bahan baku roti juga mengalami kenaikan harga. Owner Roti Global, Kudus, Sugiharto mengaku merasakan dampaknya.

Sugiharto mengatakan, kesulitan ini dialaminya sejak sebulan terakhir. Sebab, harga gandum mengalami kenaikan.

“Harga gandum naik. Gandum merek Payung satu sack-nya (25 Kilogram, red) dari yang awalnya seharga Rp 140 ribu sekarang jadi Rp 210 per sack-nya,” katanya, Rabu (8/6/2022).

Menurutnya, gandum merek lainnya juga mengalami kenaikan harga. Dia menjelaskan, harga gandum merek Cakra dari yang sebelumnya Rp 180 ribu, saat ini menyentuh Rp 243 ribu per sack-nya (25 Kilogram).

Baca: Harga Telur di Kudus Capai Rp 30 Ribu, Pedagang Mengeluh

Menurutnya, naiknya harga gandum tersebut tergolong drastis. Dari pengalamannya berjualan roti sejak 2012, harga gandum tidak pernah naik hingga seperti sekarang ini.

Lebih lanjut, kondisinya diperparah dengan naiknya harga telur. Sebelum ada kenaikan, dia menyebut harga telur masih di harga Rp 140 ribu per 10 kilogram atau satu kerat.

Imbas kenaikan bahan baku pembuatan roti itu berdampak bagi omzetnya. Yakni turun hingga 30 persen. “Sangat terasa bagi saya. Omzet saya sampai turun 30 persen,” ungkapnya.

Ia pun terpaksa mengurangi jumlah produksi hingga 30 persen. Pengurangan produksi dilakukanya dengan tujuan usahanya dapat terus eksis di tengah tingginya harga gandum.

Sebab, dia tidak mungkin mengambil langkah lain seperti mengurangi ukuran roti buatannya.

“Kalau ukuran rotinya yang saya kecilkan, nanti pelanggan saya lari. Jadi lebih baik saya ambil langkah mengurangi jumlah produksi saja,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat ini hanya menghabiskan 100 kilogram gandum. Jumlah tersebut lebih sedikit dari yang biasanya dia menghabiskan 150 kilogram.

Baca: India Larang Ekspor Gandum, Apindo Kudus Khawatirkan Dampak di Dalam Negeri

Pemakaian telur juga dikurangi. Hal ini mengingat harga telur juga tinggi sebesar Rp 30 ribu per kilogramnya.

“Pemakaian telur juga saya kurangi. Dari yang dulunya enam kerat, sekarang saya hanya gunakan dua kerat telur saja. Satu kerat telur isinya 25 kilogram,” sambungnya.

Dia berharap pemerintah dapat menyiasati atau mencari jalan keluar adanya kenaikan harga gandum dan telur ini. Sehingga pembuat roti seperti dirinya dapat mempertahankan usahanya.

“Keinginan saya ya pemerintah bisa menemukan solusi permasalahan ini. Supaya bahan baku pembuatan roti tetap ada dan tentunya dengan harga yang stabil,” pungkasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.