Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Luasan Hutan Mangrove Pati Dinilai Belum Ideal

Hutan Mangrove Penahan Gelombang di Pati Belum Ideal
Hutan mangrove di kawasan konservasi mangrove Pantai Kertomulyo, Kabupaten Pati. (Murianews/Istimewa)

MURIANEWS, Pati – Keberadaan hutan mangrove sebagai green belt atau sabuk hijau penahan gelombang di pesisir pantai Kabupaten Pati dinilai masih belum ideal.

Saat ini, luasan hutan mangrove di pesisir Pati, baru 300 hektare. Angka itu baru separuh dari jumlah idealnya, yakni 600 hektare.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pati, Edy Martanto mengungkapkan luasan ideal hutan mangrove itu bedasarkan panjang garis pantai Kabupaten Pati.

Baca: 10 Ribu Mangrove Ditanam di Pantai Cinta Pati

Garis pantai Kabupaten Pati sendiri mencapai 60 km. Sedangkan kebutuhan lebar atau ketebalan mangrove paling tidak mencapai 10 meter untuk melindungi bibir pantai dari terpaan gelombang laut.

“Kami ingin mewujudkan green belt dari Pencangaan sampai Puncel, nyambung gitu. Jadi kami berharap akan berwujud green belt. Kita harapkan seperti itu. Karena sampai saat ini luas tambak kita, mangrove kita hanya sekitar 300 hektare. Kalau 300 hektare rata-rata lebarnya sepuluh meter, baru separonya,” ujarnya.

Kurangnya hutan mangrove ini terbukti membuat kerugian dari gelombang tinggi dan rob semakin tinggi. Ini dikarenakan air laut langsung menerjang tambak dan rumah-rumah warga.

Lebih dari 2000 tambak ikan diterjang gelombang tinggi. Sementara tambak yang tidak terlalu terdampak parah merupakan tambak yang dekat dengan hutan mangrove.

Green belt nanti fungsinya kayak tanggul pantai, kalau ada gelombang saat ini bisa dihalangi dulu oleh tanaman mangrove. Saat ini kelihatan sekali manfaat tanaman mangrove ini. Kalau yang mangrovenya tebal tambaknya aman, terkena tapi gak parah, kelihatan itu,” ujarnya.

Ia mengatakan kurangnya hutan mangrove ini masih menjadi pekerjaan rumah. Edy berharap masyarakat dan pihak-pihak terkait ikut bekerja sama membangun sabuk hijau agar bencana gelombang tinggi tidak terulang lagi.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.