Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Bunuh Diri Masih Sering Terjadi di Grobogan, Ini Kata Psikolog RSUD Purwodadi

Bunuh Diri Masih Sering Terjadi di Grobogan, Ini Kata Psikolog RSUD Purwodadi
ILUSTRASI

MURIANEWS, Grobogan – Peristiwa orang nekat mengakhiri hidup atau bunuh diri masih sering terjadi di Kabupaten Grobogan. Dalam empat hari terakhir saja sudah ada tiga insiden itu.

Psikolog dari RSUD dr Raden Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, Kabupaten Grobogan Tjiptati Noegrahani angkat bicara terkait banyaknya kasus bunuh diri itu.

Menurutnya, semua orang berpotensi melakukan bunuh diri. Sebab, semua orang pastinya menghadapi masalah yang beragam.

Baca: Diduga Depresi Pisah dari Istri, Warga Nglobar Grobogan Gantung Diri

Psikolog yang akrab disapa Tetty menyebut ada dua cara yang dipilih dalam menghadapi masalah. Yakni cara yang baik dan buruk. Dan bunuh diri merupakan cara yang buruk.

“Penyelesaian negatif ya bunuh diri itu. Semua orang punya potensi melakukan bunuh diri,” kata Tetty.

Dijelaskan, aksi bunuh diri, 90 persen di antaranya memiliki latar belakang masalah gangguan mental, yakni kecemasan, ketergantungan obat, Skizofrenia (gangguan kejiwaan kronis, red), bipolar (perubahan drastis suasana hati, red) hingga depresi.

Depresi, kata Tetty, juga didukung karena adanya tekanan dari lingkungan sosial yang pelaku bunuh diri tidak mampu menyesuaikan diri. Selain itu juga adanya faktor internal tentang pandangan negatif pada diri dan masa depan.

“Sehingga muncul rasa frustasi yang diwujudkan dengan percobaan atau perilaku bunuh diri,” tambahnya.

Tetty menyebut, tidak ada penyebab tunggal dan penyebab pasti orang melakukan bunuh diri. Pemikiran bunuh diri seringkali muncul karena tekanan-tekanan yang datang melebihi batas kemampuan seseorang mengendalikan tekanan tersebut.

“Sehingga mempengaruhi kondisi kesehatan jiwa yang bisa menciptakan rasa putus asa,” jelasnya.

Apakah pemikiran bunuh diri bisa dicegah? Bisa. Menurut Tetty ada tiga cara untuk mencegahnya.

Pertama, psikoterapi dengan psikiater atau psikolog. Kedua, memberikan obat-obatan sesuai yang dibutuhkan.

“Ketiga, dukungan dan bimbingan dari keluarga dengan meningkatkan komunikasi untuk memecahkan masalah. Secara spiritual, keluarga juga bisa mengarahkan,” pungkasnya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.