Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kisah Kelompok Barongan Desa Bucu Jepara Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Kisah Kelompok Barongan Desa Bucu Jepara Bertahan di Tengah Gempuran Zaman
Kelompok Barongan Turonggo Budoyo saat pentas di hajatan waga di Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Jepara. (Murianews/Istimewa)

MURIANEWS, Jepara – Barongan Turonggo Budoyo merupakan satu di antara sejumlah kelompok kesenian di Kabupaten Jepara yang masih bertahan dari gempuran kemajuan zaman.

Kelompok kesenian di Desa Bucu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah itu dipimpin Karnawi (65) warga setempat. Grup ini lahir desa dengan letak di lereng Gunung Muria pada 1970.

Hingga kini, Barongan Turonggo Budoyo masih lestari di tengah-tangah masyarakat, baik itu di Desa Bucu sendiri maupun di desa-desa lain.

Baca: Barongan Kemiri, Kesenian Khas Pati yang Dipercaya Bisa Tolak Bala

“Kami pentas pada tanggapan dari desa ke desa. Dari dulu sampai sekarang,” kata Karnawi, saat pentas di Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Jepara, Jumat (27/5/2022) malam.

Karnawi menceritakan, kelompok seni tradisional ini lahir dari keluarga. Nama kelompoknya tak pernah berubah.

“Awalnya sembilan pemain. Isinya dari keluarga dan masyarakat sekitar. Sekarang yang aktif sudah 25 orang. Mayoritas sudah sepuh,” jelas Karnawi.

Ada dua barongan yang menjadi khas dan keunggulan kelompok milik Karnawi itu. Pertama yaitu Barongan Turonggo Budoyo. Sedangkan yang kedua yaitu Barongan Darmo Kliwon.

“Barongan Darmo Kliwon itu, saya buat langsung di hutan,” ujar Karnawi.

Karena terlahir dari keluarga, kelompok Barongan Turonggo Budoyo itu tumbuh secara turun temurun. Kini, Karnawi mulai mendidik anak-anak di sekitarnya untuk mencintai kesenian barongan untuk melanjutkan warisan budaya itu.

Karnawi yakin Barongan Turonggo Budoyo terus hidup dan tidak punah. Sebab, secara kemandirian, kelompok seni tradisional ini sudah cukup kuat.

Bahkan, pada satu waktu, ketika sanggar tak punya gong, Karnawi tidak berpikir untuk memotong bayaran para pemain. Dirinya justru memilih menyewa gong dari orang lain.

“Hingga saat ini tidak sepeserpun anggota ditarik iuran untuk keperluan sanggar,” pungkas Karnawi.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...