Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Dalang, Pecel, Cerita

Bandung Mawardi*)

MEI mengingatkan Soeharto. Ingatan gegeran dan keberakhiran rezim Orde Baru. Puluhan tahun, orang-orang mengingat Mei dengan “kebangunan” dan “kebangkitan”. Pada 1998, Mei pun memuat lakon “kejatuhan.

Kini, kita mengingat lagi tapi tak melulu Soeharto. Kita mendingan mengingat Harmoko (7 Februari 1939-4 Juli 2021). Sosok penting dalam “menerangkan” Orde Baru dengan bahasa memikat dan “kesantunan” politik. Pada masa Orde Baru, Harmoko masuk daftar (ter)penting bagi laju pembangunan nasional.

Dulu, hari-hari Indonesia terhindar sepi gara-gara ketekunan Harmoko berbagi omongan kepada jutaan orang. Beliau memang menempatkan diri sebagai “juru penerang” dan “juru cerita” agar Indonesia maju dan berbahagia.

Orang-orang jenuh dan sebal memberi sinis mengartikan Indonesia disusun dari omongan-omongan bertokoh Harmoko. Pada masa lalu, sinis itu mungkin menabrak kesopanan saat orang-orang beranggapan “hari-hari omong kosong”. Kita boleh membiarkan atau meralat setelah suntuk membuka sejarah dan membaca biografi sang tokoh.

Di majalah Jakarta Jakarta, 10-16 Februari 1990, penjelasan Harmoko berurusan nama: “Harmoko itu berasal dari ‘har’ dan ‘moko’. Har itu dari kata ‘her’ yang berarti air. ‘Moko’ itu muka. Jadi, air muka.” Penjelasan itu dibuat oleh Harmoko, bukan orang tua selaku pemberi nama.

Selama puluhan tahun, nama itu moncer dalam pers dan politik. Harmoko membentuk biografi dengan kesungguhan, bermula dari miskin dan sulit. Ia dianggap pembukti filsafat “pemanjat pohon”, bukan “peloncat pagar”. Konon, penilaian diberikan mengacu babak-babak profesi dan “kekuasaan” diraih Harmoko. Dulu, ia menjadi wartawan, orang terpenting di PWI, menteri, memimpin “beringin”, dan pengisah MPR.

Pada masa bocah, Harmoko keranjingan bacaan. Kenangan saat terbiasa disuruh oleh mas membaca koran bekas atau sobekan koran: “Saya disuruh membacakannya di gardu kepada orang-orang desa yang saya tahu mereka buta huruf. Ketika itu saya sudah punya idaman. Nanti kalau sudah besar saya ingin kerja di koran.” Si bocah itu mungkin mesem berimajinasi kelak menjadi wartawan. Imajinasi malah bergerak jauh. Ia pun berada di kekuasaan.

Di biografi Harmoko, ia pernah bertumbuh di Solo. Dulu, Solo sering diakui sebagai kota penting dalam sejarah dan kelanggengan Orde Baru. Pada masa remaja, Harmoko di Solo.

Kita simak pengakuan: “Sejak kelas dua SMP, saya sudah bisa mendalang. Pertama pagelaran di Alun-Alun Utara Solo. Karena waktu itu saya jadi anggota Himpunan Budaya Surakarta (HBS). Saya waktu itu yang termuda. Dalam usia muda itu saya pernah mendalang semalam suntuk.” Pada babak sebelum menjadi wartawan, ia menjadi dalang. Kita mengandaikan ia mahir bercerita dan memikat publik dengan tutur-bahasa berpijak kejawaan.

Pada masa berbeda saat Harmoko sudah kondang. Kesalahan terjadi saat mendalang. Kejadian di Solo, 1995. Di majalah Gatra, 9 September 1995, kita mengutip: “… Harmoko pun kemudian mengadakan konferensi pers di Istana Merdeka, seusai menemui Presiden Soeharto. Kepada pers, ia mengaku membuat kesalahan, kekhilafan, dan kealpaan, ketika membuat Festival Greget Dalang 1995 di Solo. Harmoko pun meminta maaf. ‘Yang pertama kepada Tuhan Yang Mahaesa, dan kedua kepada umat Islam,’ ujarnya dengan suara bergetar. Ia menandaskan pula, peristiwa itu terjadi secara tak sengaja. ‘Niat saya baik,’ katanya. Peristiwa itu tampaknya begitu memukul Harmoko, wajahnya murung, matanya berkaca-kaca.”

Sejak 1983, ia mulai dekat dengan Soeharto. Kedekatan dimulai dengan panggilan lewat telepon. Kita mengingat tata cara Soeharto menghubungi tokoh-tokoh untuk menjadi menteri. Telepon terlalu menentukan alur Orde Baru.

Harmoko pun berurusan telepon untuk menunaikan misi-misi besar dalam kabinet. Tahun-tahun dialami sebagai menteri. Harmoko makin dekat dan mengerti Soeharto.

Di hadapan publik, ia mengemban tugas-tugas besar. Ia pun sadar posisi dan situasi kekuasaan. Orang-orang masa lalu mengetahui kata-kata terampuh diucapkan Harmoko: “Petunjuk Bapak Presiden”.

Di majalah Jakarta Jakarta, Harmoko menjelaskan peran menteri itu “pembantu” bagi “bapak”. Keharusan untuk menjelaskan “petunjuk”. Kaum masa lalu juga mengingat Harmoko dengan “sambung rasa”.

Di keseharian, Harmoko tak selalu berpidato dengan kata-kata turut membentuk lakon besar Orde Baru. Ia memerlukan makan. Harmoko mengaku sebagai penggemar pecel. Makanan membuat hari-hari membahagiakan.

Kita membuka majalah Femina, 9-15 Februari 1995: “Sejak kecil saya menyukai pecel dan sampai sekarang menu itu sering hadir. Dalam seminggu bisa 3 sampai 4 kali. Pecel bagi saya makanan yang sangat sehat. Ada sayurannya dan banyak proteinnya. Saya juga senang tahu dna tempe.”

Kita beranggapan Harmoko dan keluarga menerapkan seruan Soeharto: “hidup sederhana”. Sikap sederhana dibuktikan lagi dengan kepemilikan sepatu. Selama lima tahun, sepatu itu tak pernah diganti. Sepatu rusak cukup ganti sol.

Harmoko menjadi panutan

Sosok dihormati pada masa Orde Baru. Penghormatan berubah menjadi omelan, ejekan, dan cacian dalam kecamuk sejarah 1998. Harmoko tak lagi berada di kekuasaan tapi tetap tokoh terkenang. Ia tercatat sebagai sosok turut menentukan “pelanggengan” kekuasaan Soeharto saat makin tua.

Kita sejenak mampir ke buku berjudul 50 Tahun Harmoko: Menatap dengan Mata dan Hati Rakyat (1989). Kita ingin mengingat hal-hal di luar politik. Harmoko itu pencerita. Pada saat berada di Solo dan bergabung dengan HBS, Harmoko kadang menggubah cerita.

Kita mengutip dampak pergaulan bersama pengarang atau seniman: “Sejak itu, Harmoko mengirimkan cerpen atau tulisan berbahasa Jawa ke majalah Panjebar Semangat terbitan Surabaya. Tetapi untuk pertama kali dalam bahasa Indonesia, Harmoko menulis sebuah cerpen anak-anak di majalah Teruna, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, pimpinan Pak Hasan Sutisna.”

Pada masa dewasa, ia menjadi “pencerita” Indonesia. Kita menikmati cerita dengan beragam tafsir. Harmoko menjadikan Indonesia bergelimang berita dan cerita. Kita saja kewalahan untuk mengumpulkan dan mengingat. Orde Baru dan tokoh itu berlalu tapi kita berhak mengenak meski sejenak. Begitu. (*)

 

*) Kuncen di Bilik Literasi (Solo)

Comments
Loading...