Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ingin Tebus ke Pemenang Lelang, Pemilik Rumah Mewah di Kudus Ngaku Dimintai Segini

Nuryanto pemilik rumah mewah yang dieksekusi pengadilan memperlihatkan kuitansi DP pembelian rumah kembali sebelum dieksekusi. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Nuryanto pemilik lama rumah mewah di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus yang dieksekusi Pengadilan Negeri (PN) Kudus Rabu (25/5/2022) buka suara. Ia mengaku sempat ditawari untuk membeli ulang rumah itu ke pemenang lelang, agar rumahnya tak dieksekusi.

Awalnya, Nuryanto mengambil pinjaman atau utang di Bank CNB senilai Rp 200 juta dengan agunan lahan seluas 1.490 meter persegi itu. Setiap bulannya Nuryanto mengangsur sekitar Rp 5,5 juta dan telah diangsur selama sembilan kali.

“Sudah saya angsur sembilan kali, setelah itu saya kolaps dan telat pembayaran,” katanya, Jumat (27/5/2022) sore.

Dalam perjalananya, sekitar tahun 2015 dia mendapat kabar dari pengadilan bahwa rumah dan lahannya yang digunakan sebagai agunan itu telah dilelang.

Pemenangnya adalah Herry Prayitno warga Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Baca: Tegang Saat Eksekusi, Rumah Mewah di Kudus Ini Dilelang Rp 275 Juta

Setelah itu, dia diajak ke rumah seseorang yang bernama Imam. Di sana ia bertemu pemenang lelang, dia ditawari untuk rumahnya untuk dibelinya kembali dengan harga Rp 400 juta. Namun saat itu, dia tak memiliki uang sebanyak itu.

“Beberapa hari setelahnya saya ditelepon. Rumah saya tidak dieksekusi atau tidak jadi dijual dengan syarat malam itu harus ada Rp 50 juta untuk DP beli kembali rumah.  Awalnya ditawarkan Rp 400 juta akhirnya turun Rp 350 juta,” ucapnya.

Malam harinya dia memberikan uang Rp 50 juta kepada Herry yang juga didampingi Imam.

Kemudian, kakaknya yang bernama Winarsih, beberapa waktu setelahnya juga memberikan tambahan DP sebesar Rp 10 juta dan Rp 2 juta Imam. Transaksi itu juga dibuktikan dengan kuitansi tertanggal 29/2/2016, 18/6/2016, dan 29/7/2016.

“Keperluannya sama, DP beli rumah supaya tidak dieksekusi. Karena ketakutan kalau mau dieksekusi, akhirnya kakak saya memberi uang tambahan DP setelah diminta,” ujarnya.

Baca: Tegang Saat Eksekusi, Rumah Mewah di Kudus Ini Dilelang Rp 275 Juta

Selain itu, proses berlangsungnya permohonan eksekusi dirasa terlalu cepat. Apalagi dalam pemanggilan mediasi pertama kali pada 21 April 2022 lalu hanya pihaknya yang hadir, saat itu pihak pemohon tak datang.

“Waktunya juga terlalu cepat, setelah itu ada surat 12 Mei 2022 peninjauan dan ada juga pemberitahuan eksekusi. Tanggal 17 Mei 2022 ada surat penundaan, dan disusul tanggal 20 Mei 2022 ada surat kembali pemberitahuan eksekusi kemarin itu,” ungkapnya.

Baca: Geger, Rumah Mantan Kepala Sekolah di Kudus Dieksekusi Setelah Dilelang Bank

Sementara Noor Said, salah satu tim kuasa hukum Nuryanto menjelaskan, pihaknya akan mempersiapkan sejumlah barang bukti untuk memproses hukum lebih lanjut dari eksekusi rumah mewah tersebut. Proses eksekusi itu dinilai tidak sesuai prosedur.

“Kami persiapkan yang matang dulu, untuk proses hukum lebih lanjut untuk semua pihak yang terlibat. Proses hukum yang kami tempuh bisa jadi gugatan, pidana, atau keduanya. Intinya kami akan ambil langkah hukum lebih lanjut,” ungkapnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...