Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Pentingnya Perspektif Lintas Budaya dalam Pendidikan

Mutohhar *)

DALAM kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), ada beberapa program yang ditujukan untuk meningkatkan pengalaman dan pelajaran terkait keragaman budaya dan toleransi antarsesama individu. Beberapa program tersebut adalah Pertukaran Mahasiswa dan Indonesian International Student Mobility (IISMA).

Program ini dianggap mampu meningkatkan dan memperkaya wawasan maupun kompetensi mahasiswa khususnya terhadap pemahaman lintas budaya. Bahkan program ini tidak hanya sebatas program nonakademik, karena program ini memiliki bobot kredit sampai 20 SKS (sistem kredit semester).

Revolusi Industri 4.0

Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa, Revolusi Industri 4.0 melibatkan komputer sebagai sarana untuk saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain dengan mengurangi keterlibatan manusia.

Pada awalnya, Revolusi Industri 4.0 ini digunakan untuk mengembangkan dunia industri saja, namun pada perkembangannya, semakin meluas pada bidang-bidang yang lain. Sehingga menjadi satu tren dalam semua lini kehidupan manusia termasuk di Indonesia.

Dengan keberadaan revolusi industri 4.0 ini, terjadi adanya perubahan cara dan gaya hidup manusia di antaranya dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Setiap saat orang disajikan dengan berbagai informasi dari segala penjuru dunia.

Namun kemudian yang menjadi permasalahan adalah banyak dari para penerima informasi tersebut yang belum memiliki tingkat literasi yang cukup dan keterampilan dalam menerima informasi yang diperoleh.

Kebanyakan yang terjadi adalah orang-orang yang menerima informasi tersebut secara mentah. Selain itu ketiadaan akan pemahaman lintas budaya seringkali menjadikan orang salah dalam menerjemahkan dan bahkan merespon informasi yang didapatkan.

Orang kemudian mudah menyalahkan, mudah tersulut emosi, dan pada akhirnya menimbulkan permasalahan yang berlanjut dan sulit terselesaikan

Society 5.0

Society 5.0 adalah sebuah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan masalah sosial dengan memasukkan inovasi teknologi, misalnya Internet of Things (IoT), Big Data, Artificial Intelligence (AI), robot, dan lainnya, ke dalam setiap industri dan kehidupan sosial. Dengan begitu diharapkan masyarakat akan mampu melakukan sebuah penyelarasan antara nilai-nilai dan inovasi secara berkelanjutan.

Society 5.0 menekankan pada adanya inovasi dan keragaman. Society 5.0 menginginkan agar setiap orang dapat menciptakan nilai kapan saja dan di mana saja, dengan rasa aman dan harmoni dengan alam. Ini disebabkan karena kondisi alam berangsur-angsur mulai terkena dampak dari isu pemanasan global.

Dalam situasi dunia yang semakin global ini, keadaan masyarakat akan semakin beragam. Bangsa Indonesia, sebagaimana sudah kita ketahui bersama, sudah sangat beragam akan budaya, bahasa, suku dan ras. Maka saat ini dan ke depannya, keberagamannya akan semakin bertambah lagi. Hal ini terbukti dengan munculnya tradisi-tradisi baru, bahasa baru, dan pola-pola kehidupan baru di masyarakat.

Tantangan bagi Dunia Pendidikan

Pendidikan sebagai pilar bangsa harus mampu menjawab tantangan ini. Pendidikan tidak bisa kita artikan secara sempit sebagai sebuah proses transfer of knowledge saja, namun harus kita kembangkan pada proses transformasi nilai dan budaya dari satu generasi ke generasi. Dengan berubahnya sistem dan pola kehidupan masyarakat, maka transformasi tersebut juga perlu disesuikan dengan kebutuhan yang ada.

Pendidikan dipandang sangat perlu untuk menyisipkan bahkan secara nyata memberikan bekal keterampilan berupa keterbukaan pola pikir (open mind) kepada para peserta didik. Dengan kata lain, peserta didik perlu dibekali mulai dari bagaimana mengakses dan menerima sesuatu yang baru, kemudian melakukan sebuah kajian terhadap hal-hal baru, dan pada akhirnya bisa memiliki satu pandangan apakah sesuatu yang baru tersebut bisa diterima secara utuh, atau justru harus diolah sehingga bisa sesuai dengan nilai-nilai yang sudah ada.

Sejauh ini, fakta di lapangan yang terjadi adalah banyak anggota masyarakat yang belum memiliki keterbukaan pola pikir apalagi perspektif lintas budaya. Ketiadaan kedua kemampuan tersebut berdampak pada ketidakmampuan orang melihat sesuatu yang terjadi.

Ukuran standar dan nilai-nilai yang dipakai untuk melihat merespon sesuatu sangat sempit dan terbatas. Sesuatu diaggap benar, manakala sesuai dengan nilai kebenaran yang dia ketahui. Mereka tidak mengetahui atau bahkan tidak paham bahwa di luar sana, banyak sekali standar kebenaran yang dipakai.

Fenomena seperti ini jika dibiarkan akan menjadi problematika bagi kehidupan masyarakat selanjutnya. Maka di sinilah pendidikan mempunyai tanggung jawab dan peran untuk menyelesaikan problematika ini.

Selain program-program yang dijalankan oleh pemerintah melalui pertukaran mahasiswa, baik dalam maupun luar negeri, lembaga sekolah melalui peran guru perlu menyisipkan keterampilan pemahaman (perspektif) lintas budaya.

Perspektif lintas budaya adalah sebuah pandangan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok terhadap individu atau kelompok lainnya dari budaya lain. Dalam situasi kehidupan yang semakin global ini, seorang individu atau kelompok semakin berpeluang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain yang berbeda.

Kemungkinan ini menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari. Sehingga respon yang tepat adalah dengan cara melihat atau memandang sesuatu dengan kacamata dan ukuran yang luas.

Lantas bagaimana peran pendidikan dalam menyisipkan sebuah ketrampilan atau kemampuan memiliki perspektif lintas budaya?

Dalam proses pembelajaran misalnya, seorang guru dituntut untuk bisa mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks yang ada. Pembelajaran ini yang kemudian dikenal dengan istilah pembelajaran kontekstual.

Pembelajaran ini menjadi salah satu cara sederhana. Bagaimana seorang guru bisa memberikan gambaran bahwa sebuah ilmu pengetahuan itu tidak bisa dilepaskan dengan konteks kenyataan di lapangan. Ilmu pengetahuan bukanlah sebuah benda yang kaku. Sehingga ketika peserta didik dihadapkan pada konteks nyata, akan terjadi berbagai temuan yang berbeda.

Ibarat air yang jernih, jika kemudiaan dijumpai pada gelas yang berwarna merah, maka air tersebut seakan-akan berwarna merah. Beda lagi ketika air jernih tersebut dijumpai pada gelas yang berwarna hitam, maka air tersebut seakan-akan berwarna hitam.

Analogi di atas setidaknya memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa terkadang kebenaran tidak bisa diukur hanya dengan menggunakan penglihatan sekilas saja, namun juga perlu penyesuaian dan adaptasi dengan lingkungan yang ada. Lingkungan di sini bisa berupa lingkungan alam, masyarakat atau lebih luas lagi budaya dan norma-norma yang berlaku.

Kesimpulan

Semenjak dimulainya era Revolusi Industri 4.0 dan diperkenalkannya Society 5.0, kehidupan masyarakat semakin berubah. Dalam kehidupan sehari-hari, dimungkinkan seorang individu melakukan interaksi dan komunikasi dengan individu lain dengan budaya yang berbeda. Interaksi tersebut bisa secara langsung tatap muka, lewat media sosial maupun satu arah saja seperti media informasi, dan lainnya.

Dalam situasi seperti ini, dibutuhkan sebuah kemampuan atau keterampilan untuk bisa saling memahami budaya lain. Sehingga pada akhirnya respon atau pandangan yang kita berikan tidak memunculkan masalah baru dan mengganggu komunikasi yang dilakukan.

Pendidikan sebagai proses membangun generasi, perlu menyisipkan pembelajaran ini. Pembelajaran yang bertujuan untuk membuat orang memahami perbedaan, saling menghargai dan tidak mudah menyalahkan orang lain, di sisi lain menganggap bahwa dirinya atau pandangan dirinya adalah yang paling benar. (*)

 

*) Dosen Universitas Muria Kudus

Comments
Loading...