Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

20 Mei 1908: Tokoh, Puisi, Cerita

Bandung Mawardi*)

SELAMA setahun, kita memiliki sekian hari nasional, hari mengingat tokoh dan peristiwa dalam sejarah Indonesia. Pada setiap peringatan, pemerintah sibuk membuat tema. Pilihan kata sebagai tema kita temukan dalam spanduk dan poster di pinggir jalan atau pengumuman di media sosial. Tema dianggap terpenting.

Di koran, televisi, dan media sosial, kita kadang melihat foto tokoh-tokoh mengesahkan sejarah dan pemaknaan peringatan hari nasional. Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional, foto sering muncul dua tokoh: Sutomo dan Wahidin Sudirohusodo.

Foto diperlukan bagi orang-orang sudah keranjingan mengalami hari-hari berfoto. Para tokoh masa lalu terlihat sejenak tapi jarang bersambung mengetahui biografi. Pelacakan biografi di internet sering sedikit dan repetitif. Orang-orang belum terpanggil membaca buku atau majalah mengadakan rubrik biografi tokoh.

Keterangan singkat untuk membuat hari peringatan masih berarti terbaca dalam Kamus Sejarah Indonesia (2012) susunan Robert Cribb dan Audrey Kahin. Budi Utomo dibentuk pada 20 Mei 1908. Di situ, tercantum tiga nama pendiri: Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, dan Gunawan Mangunkusumo.

Para murid dan mahasiswa mungkin mengenali dua tokoh di atas. Nama di belakang, mereka mungkin belum mengenali atau menganggap asing. Kita mengira jumlah pendiri Budi Utomo cuma sedikit.

Penjelasan dalam kamus: “Pada awalnya, organisasi ini ingin memajukan kajian kebudayaan Jawa dan meningkatkan akses kepada pendidikan Barat, tetapi bertahap semakin bersifat politik.”

Kamus memang lazim memberi keterangan pendek, berbeda dari buku sejarah atau biografi. Pendek pun milik puisi. Dulu, murid-murid dikenalkan dengan Sutomo melalui puisi oleh Sides Sudiyarto, 1979. Para tokoh dalam sejarah dibuatkan puisi, bermaksud terbaca murid-murid sambil berimajinasi masa lalu.

Kita membaca puisi berjudul “Sutomo”, puisi membarakan pemuliaan Tanah Air: Sutomo, suluh penyinar jiwa persatuan bangsa/ Kau terangi keinsafan bangsa untuk bersatu padu/ Kau tanamkan pengertian pergerakan nasional/ Untuk kemajuan peradaban bangsa.

Puisi sesak pujian. Puisi mirip penjelasan, perubahan sedikit dari penjelasan-penjelasan biasa ditemukan di buku (pelajaran) sejarah. Puisi kurang memikat. Pada bait terakhir: Pak Tom, habis licin tandar semua usiamu/ Untuk kebangunan keluarga besar Indonesia/ Kau curahkan semua tenaga, nafas dan jiwa/ Untuk kebangkitan nasioanl yang perkasa.

Kita membaca puisi tak perlu membantah misi mengisahkan tokoh dan Indonesia. Puisi sulit terpilih dalam lomba deklmasi bertema nasionalisme.

Ikhtiar mengenalkan tokoh melalui buku dilakukan A Soeroto. Ia menulis buku berjudul Dr Sutomo: Peletak Batu Pertama Cita-Cita Indonesia Raya (1985). Buku untuk anak-anak agar mengingat sejarah dan mengenali tokoh. Buku tipis menggunakan siasat cerita bermisi “anak-anak dapat meniru Sutomo, tokoh Indonesia yang pantas menjadi suri tauladan.”

Biografi berbeda dengan puisi. Pembaca tak mengharuskan pengembaraan imajinasi. Konon, biografi berpijak fakta. Tokoh dalam sejarah bukan penghadiran tokoh seperti dalam buku-buku fiksi. A Soeroto dengan siasat cerita membuat anak-anak berhak kebingungan mengetahui itu biografi atau fiksi.

Buku itu bisa mengaburkan sejarah. Kita mengutip peristiwa pertemuan Wahidin Sudirohusodo dengan para pelajar di STOVIA. A Soeroto bercerita dampak pertemuan dan percakapan: “Dan itulah yang dilakukan oleh kedua teman tersebut (Suraji dan Sutomo). Sebab, keesokan harinya, tepat pada tanggal 20 Mei 1907 bertempat di ruang anatomi sekolah, Sutomo menguraikan apa yang dibicarakan dengan dokter Wahidin kepada teman-temannya.”

Pencantuman waktu menimbulkan kebingungan. Kita sulit memastikan penulisan tahun 1907 dalam buku: salah atau sengaja. Peristiwa dalam sejarah itu samar bila dibandingkan dengan buku-buku pelajaran atau buku-buku sejarah ditulis para sejarawan.

Di buku, pendirian Budi Utomo mengesankan berpamrih jauh. A Soeroto menggunakan tokoh Sutomo bersuara: “Ingat hari ini. Bukan tidak mungkin peristiwa ini akan terkenang sepanjang masa. Sebab perjuangan dengan tujuan meninggikan derajat rakyat baru kali ini diselenggarakan.”

Kalimat berlebihan bagi orang-orang tekun membaca dokumen dan buku sejarah. Sutomo dikesankan telah mampu mengira dampak masa depan dan penghargaan. Buku tipis untuk anak-anak justru bisa “menipiskan” pengetahuan sejarah dan memberi ragu dalam pengenalan tokoh.

Kita mendingan membuka buku berjudul Pemikiran Biografi dan Kesejarahan terbitan Depdikbud, 1981. Di situ, ada artikel Ong Hok Ham berjudul “Biografi dan Sejarah”. Pengajar di Universita Indonesia (UI) dan sering menulis kolom di pelbagai majalah itu mengingatkan: “Sejarawan tidak akan melihat sejarah ditentukan oleh pribadi-pribadi namun melihat zamannya dan dengan demikian menciptakan pahlawan.”

Kita berharapan sejarah Budi Utomo tak melulu bertokoh Sutomo dan Wahidin Sudirohusodo. Ada nama-nama dan sekian peran turut mengubah zaman, tampil dalam arus sejarah Indonesia.

Kehadiran puisi gubahan Sides Sudiyarto dan buku cerita tipis oleh A Soeroto telanjur dalam penokohan “berlebihan”. Hal-hal kesejarahan agak terabaikan atau gagal terpahamkan untuk disampaikan kepada anak-anak di sekolah. Buku-buku pernah menjadi koleksi perpustakaan di sekolah dan terbaca murid-murid masa Orde Baru. Buku agak sulit diralat berkaitan terang sejarah sedang diusahakan pada masa berbeda. Begitu. (*)

 

*) Kuncen di Bilik Literasi (Solo)

Comments
Loading...