Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Cara yang Tepat untuk Mengatasi Diare pada Anak Kecil yang Penting Diketahui Orang Tua

Ini Cara yang Tepat untuk Mengatasi Diare pada Anak Kecil yang Penting Diketahui Orang Tua
Foto: Ilustrasi (pixabay.com)

MURIANEWS, Kudus– Penyakit diare mudah menyerang siapa saja. Termasuk pada anak-anak dan balita.

Saat terserang diare, tubuh anak kecil ini bisa lemas sehingga tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Untuk itu, perlu dilakukan upaya yang tepat untuk mengatasi diare pada anak ini.

Melansir dari laman Hello Sehat, Jumat (13/5/2022), gejala diare biasanya dapat sembuh sendiri dalam 1-2 hari. Meski begitu, diare pada anak mungkin saja malah bertambah parah jika Anda tidak mendampinginya dengan penanganan mandiri di rumah untuk membantu meredakan kondisi yang dialami.

Baca juga: Makan Langsung Pakai Tangan ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan, Ini Penjelasannya

Nah, agar tidak salah langkah, berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda coba lakukan untuk meredakan diare pada anak di rumah.

1. Berikan minum secukupnya

Anak kecil yang sedang diare biasanya cenderung lebih rewel karena kehausan. Namun, pada beberapa kasus, diare yang parah justru membuat anak jadi malas minum.

Terlepas dari sedang haus atau tidak, penting untuk rutin memberikan anak minum air putih jika sedang diare. Memberikannya banyak minum air putih dapat mengatasi atau mencegah dehidrasi yang sering terjadi pada anak saat diare.

Jangan lupa untuk tetap memerhatikan kebersihan air minum yang Anda berikan untuk si kecil. Pastikan air minum tersebut berasal dari air bersih dan matang agar tidak meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.

Namun, jangan memberikan jus buah pada anak yang diare. Melansir dari National Institute of Health, meski mengandung air, vitamin, dan mineral, jus cenderung memicu sakit perut sehingga dapat memperparah kondisi anak.

Jangan pula berikan air putih untuk bayi yang usianya kurang dari 6 bulan. Bagi bayi, cara yang paling ideal untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya adalah dengan pemberian susu.

2. Jangan hentikan pemberian ASI

Bila anak masih menyusui, jangan hentikan pemberian ASI. Melanjutkan pemberian ASI adalah cara terbaik untuk mengatasi diare serta mencegah dehidrasi pada bayi dan anak hingga usianya 2 tahun.

Menurut Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, ASI adalah sumber energi yang aman diberikan pada anak yang sakit karena nutrisinya mendukung proses penyembuhan dari penyakit.

Laktosa yang terkandung dalam ASI pun tidak menyebabkan diare bertambah parah. Selain itu, ASI mengandung antibodi yang berasal dari tubuh ibu yang dapat memperkuat kekebalan tubuh bayi.

3. Selingi air putih dengan pemberian oralit

Selain dengan air putih, pemberian oralit bisa jadi cara yang cepat untuk mengatasi diare pada anak kecil di atas usia 6 bulan. Oralit adalah obat untuk menggantikan kadar elektrolit dan cairan tubuh yang hilang akibat dehidrasi.

Oralit tersedia dalam bentuk obat serbuk yang harus dilarutkan dengan air atau dalam bentuk cairan siap minum. Anak yang berusia kurang dari 1 tahun dapat diberikan oralit sebanyak 50-100 ml, sedangkan anak di atas 1 tahun bisa diberikan sebanyak 100-200 mililiter.

Namun, orangtua mungkin perlu menyendokkan larutan sedikit-sedikit ke mulut anak jika ia belum terbiasa minum sendiri dari gelas. Oralit mampu mengembalikan kadar cairan tubuh dalam 8-12 jam setelah dikonsumsi.

Oralit bisa dibeli di toko obat atau apotek. Meski begitu, Anda juga bisa membuat larutan ini sendiri sebagai cara mengatasi diare pada anak di rumah.

Anda hanya perlu mencampurkan dua sendok teh gula dan setengah sendok teh garam dapur ke dalam satu gelas air matang. Jika Anda masih ragu menentukan dosis oralit pada anak, jangan ragu untuk konsultasi pada dokter.

4. Berikan anak makan dalam porsi kecil dan sering

Diare dapat menurunkan nafsu makan anak. Meski begitu, anak tetap harus makan untuk mencukupi asupan nutrisinya dan mengisi ulang tenaganya supaya tidak terus-menerus merasa lemas.

Agar anak mau makan, Anda dapat mengakalinya dengan memberikan makanan dalam porsi lebih kecil tapi sering. Memberi makanan langsung dalam porsi banyak justru bisa memicu perutnya jadi semakin sakit.

Jadi, daripada si kecil makanan dalam porsi besar untuk 3 kali sehari, lebih baik berikan ia makanan yang padat kalori sebanyak 6 kali sehari.

5. Pilih makanan yang mudah dicerna

Jika anak sudah mulai terbiasa makan makanan padat, Anda harus lebih hati-hati lagi dalam memilih makanan untuknya. Cari tahu terlebih dahulu makanan yang baik untuk anak saat diare dan makanan yang sebaiknya dihindari saat buang-buang air.

Makanan yang baik untuk mengatasi diare pada anak adalah makanan yang bertekstur lembut, padat kalori, dan mudah dicerna. Anak yang sudah mulai MPASI atau makanan padat dapat diberikan bubur nasi tanpa santan, pisang tumbuk, wortel rebus yang lunak, maupun daging ayam, ikan, atau sapi rebus yang disuwir.

Sementara itu, hindari memberikan makanan yang tinggi serat, misalnya brokoli, pir, dan sawi. Makanan tinggi serat bisa membuat feses anak justru melunak sehingga diare menjadi semakin parah.

Hindari juga makanan yang mengandung lemak tinggi dan yang digoreng dengan minyak. Makanan seperti ini bisa memberatkan kerja usus sehingga memperlambat proses penyembuhan.

Perhatikan juga pilihan makanan tertentu jika anak punya alergi atau intoleransi. Pasalnya, makanan yang memicu sistem imun bereaksi berlebihan bisa membuat diarenya jadi lebih parah.

6. Berikan obat diare sebagai solusi terakhir

Jika berbagai cara penanganan mandiri di atas tidak juga berhasil mengatasi diare pada anak, jangan tunda untuk periksakan si kecil ke dokter.

Apalagi jika anak sudah berhari-hari mengalami diare tanpa perubahan kondisi, jangan biarkan ia tanpa pengobatan. Dokter mungkin dapat meresepkan obat diare yang aman untuk anak dan rencana perawatan lebih lanjut.

Jangan memberikan si kecil makanan atau minuman lain di luar yang dianjurkan sebelum usianya menginjak 6 bulan tanpa saran dokter.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: hellosehat.com

Comments
Loading...