Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Begini Cara Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Menghormati Tamu yang Perlu Diteladani

Begini Cara Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari Menghormati Tamu yang Perlu Diteladani
Foto: Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari (nu.or.id)

MURIANEWS, Kudus– Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah salah seorang mahaguru sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pahlawan Nasional. Beliau wafat pada tanggal 7 Ramadan 1366 Hijriyah atau 25 Juli 1947 di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Melansir dari laman NU Online, KH Hasyim Asy’ari dilahirkan dari pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah pada hari Selasa kliwon tanggal 14 Februari tahun 1871 M atau bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah tahun 1287 H.

Tempat kelahiran beliau berada disekitar dua kilometer ke arah utara dari kota Jombang, tepatnya di Pesantren Gedang. Gedang sendiri merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang.

Baca juga: Mengenang Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Pendiri NU yang Wafat pada 7 Ramadan 1366 Hijriyah

Ada banyak akhlak luhur yang diperlihatkan KH Hasyim Asy’ari semasa hidupnya. Menghormati tamu merupakan salah satu akhlak luhur yang diperlihatkan KH Muhammad Hasyim Asy’ari.

Hampir setiap rumah kediaman beliau di Pesantren Tebuireng Jombang ramai dengan kedatangan tamu. KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001) mencatat, rumah Kiai Hasyim Asy’ari setiap hari tidak pernah sepi dari kunjungan tamu-tamu yang puluhan banyaknya, bahkan kadang-kadang hingga ratusan.

Tamu-tamu tersebut bermacam-macam tingkatannya, ada kiai, santri, wali murid, pamong praja, saudagar, petani, pemuda, serta tokoh pergerakan nasional, dan sebagainya. Semua tamu dilayani dengan baik, sekalipun tidak pernah ada janji bertemu sebelumnya dan sekalipun datang pada waktu yang umumnya orang sedang istirahat.

Selain itu, sekali pun ada ‘khadam’ yang menyuguhkan minuman dan makanan, tetapi Kiai Hasyim Asy’ari sendiri yang meletakkan suguhan di hadapan sang tamu. Bahkan kadang-kadang beliau sendiri yang mengambilnya dari ndalem (ruangan tengah di rumahnya) jika kebetulan khadam sedang ngaso (istirahat).

Jika kedatangan tamu tepat di waktu makan (siang maupun malam), maka hidangan makan dikeluarkan dan bersama tamu beliau makan bersama. Dengan amat ramahnya tamu diladeni (diperhatikan) dengan kata-kata Kiai Hasyim yang menyenangkan.

Hingga jika tamu-tamu tersebut terdiri dari banyak orang, maka masing-masing tamu merasa bahwa dialah yang paling disayang oleh Hadratussyekh. Siapa saja yang pulang dari bertamu akan merasa bahwa dirinya orang yang paling dekat dengan Kiai Hasyim Asy’ari.

Para tamu puas dan menjadi kenangan membahagiakan sepanjang hidupnya. Adakalanya sang tamu datang dengan membawa oleh-oleh, misalnya buah pepaya. Hadratussyekh memperlihatkan suka citanya atas oleh-oleh itu dan sambil berkata: “Alhamdulillah, alhamdulillah, pucuk dicita, ulam tiba. Saya sudah lama ingin buah pepaya. Alangkah bagusnya pepaya ini, alangkah nikmatnya.” Berulang-ulang beliau mengucapkan terima kasih dan mendoakan tamunya. (KH Saifuddin Zuhri, 2001: 129)

Pada tahun 1943, KH Saifuddin Zuhri yang kala itu menjabat Pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Wilayah Jawa Tengah berkesempatan bersilaturahim ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang pimpinan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Ia disambut hangat oleh Gus Wahid Hasyim yang menginginkan dia mampir ke Tebuireng.

Saifuddin Zuhri saat itu hendak menghadiri jambore Gerakan Pemuda Ansor yang berlangsung di Surabaya sebagai utusan wilayah Jawa Tengah. Gus Wahid Hasyim langsung mengajak Saifuddin Zuhri untuk menghadap Hadratussyekh di kediamannya di komplek pesantren.

Saat Saifuddin Zuhri menghadap, Kiai Hasyim Asy’ari sedang duduk bersila sambil membaca sebuah surat. Saifuddin Zuhri merasa heran seorang yang sepuh berumur lebih dari 70 tahun saat itu, tetapi masih bisa membaca tanpa kacamata. Kiai Hasyim saat itu mengenakan baju ‘Jawa’ seperti piama tak berleher, berwarna putih terbuat dari kain katun, bersarung plekat dan mengenakan sorban.

Saifuddin Zuhri diperkenalkan oleh Gus Wahid kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Ayah dan anak ini terdengar berkomunikasi menggunakan bahasa Arab. Tetapi sesekali Gus Wahid menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahandanya dalam bahasa Jawa alus.

Namun, setelah Gus Wahid memperkenalkan Saifuddin Zuhri dari kalangan Pemuda Ansor, Hadratussyekh kontan langsung menggunakan bahasa Indonesia yang terucap halus, rapi, sistematis, dan urut meskipun telah diberitahukan bahwa Saifuddin Zuhri berasal dari Jawa Tengah.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: nu.or.id

Comments
Loading...