Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Bahagianya Penjual Gerabah Kreweng di Bulusan Kudus

Penjual gerabah kreweng di Bulusan Kudus melayani pembeli. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Penjual gerabah “kreweng” atau yang terbuat dari tanah liat di tradisi Bulusan di Desa Hadipoli, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, tersenyum bahagia. Pasalnya, dagangannya laris manis dan bisa membawa pulang yang banyak.

Salah satunya dialami Zumrotun pedagang gerabah yang berjualan di tradisi Bulusan Kudus, Senin (9/5/2022).

Zumrotun yang merupakan warga Jepara itu mengaku tiap ada tradisi Bulusan selalu berjualan kreweng. Tahun ini pendapatannya meningkat karena bisa mencapai Rp 1 juta selama gelaran tradisi Bulusan.

“Mulai Lebaran kedua sudah jualan di sini. Rencananya saya jualan sampai Selasa (10/5/2022) besok,” katanya, Senin (9/5/2922).

Rata-rata, dalam sehari dia mampu menjual 300 pcs gerabah kreweng. Sejauh ini, terhitung sejak dia jualan pada Lebaran hari kedua sudah 3.000 pcs yang terjual.

“Dibandingkan 2019 ya lebih ramai tahun ini. Dulu di 2019 selama jualan itu tidak sampai satu juta saya bawa uangnya,” sambungnya.

Baca: Tradisi Bulusan di Kudus Digelar Terbatas, Hanya Satu Gunungan Dikirab

Diketahui, tradisi Bulusan terakhir digelar pada 2019. Kemudian vakum dua tahun pada 2020 dan 2021 karena pandemi Covid-19. Tradisi Bulusan kembali digelar tahun ini.

Dia menilai animo masyarakat lebih besar tahun ini lantaran sudah dua tahun tradisi Bulusan tidak digelar. Selain itu dia menilai tidak adanya momen Dandangan di Kudus.

“Kemungkinan warga memanfaatkan momen tradisi Bulusan ini untuk mengobati kangen karena Dandangan tidak digelar tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Kirab Bulusan, Andi Lukman mengatakan selama gelaran tradisi Bulusan ada 250 orang pedagang yang ikut serta berjualan.

Baca: 2.022 Kupat Lepet di Pesta Lomban Jepara Jadi Rebutan Warga

Mayoritas pedagang merupakan warga sekitar Dukuh Sumber, Desa Hadipolo. Selain itu ada juga pedagang yang berasal dari daerah luar Kudus, seperti Demak dan Pati.

“Bisa dibilang perekonomian kembali bergeliat karena dua tahun terakhir tidak ada tradisi Bulusan ini,” ujar dia.

Andi Lukman menambahkan, selama berjualan, pedagang hanya dikenakan biaya retribusi Rp 8 ribu sehari. Nominal itu untuk sewa tempat dan biaya kebersihan.

“Harapan kami semoga tahun depan tradisi Bulusan dapat diselenggarakan lagi,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...