Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kajian Ramadan: Renungan setelah Bulan Ramadan Pergi

Kajian Ramadan: Renungan setelah Bulan Ramadan Pergi
Foto: Ilustrasi berdoa (pixabay.com)

MURIANEWS, Kudus– Bulan Ramadan adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam. Pada bulan Ramadan ini, umat Islam mendapat kewajiban untuk melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Bulan Ramadan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar. Semua amal saleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik. Pada bulan ini umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan.

Bulan suci Ramadan merupakan sebuah momentum penting bagi umat muslim. Pada bulan ini, semua orang berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dan beribadah kepada Allah SWT.

Baca juga: Kajian Ramadan: Keutamaan Berbagi di Bulan Puasa

Melansir dari laman NU Online, Sabtu (30/4/2022), tanpa terasa, bulan Ramadan 1443 H/ 2022 sudah berada di penghujung waktu. Hari raya Idul Fitri 1443 H tinggal menghitung hari. Sebagaimana kita jumpai setiap tahunnya, umat Muslim tampak sibuk menyiapkan banyak hal untuk menyambut hari kemenangan ini.

Toko baju mulai diburu, ibu-ibu sibuk mencari bumbu dan semacamnya untuk membuat ketupat dan opor, orang perantauan mulai memadati arus mudik, tak ketinggalan pula lampu kecil warna warni terlihat menghiasi sepanjang jalan di sebagian gang desa dan kota.

Semua ini dilakukan demi menyambut dan merayakan hari raya Idul Fitri dengan suka cita dan penuh kebahagiaan. Rasulullah saw sendiri telah menegaskan bahwa pada hari ini umat Muslim dianjurkan untuk bergembira. Dalam salah satu hadits dijelaskan,

 عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ‏‏‏.‏ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏‏إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas, ia berkata, ‘Sekali waktu Nabi saw datang di Madinah, di sana penduduknya sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu Nabi bertanya ‘Hari apakah ini (sehingga penduduk Madinah bersuka ria)?’

Mereka menjawab ‘Dulu semasa zaman jahiliah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria.’ Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah swt telah menggantikannya dalam Islam dengan dua hari yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu hari raya kurban (Idul Adhha) dan hari raya fitri (Idul Fitri)” (HR Abu Dawud).

Introspeksi Diri

Hari raya Idul Fitri memang momen kemenangan bagi umat Muslim setelah berjuang tiga puluh hari menjalani puasa, satu bulan melawan hawa nafsu. Akan tetapi, dengan begitu kita juga harus rela melepas kepergian bulan Ramadan, bulan mulia yang sudah membersamai kita.

Pendek kata, Idul Fitri adalah sebuah simbol kesempurnaan. Jika kesempurnaan telah diraih, maka harus ada yang pergi, yaitu bulan Ramadan.

Syekh Ali ath-Thanthawi berkata dalam syairnya,

 إِذَا تَمَّ أمرٌ بَدَا نَقْصُهُ # تَرَقَّبْ زَوَالاً إِذَا قِيْلَ تَمَّ

Artinya: “Jika sesuatu telah sempurna, maka akan tampak kekurangannya. Renungilah yang hilang jika sesuatu telah dikatakan sempurna.”

Syair ath-Thanthawi di atas berpesan bahwa ketika sebuah kemenangan telah diraih, kesempurnaan telah dicapai, maka ada sesuatu yang pergi yang harus kita renungi dan diinstropeksi. Pertanyaannya, bagaimana cara kita mengintrospeksinya?

Ada banyak hal cara kita menginstropeksi diri setelah Ramadan pergi. Pertama adalah dengan bersyukur karena telah kita telah diberi kenikmatan besar berupa umur panjang dan kesehatan sehingga masih bisa bertemu Ramadan tahun ini, bahkan melewatinya sampai selesai satu bulan hingga tiba hari kemenangan.

Jika bersyukur, maka harapannya semoga Allah akan menambah kenikmatan itu dengan bertemu di Ramadan berikutnya.

Mungkin ada saudara kita yang dicabut usianya sebelum Ramadan tiba sehingga tidak bisa berjumpa dengan bulan puasa, mungkin juga ada saudara kita yang dicabut usianya di pertengahan Ramadan sehingga tidak mendapatkan kesempatan berpuasa satu bulan lamanya.

Ada pula saudara kita yang menjelang Idul Fitri nyawanya dicabut oleh Allah swt sehingga tidak bisa ikut merayakan hari kemenangan ini. Karena itu, kita yang sampai detik ini masih diberi usia panjang harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah swt.

Allah swt berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7).

Melalui ayat ini, ada pesan peting untuk kita pahami bersama. Jika kita bersyukur kepada Allah swt karena masih dianugerahi usia panjang dan kesehatan badan sehingga bisa berjumpa dan merampungkan satu bulan Ramadan dengan berpuasa, maka Allah akan menambah kenikmatan tersebut dengan berjumpa di Ramadan-Ramadan berikutnya. Bagaimana cara bersyukurnya, yaitu dengan selalu meningkatkan semangat ketakwaan dan beribadah kepada Allah swt.

Konsistensi Ibadah

Bukan berarti Ramadan telah berlalu, kemudian semangat ibadah kita tidak sebesar ketika hari-hari puasa dulu. Satu bulan Ramadan, 29 atau 30 hari berpuasa, dengan segala ragam ibadah wajib dan sunnah di dalamnya, seharusnya mampu memperkokoh benteng keimanan kita.

Ibarat sebuah lembaga, bulan Ramadan adalah madrasah yang mendidik umat Muslim menjadi pribadi yang tahan banting, pribadi yang memiliki imunitas iman kebal tak terkalahkan.

Para ulama sendiri menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal ibadah seseorang selama bulan Ramadan adalah ia masih bisa menjaga konsistensi ibadah setelah bulan ini berlalu.

Salah seorang ulama kenamaan dari madzhab hambali, Syekh Ibnu Rajab al-Hambali pernah menjelaskan,

 مَنْ عَمِلَ طَاعَةً مِنَ الطَّاعَاتِ وَفَرِغَ مِنْهَا فَعَلَامَةُ قَبُوْلِهَا أَنْ يَصِلَهَا بِطَاعَةٍ أُخْرَى وَعَلَامَةُ رَدِّهَا أَنْ يَعْقِبَ تِلْكَ الطَاعَةَ بِمَعْصِيَةٍ مَا أَحْسَنَ اْلحَسَنَةَ بَعْدَ السَّيِّئَةِ تَمْحُوْهَا وَأَحْسَنُ مِنْهَا بَعْدَ الْحَسَنَةِ تَتْلُوْهَا.

Artinya: “Siapa yang melakukan suatu amal ibadah dan telah rampung melaksanakannya, maka tanda diterima amal tersebut adalah diiringi dengan amal ibadah yang lain. Sebaliknya, jika amal ibadah itu tidak diterima oleh Allah ta’âlâ, maka amal tersebut diiringi dengan kemaksiatan. Betapa baik amal ibadah yang dilakukan setelah perbuatan maksiat sehingga menghapus dosa maksiat. Lebih baik lagi jika amal ibadah tersebut diikuti ibadah berikutnya.” (Ibnu Rajab, Lahtâiful Ma’ârif, 1997: 262).

Jika ditarik dalam konteks ibadah selama bulan Ramadan, maka penjelasan Ibnu Rajab di atas menegaskan bahwa ciri-ciri ibadah puasa kita selama bulan Ramadan diterima oleh Allah swt, baik ibadah wajib maupun sunnah, maka kita mampu menjaga konsistensinya setelah Ramadan berlalu.

Jangan sampai yang tadinya sering baca Al-Qur’an, setelah bulan puasa Al-Qur’annya ditutup dan baru dibuka lagi di Ramadan tahun depan. Yang tadinya gemar bersedekah kepada saudara dan handai taulan, setelah Ramadan sudah malas dilaksanakan. Maka, kalau begini bisa jadi  Allah swt belum menerima ibadah puasa Ramadan yang sudah kita rampungkan. Nau’udzubillâh.

Ketenangan Hati

Selain itu, ciri-ciri ibadah selama bulan puasa seseorang diterima oleh Allah swt adalah ia akan merasakan dampak spiritual dalam dirinya, yaitu dalam wujud ketenangan batin dan kepuasan hati. Hal ini sebagaimana telah disinggung oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Ḫikam,

 مَنْ وَجَدَ ثَمْرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيْلٌ عَلَى وُجُوْدِ الْقَبُوْلِ

Artinya: “Siapa yang memetik buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amal ibadahnya.”   Menurut Syekh Ahmad Zarruq dalam As-Syirkatul Qaumiyyah (salah satu syarah Al-Ḫikam) menjelaskan, maksud “buah amal” tersebut di antaranya berupa ketenangan hati. Tidak ada rasa khawatir dan kesedihan dalam diri seseorang. (Syekh Ahmad Zarruq, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010: 80)   Walhasil, Idul Fitri adalah hari kelulusan hamba setelah satu bulan berpuasa. Bukti kelulusannya adalah ia mampu menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan berlalu dan memperoleh ketenangan hati. Wallâhu a’lam.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: nu.or.id

Comments
Loading...