Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

TAUSIYAH RAMADAN

Membangun Generasi Islami di Era Disrupsi

Membangun Generasi Islami di Era Disrupsi
Ketua STAI Pati, Aida Husna

Saat ini, umat manusia di seluruh dunia sedang mengalami era disrupsi. Itu ditandai dengan terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran.

Era disrupsi secara fundamental telah mengubah semua sistem dan tatanan yang ada ke cara-cara baru.

Di era yang juga dikenal dengan era yang penuh ketidakpastian merupakan dampak dari revolusi industri 4.0. Ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19 selama kurang lebih dua tahun belakangan ini, era disrupsi ini tentu menjadi tantangan termasuk terhadap pendidikan Islam dalam menyiapkan generasi Islami.

Pendidikan Islam, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas pada dasarnya bertujuan untuk mewujudkan manusia yang baik atau manusia universal (insan kamil), yakni sesuai dengan fungsi diciptakannya manusia. Di mana manusia ditugaskan untuk membawa dua misi, yaitu: sebagai Abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah fii al-ardl (khalifah Allah di bumi).

Baca: Menjadi Guru di Era Disrupsi

Manusia sendiri pada dasarnya dilahirkan suci seperti diterangkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits sebagaimana yang diriwayatkan dari Abi Hurairah R.A.:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi orang Yahudi, orang Nasrani ataupun orang Majusi”

Menurut hadits di atas, bahwa setiap anak yang dilahirkan terlepas dari siapa orang tuanya, dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, bahwa setiap anak yang lahir ke bumi adalah suci, dalam arti beriman tauhid kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an, Surat Al A’raf, ayat 172;

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

Artinya: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu? Mereka menjawab: “Ya, kami menjadi saksi.”

Hadits di atas juga menerangkan bahwa bagaimana kelanjutan kehidupan manusia amatlah bergantung bagaimana kedua orang tuanya mendidik.

Perlu diketahui bersama, bahwa keluarga merupakan salah satu institusi pendidikan Islam selain sekolah maupun pesantren. Seorang Ibu adalah sekolah yang pertama bagi anaknya.

Demikian juga seorang Ayah, mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mendidik anaknya sesuai ajaran Islam. Seorang Ayah akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat terkait bagaimana dia mendidik anaknya.

Islam mengajarkan bahwa seorang ayah dan ibu harus dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. Keteladanan orang tua akan berdampak pada perkembangan kepribadian anak-anaknya.

Merujuk Albert Bandura dalam Teori Sosial Kognitif yang dikembangkannya, bahwa perkembangan seorang individu dipengaruhi faktor sosial, kognitif dan faktor perilaku.

Dengan begitu, orang tua diharapkan dapat menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Bagaimana perilaku orang tua di hadapan anak-anaknya, seperti itulah kira-kira bagaimana perilaku anak-anaknya.

Kemudian, kedua orang tua, harus sedapat mungkin dapat berperilaku secara Islami seperti bertutur kata yang sopan, menghormati dan menghargai sesama, serta meningkatkan ibadah sebagai wujud ketakwaannya kepada Allah SAW sekaligus memberikan keteladanan agar anak-anaknya kelak juga menjadi generasi yang Islami.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...