Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kenapa Timnas Argentina Tidak Ada Pemain Berkulit Gelap? Ternyata ini Sebabnya

Timnas Argentina
Timnas Argentina, tidak pernah diperkuat pemain berkulit gelap. (www.facebook.com/AFAOFICIAL/photos)

MURIANEWS, Kudus- Timnas Argentina adalah salah satu kekuatan sepak bola terbesar di dunia. Sejauh ini mereka sudah dua kali merebut gelar Juara Dunia. Selain itu mereka juga dikenal memiliki talenta-talenta sepak bola top dunia.

Dari Argentina, dunia mengenal nama-nama pemain top seperti Mario Kempes (1970-an), Diego Maradona (1980-an) dan kini Lionel Messi. Sebenarnya juga masih ada banyak nama lain, yang juga terkenal. Semisal Gabriel Batitusta, Canigia dan Fernando Redondo.

Namun dari masa ke masa, jika diamati Timnas Argentina tidak pernah menggunakan pemain berkulit gelap. Berbeda dengan dengan tim-tim lainnya di dunia, seperti Jerman, Brasil, Belanda, Inggris atau Prancis. Di kebanyakan timnas dari banyak negara ada pemain berkulit gelap.

BACA JUGA: Lionel Messi Absen Untuk Timnas Argentina di Kualifikasi Piala Dunia

Namun di Timnas Argentina, tidak ada pemain berkulit gelap di dalamnya. Sehingga sering timbul pertanyaan, kenapa Argentina tidak memiliki pemain berkulit gelap? Apakah mereka menerapkan sikap rasialis? Ternyata tidak demikian adanya.

Anggapan bahwa tak ada pemain berkulit hitam dalam timnas Argentina sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Lebih tepatnya, jumlah pemain berkulit hitam di Argentina sangat minim. Bahkan bisa dikatakan tidak ada.

Tidak adanya pemain berkulit gelap di skuad La Albiceleste tak terlepas dari sejarah bangsa Argentina itu sendiri. Sebenarnya, dulu di Argentina juga dihuni banyak orang berkulit gelap yang merupakan orang imigran Afrika.

Menurut catatan sejarah, warga Afrika datang ke Argentina pada abad ke-16 masehi. Mereka datang ke daerah bernama Rio De La Plata, (sekarang Buenos Aires). Selama di Argentina, para imigran dari Afrika itu kebanyakan bekerja sebagai petani untuk yang laki-laki dan sebagai pembantu rumah tangga bagi kaum perempuan.

Imigran dari Afrika terus mendiami Argentina sampai awal abad 19 masehi. Lalu, mereka menyebar ke berbagai wilayah seperti Santiago Del Estero, Catamarca, Salta, dan Córdoba. Hingga awal abad 19, populasi rakyat Afro-Argentina cukup tinggi, bahkan mencapai 50 % di sejumlah daerah. Namun sejak masa itulah terjadi penurunan drastis jumlah masyarakat kulit hitam di negeri Diego Maradona.

Namun ada beberapa peristiwa yang membuat jumlah populasi warga kulit hitam di Argentina menurun. Perang Kemerdekaan Argentina yang terjadi pada tahun 1810 hingga 1818, adalah salah satunya. Pada perang ini, banyak warga Afro-Argentina laki-laki yang karena diiming-imingi akan dibebaskan dari status budak, ikut berpartisipasi jadi tentara dalam perang tersebut.

Karena jumlahnya yang sangat mendominasi, jumlah korban terbanyak dari perang tersebut juga dari warga kulit hitam. Sementara warga wanita berkulit hitam banyak yang melakukan pernikahan antar ras dengan warga non-kulit hitam.

Kejadian lainnya, adalah munculnya wabah kolera tahun 1861–1864 yang diikuti oleh wabah penyakit kuning 1871, yang juga membuat masyarakat Afro-Argentina yang tersisa mengalami penyusutan lagi.

Banyak diantara mereka yang kemudian hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara mereka yang dapat bertahan hidup memilih bermigrasi ke Brasil dan Uruguay. Kejadian perang Paraguay (1864–1870) juga membuat banyak masyarakat Afro-Argentina mengalami situasi seperti di Perang Kemerdekaan Argentina.

Kebijakan konstitusi negara bagian Argentina di tahun 1853 mendorong imigrasi besar-besaran di tahun 1880–1950. Namun dalam hal ini masyarakat asal Eropa menjadi prioritas utama plus, dan melarang ekspor budak.

Dari sejumlah fakta itulah, muncul opini bahwa ‘bangsa kulit hitam sengaja dihapus dari Argentina secara sistematis’. Seiring berjalannya waktu, dengan semakin menyusutnya orang berkulit gelap di Argentina, datanglah orang-orang berkulit putih dari Eropa.

Gelombang besar kepindahan orang Eropa ke Argentina ini terjadi pada akhir abad 19 hingga awal abad 21. Alasan umum mereka pindah karena kondisi Eropa yang carut marut akibat perang dunia pertama dan kedua.

Hingga sekarang, orang-orang berkulit putih lebih mendominasi di Argentina. Sementara orang berkulit hitam atau keturunan Afrika di Argentina jumlahnya sangat sedikit. Mereka secara total hanya ada 0,37% pada tahun 2010. Maka dari itu tidak mengherankan bila di skuad timnas Argentina diisi oleh pemain-pemain berkulit putih.

Sebenarnya, bukan berarti tidak ada sama sekali pemain kulit hitam di timnas Argentina. Namun hal itu sudah lama terjadi, tepatnya pada tahun 1925. Pada saat itu, Alejandro de Los Santos menjadi bagian Timnas Argentina yang berhasil meraih gelar Copa America di tahun tersebut.

Pemain berkulit gelap ini, sepanjang karirnya bersama Timnas Argentina, hanya mengemas 5 caps. Selain itu Alejandro de Los Santos juga tidak berhasil mencetak satu gol pun.

Penulis: Budi Erje
Editor: Budi Erje
Sumber: Startingeleven.id

Comments
Loading...