Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

TAUSIYAH RAMADAN

Pertajam Rasa Beragama

Pertajam Rasa Beragama
Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag. Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Mempertajam rasa beragama itu penting. Terutama, untuk mengalirkan Kalam Ilahi ke dalam diri pribadi. Setiap hamba Allah hingga detail kehidupan empiris di dunia selalu dalam sentuhan ayat-ayat Alquran.

Rasa beragama adalah indera atau sensualitas. Mulai fungsi mata kepala untuk membaca huruf-huruf, rangkaian kalimat hingga ayat-ayat Alquran. Meningkat ke fungsi akal pikiran agar aktif memetik berbagai ilmu pengetahuan yang dikandung di dalam ayat-ayat Alquran.

Secara halus seksama, pribadi menembus batas empiris guna mengaktifkan fungsi mata hati Nurani. Itu untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap pesan-pesan kebenaran yang baik dan indah dari Kalam Ilahi.

Baca: Kajian Ramadan: Zakat Fitrah sebagai Penyempurna Puasa dan Penyelamat Jiwa

Dalam menembus batas empiris, maka suasana transenden memusatkan mata ruh untuk memperoleh pengetahuan hakiki (ma’rifatul haqiqah) dari Misteri Kehadiran Ilahi (Sirru Sirri Hadlaratil Ilahi Ta’ala) ke dalam jiwa yang menempuh jalan kesucian.

Menurut Alquran, satu-satunya jalan yang benar adalah jalan menuju Allah (wa ‘ala Allahi qashdus sabil), semua jalan yang lain adalah menyesatkan (ja`ir) [QS An-Nahl/16: 9].

Karena itu sudah pasti setiap sesuatu secara langsung berhubungan dengan Allah, sehingga setiap sesuatu itu, melalui dan di dalam hubungannya dengan yang lain-lainnya berhubungan pula dengan Allah sebagai Tuhan.

Jadi, Tuhan adalah makna dari reality, sebuah makna yang dimanifestasikan, dijelaskan serta dibawakan oleh alam dan, selanjutnya, oleh manusia.

Itulah sebabnya, setiap sesuatu di dalam alam semesta ini ‘pertanda’ Tuhan (ayat Allah) yang tampil sebagai Kitab Allah, yakni Alquran.

Nabi Muhammad SAW, telah mewanti-wanti kita:

“Akan datang banyak fitnah, yakni goncangan yang menyerang aqidah Tauhid atau keimanan, tatanan alam, sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, budaya dan lain-lain. Ditanyakan kepada Rasulullah, “Lalu apa jalan keluarnya Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kitab Allah (yakni Alquran), di dalamnya memuat berita orang-orang sebelum kamu, gambaran orang-orang di masa mendatang, dan ada hukum di antara kamu.”

Kitab Allah itu adalah kata putus (yang jelas) dan tidak main-main. Barang siapa meninggalkan Kitab Allah pasti akan hancur binasa, dan siapa pun yang berpedoman dengan selainnya niscaya akan sesat.

Kitab Allah itu adalah (petunjuk yang paten yakni) tali yang kokoh, peringatan yang bijaksana, dan merupakan jalan yang lurus. Dengan (berpegang teguh) kepada Kitab Allah, hawa nafsu tidak akan menyimpang, dan ucapan pun tidak akan garuh (campur baur).

Dengan (menggali isi kandungan) Kitab Allah, ulama (para ahli ilmu) tidak akan pernah kenyang. Kitab Allah tidak akan pernah menjadi usang lantaran banyaknya bantahan.

Keajaiban Kitab Allah tidak akan pernah habis. Kitab Allah adalah Alquran (bacaan) yang para jin tak pernah berhenti mengagumi di kala mendengarnya sehingga di antara mereka ada yang berkata,

“Kami telah mendengarkan Alquran yang sungguh menakjubkan dan memberi petunjuk ke jalan yang benar, karena itu kami beriman kepadanya.”.

Barang siapa berkata dengan Kitab Allah pasti benar. Barang siapa mengamalkan isi kandungannya pasti diberi pahala, dan barang siapa mengajak (dakwah) kepada orang lain untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah, pasti akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus (Shiratal Mustaqim)” [Hadis Riwayat Al-Turmudzi].

Dalam mengaktifkan indera beragama maka Allah sebagai Ultimate Reality bagi hamba-Nya, harus menjadi perhatian utama.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata (berprinsip) bahwa Tuhan Pemelihara kami adalah Allah, serta istiqamah (tulus-jujur dengan prinsip itu) akan turun kepada mereka malaikat (untuk menenangkan mereka sambil berkata) “Jangan takut, jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang telah dijanjikan” (QS Fushshilat/41: 30).

Harapan rasa beragama adalah ketenteraman hati nurani atau ketenangan jiwa. “Orang-orang yang beriman dan hati (jiwa) mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, tentu hanya dengan mengingat Allah-lah hati (jiwa) menjadi tenteram” (QS Ar-Ra’d/13: 28).

Dengan mengaktifkan sensuality beragama dengan penuh kesetiaan (istiqamah) dalam membaca, mencermati dan memahami ayat-ayat Alquran yang kaya dengan tata nilai kehidupan, maka Allah akan melimpahkan kelembutan dan kasih-sayang-Nya bagi hamba-hamba Allah yang saleh.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...