Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Nasib Penjaga Perlintasan Kereta Api Swadaya Grobogan: Panas Kepanasan, Hujan Kehujanan Demi Keselamatan Pemudik

Nasib Penjaga Perlintasan Kereta Api Swadaya Grobogan: Panas Kepanasan, Hujan Kehujanan Demi Keselamatan Pemudik
Relawan perlintasan kereta berjaga di Desa Sambung, Kecamatan Godong. (MURIANEWS/Saiful Anwar)

MURIANEWS, Grobogan – Penjaga perlintasan kereta api menjadi salah satu petugas yang akan sibuk saat musim mudik Lebaran. Apalagi pemerintah telah mengizinkan mudik Lebaran tahun ini.

Tak hanya penjaga perlintasan kereta api, dengan status pegawai PT KAI. Namun, para penjaga perlintasan kereta api swadaya juga mengalami kesibukan yang sama. Bahkan, mungkin tugasnya lebih berat.

Seperti di Kabupaten Grobogan, dari 96 titik perlintasan kereta di Kabupaten Grobogan, 22 titik di antaranya dijaga secara swadaya oleh masyarakat setempat.

Baca: Tak Hati-Hati, Pemotor di Grobogan Tewas Usai Tersambar Kereta Api

Salah satu perlintasan yang dijaga secara swadaya oleh masyarakat yakni di Desa Sambung, Kecamatan Godong, Grobogan. Perlintasan kereta api itu melintasi jalan yang menghubungkan Kecamatan Gubug dan Godong.

Para penjaganya sibuk mengawasi situasi demi keselamatan para pemudik yang melintas di sana. Mereka pun hanya mengharapkan receh dari pengendara sebagai tip, khususnya, dari para pengendara kendaraan roda empat.

Dengan membawa wadah plastik, salah satu penjaga perlintasan kereta api itu, Joko Suwignyo menyeberangkan kendaraan sembari mengharapkan recehan sekitar Rp 500 sampai Rp 2.000. Tak sedikit pula yang tidak memberikan uang ‘tip’ itu.

“Tidak semua memberi. Kalau memberi ya ada yang Rp 500 sampai Rp 2 ribu,” kata Joko, Senin (25/4/2022).

Joko mengatakan, ada empat hingga delapan orang yang bergantian menjaga perlintasan kereta itu dengan sistem empat sif. Rata-rata dalam sehari total yang didapat hanya Rp 80 ribu.

Uang itu kemudian dibagi kepada seluruh yang berjaga. Dia dengan setia melakoni pekerjaan ini di tengah siang yang terik atau juga hujan yang terkadang mengguyur.

Sarwo, penjaga perlintasan lainnya menambahkan, selain mendapat recehan dari pengendara, para penjaga juga mendapatkan upah dari pemerintah desa. Tapi nilainya sangat kecil, yakni sebesar Rp 1 juta dalam setahun.

“Dari pemerintah desa ada, tapi Rp 4 juta untuk empat orang, setahun,” terangnya.

Dia mengaku ikhlas menjalani pekerjaan ini daripada menganggur. Sebab, menurutnya ada banyak manfaatnya.

Terlebih di saat momentum menjelang Lebaran seperti saat ini. Tentu lebih banyak pengendara yang akan lewat.

“Daripada menganggur, kan lebih baik membantu pengendara seperti ini. Apalagi di musim menjelang Lebaran seperti sekarang ini,” kata dia.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...