Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

TAUSIYAH RAMADAN

Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan

Iktikaf di 10 Hari Terakhir Ramadan
Wakil Rektor IPMAFA Pati
Bidang Administrasi dan Keuangan, Dr. Ali Subhan, MA.

Iktikaf merupakan ritual yang disunnahkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Itu berdasarkan QS Al-Baqarah 125:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”

Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyunnahkan agar kita, umat Islam iktikaf di dalam masjid. Iktikaf adalah berdiam di dalam masjid. Walau sebentar, asalkan thuma’ninah. Ada beberapa tujuan, syarat, rukun dan amalan-amalan saat iktikaf.

Tujuan iktikaf agar kita mampu meninggal sejenak urusan duniawi. Kita masuk dalam masjid, khusyuk, mengosongkan hati kita dari urusan duniawi, fokus menghadap Allah SWT.

Kita dianjurkan meluangkan waktu untuk beriktikaf di tengah kesibukan-kesibukan duniawi. Agar selalu ingat kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca: Ramadan Hampir Rampung, Ini Amalan dan Doa yang Dianjurkan Saat Lailatul Qadar

Adapun syarat iktikaf. Pertama, orang yang iktikaf, lelaki maupun perempuan, disyaratkan harus orang Islam. Kedua, berakal.

Ketiga, sudah mampu membedakan mana yang baik dan buruk atau orang yang sudah Tamyiz. Keempat, suci dari hadats besar. Untuk perempuan ada penambahan syarat, yakni suci dari nifas dan haid.

Sementara, untuk rukun iktikaf ada empat. Pertama, muktakif atau orang yang beriktikaf masuk masjid. Kedua, niat. Adapun bacaan niat beriktikaf adalah;

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ

Nawaitu an a’takifa fī hādzal masjidi mā dumtu fīh

Artinya: “Saya berniat i’tikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya.”

Ketiga, niat itu posisinya sudah berada di dalam masjid. Artinya, iktikaf harus dilakukan di masjid. Keempat, harus ada berdiam diri mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ada pun waktu iktikaf, Rasullulah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الأَْوَاخِرَ

“Siapa yang ingin beri’tikaf denganku, maka lakukanlah pada sepuluh terakhir (bulan Suci Ramadan).” (HR. Bukhari)

Sepuluh akhir ini artinya dimulai pada 21 Ramadan. Ada yang mengatakan berangkatnya mulai terbenamnya matahari pada malam ke-21 Ramadan. Ada yang mengatakan fajar 21 Ramadan menjelang subuh.

Mulai tanggal itu, kemudian dilakukan sampai malam Idulfitri. Itulah 10 hari akhir bulan Ramadan. Itu kalau ingin iktikaf seperti iktikafnya Rasulullah SAW.

Perbedaan waktu mulainya iktikaf lantaran adanya hadits yang berbunyi:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ

“Dahulu Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam ketika ingin beri’tikaf, shalat fajar kemudian memasuki tempat i’tikafnya.”

Jadi ini ada kata shalal fajra, berarti dimulai saat fajar.

Kemudian, amalan-alaman yang dilakukan saat iktikaf di 10 hari akhir Ramadan, yang pertama adalah sedekah. Memberikan rizki kepada orang lain.

Jadi sembari di dalam masjid menyisihkan sebagain uang, atau makanan, atau minuman untuk diberikan kepada orang lain.

Amalan yang kedua, memperbanyak bacaan-bacaan Alquran. Di dalam masjid memperbanyak membaca Alquran. Tidak sepenuhnya 24 jam membaca Alquran, tetapi porsi yang banyak di dalam masjid untuk membaca Alquran.

Amalan ke tiga, tadarus Alquran. Membaca Alquran dengan teman-teman yang iktikaf lainnya. Bergantian. Yang satu membaca yang satu mendengarkan.

Keempat, menghadiri majelis ilmu. Menghadiri ceramah-ceramah atau kultum-kultum di dalam masjid. Itu bagian dari aktivitas ber-iktikaf di dalam masjid walupun sekedar kultum atau pengajian menyambut berbuka puasa.

Kelima, melakukan hal-hal yang baik di dalam masjid. Masjid kotor, dibersihkan. Keenam, memperbanyak shalat di dalam masjid. Mulai dari shalat wajib hingga shalat sunnah.

Ketujuh, berdzikir kepada Allah SWT. Membaca tasbih, tahlil, shalawat, tahmid. Dzikir kepada Allah SWT. Kalau tidak bisa baca Alquran ya dengan berdzikir. Kalau bisa baca Alquran ya baca Alquran ya dzikir juga.

Kedelapan, ketika iktikaf menjauhi perkataan dan perbuatan yang tidak ada gunanya. Tidak ada hubungannya dengan dzikir, ingat kepada Allah SWT. Misalnya, ngobrol hal yang tidak penting dengan teman kita. Cerita yang tidak ada gunanya.

Kesembilan, meninggalkan sesuatu yang berlebihan. Seperti menggosip. Membicarakan orang lain, tetangganya, saudaranya. Baiknya ketika iktikaf dihindari.

Sepuluh, menjauhi perdebatan. Jadi ketika ada sesuatu yang kurang sesuai hindari perdebatan antara muktakif satu dengan yang lainnya.

Sebelas, mengingat nikmat-nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita. Nikmat kesehatan, nikmat Iman Islam, nikmat kesempatan. Segala nikmat dingat agar memunculkan rasa syukur kepada Allah SWT. Dan takabbur (renungkan) atas ciptakan Allah SWT, atas keanggunan Allah SWT.

Dua belas, memperbanyak doa, memperbanyak istighfar, shalat malam, shalat tarawih, shalat tahajud, shalat hajat, shalat witir.

Aktifitas yang terakhir adalah menyambut lailatul qadar dan benar-benar serius melakukan kebaikan, ibadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...