Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Paskah, Sepak Bola, Ramadan, dan Toleransi

Moh Rosyid *)

UMAT Nasrani khususnya Katolik di seluruh dunia pekan ini memperingati hari agung penuh dengan makna di antaranya Hari Trisuci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Misa Kebangkitan Yesus atau malam Paskah). Kamis putih merupakan peringatan perjamuan malam terakhir Yesus bersama 12 rasulnya, ditandai upacara pembasuhan kaki sebagai wujud melayani.

Ke-12 rasul tersebut antara lain, Simon/Petrus, Andreas, Yakobus, Yakobus anak Alfeus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas. Jumat Agung yakni tatkala Yesus Kristus diadili dan wafat disalib di kayu (salib) di Bukit Golgota, Yerusalem. Penyaliban sebagai bukti kecintaan Yesus pada umatnya.

Wafatnya Yesus diyakini umat Kristiani sebagai wujud penebusan dosa bagi umatnya. Hal ini termaktub dalam Roma 5 ayat 8 “Allah menunjukkan kasih-Nya pada umat Kristiani, tatkala masih menjadi pendosa, Kristus mati bagi kita”. Dalam Petrus 3 ayat 18 “Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita…..Kristus dibunuh dan dibangkitkan”.

Yesus dimakamkan dan pada hari ketiga dibangkitkan Tuhan dari kematiannya (Hari Paskah) tepat hari Minggu. Wafat dan dibangkitkannya Yesus sebagai penanda manusia sempurna ini (Yesus) sebagai hari penuh kasih maka karakter pengasih pada sesama makhluk Tuhan apa pun agamanya harus menjadi karakter umat Kristiani dalam kehidupannya.

Sepak Bola dan Toleransi

Liga Primer Inggris musim 2020-2021, Leicester vs Crystal Palace, 27 April 2021, wasit menghentikan pertandingan sejenak pada menit ke-34 agar Wesley Fofana, pemain Leicester dan dua pemain Palace, Cheikhou Kouyate dan Jordan Ayew bisa berbuka puasa.

Rabu 6 April 2022 Moussa Niakhate (pesepak bola klub FC Augsburg, tatkala melawan FSV Mainz 05, Bundesliga Liga Jerman) tengah berpuasa. Pada menit ke-65 sang wasit, Matthias Jollenbeck memberi izin menghentikan pertandingan, karena memberi waktu pada Moussa berbuka puasa di tengah pertandingan.

Begitu pula pemain RB Leipzig, Mohamed Simakan saat melawan tim Hoffenheim Senin 11 April 2022 diberi izin berbuka puasa di tengah laga pada menit ke-30 oleh wasit Bastian Dankert.

Lutz Michael Frohlich, Direktur Komunikasi Komite Wasit Jerman pun menyetujui wasit menghentikan pertandingan sesaat agar pemain yang berpuasa bisa berbuka puasa sejenak. Sikap toleran wasit menghentikan sejenak pertandingan dan para pemain di medan laga memberi kesempatan pada pemain lain untuk berbuka puasa sebagai fakta bahwa dunia sepak bola di Eropa mempraktikkan toleransi, yakni memberi penghormatan untuk beribadah pada umat agama lain.

Dengan demikian, bertoleran dapat dilaksanakan di setiap lini kehidupan dengan berpegang pada prinsip menghormati umat segama atau umat agama lain untuk beribadah. Semoga di Indonesia pun mengikuti jejak toleran di liga Eropa tersebut. Nuwun. (*)

 

*) Dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...