Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Berhenti Hakimi Hujan

Zulkifli Fahmi *)

Nama Raden Roro Istiati Wulandari ramai dibicarakan usai ditugaskan jadi pawang hujan dalam perhelatan balap motor bergengsi dunia, MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat, belum lama ini.

Aksinya bahkan disiarkan di dunia. Ia berjalan di lintasan Sirkuit Mandalika saat hujan deras mengguyur jelang balapan dimulai. Sambil melakukan ritual, wanita ini terlihat berbasah-basah dalam upayanya menghentikan hujan.

Jauh sebelum race dimulai, Roro Istiati juga sudah beraksi untuk mencegah datangnya hujan. Hasilnya pun, race sebelum kelas tertinggi dimulai berjalan tanpa guyuran hujan.

BMKG sendiri juga telah memprediksi datangnya hujan di wilayah itu. Sebab, telah terbentuk badai didekat wilayah Sirkuit Mandalika. Dan hujan pun tetap mengguyur. Race kelas tertinggi pun akhirnya tertunda satu jam lebih dari jadwal yang ditentukan, yakni pukul 15.00 WITA.

Sebenarnya pihak penyelenggara lokal juga mengerahkan pesawat TNI AU untuk menabur garam. Upaya itu dilakukan untuk memanipulasi cuaca agar hujan batal turun. Namun, juga gagal.

Sebuah studi di Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang yang berjudul Tradisi Nyarang Hujan Masyarakat Muslim Banten menyebutkan, ritual terkait hujan sudah ada sejak dulu dan berlaku turun temurun.

Studi yang ditulis Eneng Purwanti, dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, menyebut saking lamanya, tidak diketahui sejarah awal tradisi yang terus berakar hingga sekarang.

Dalam studi itu, Eneng menyebut, masyarakat tidak mudah meninggalkan kebiasaan nenek moyang mereka. Tingkah laku atau tradisi seperti itu terjadi dari generasi dahulu ke generasi berikutnya.

Kemudian, dalam jurnal ALQALAM dijelaskan, masyarakat sebetulnya percaya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ikhtiar atau usaha tetap diperlukan untuk mewujudkan keinginan. Usaha diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan nyare’at dan doa yang dipanjatkan pawang.

Tradisi Nyarang Hujan dilaksanakan saat masyarakat memiliki hajatan atau agenda lain yang mengundang banyak orang. Agenda tersebut diharapkan bisa berlangsung dengan baik dan lancar, tanpa ada gangguan termasuk turunnya hujan. Dalam tradisi ini, peran pawang hujan bukanlah menolak hujan.

“Pawang hanya memindahkan hujan dari satu tempat ke tempat lain. Terkait keberhasilannya, rata-rata responden menyatakan ini adalah bagian dari usaha manusia. Berhasil atau tidak dikembalikan lagi pada yang memiliki kuasa,” tulis jurnal tersebut.

Teknologi terkait hujan juga pernah dibuat di dunia. Bahkan Indonesia, memiliki UPT hujan buatan. Mengutip dari BBTMC Indonesia, teknologi modifikasi cuaca itu sudah ada sejak 1985.

Unit itu digunakan untuk meningkatkan intensitas curah hujan, pengisian waduk irigasi teknis dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), mengantisipasi bencana penyimpangan iklim (kekeringan dan banjir).

Dalam Perjalanan waktu, hasil pengembangan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah mampu meningkatkan pelayanan kepada pemerintah dan masyarakat secara signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan permintaan TMC dari waktu ke waktu.

TMC bukanlah merupakan kegiatan membuat hujan melainkan merupakan kegiatan untuk mempercepat dan memperbanyak curah hujan.

Kini TMC sendiri sudah melayani sekitar 120 kali, untuk pengisian waduk, mengatasi kekeringan, menanggulangi kebakaran hutan dan lahan. Layanan itu sejak uji coba pada 1977 atas gagasan Presiden Soeharto yang divasilitasi BJ Habibie melalui Advance Teknologi sebagai embrio BPPT.

Di skala internasional sendiri, beberapa negara memiliki senjata manipulasi cuaca, bahkan secara ekstrem. Amerika memiliki fasilitas itu di Alaska yang hingga kini disebut konspirasi teknologi High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP).

Tiongkok juga tak mau kalah. Sebuah sumber menyebut, China diyakini punya teknologi yang sama untuk memanipulasi cuaca. Bahkan, senjata itu didemonstrasikan saat penyelenggaraan Olimpiade Beijing 2008.

Metode manipulasi cuaca baik secara tradisional (pawang hujan) maupun dengan tekonologi mutakhir sama-sama terdapat pro dan kontra antara elit maupun aktivis lingkungan.

Dalam agama Islam, sendiri, memanipulasi ataupun memodifikasi cuaca termasuk bermain-main dengan takdir dari Allah SWT. Peristiwa hujan, kekeringan maupun bencana lainnya, sudah tertulis dalam Lauh Mahfudz.

Dalam Al Quran surat An Nahl ayat 10 juga menyinggung bahwa peristiwa hujan merupakan bagian dari ketetapanNya.

Artinya: “Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.”

Dalam Islam, memercayai kekuatan selain dari Allah SWT juga termasuk sebagai perbuatan syirik.

Sebuah hadist sahih Riwayat Tirmidzi, Rasulullah bersabda “Jika kamu meminta sesuatu, mintalah hanya kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, memohonlah hanya kepada Allah,”.

Kemudian, dalam Al Qur’an Surah, Fatir ayat 2, Allah Berfirman “Apa saja di antara rahmat Alla yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak aada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Hama Perkasa, (lagi) Maha Bijaksana.”

Melakukan manipulasi cuaca atau menolak hujan dengan percaya pada dukun (pawang hujan) ataupun teknologi pastinya akan membawa dampak negatif. Salah satunya terjadi cuaca ekstrem.

Maka sudah saatnya kita mulai merawat alam dan menjadikan bumi kembali hijau. Yakni, dengan cara tidak melakukan manipulasi atau modifikasi cuaca. Tidak pula menghakimi hujan. Kala hujan turun, bersyukurlah, jangan lagi ada kata “duh hujan” yang keluar dari mulut kita.

 

*) Sekertaris PWI Kabupaten Grobogan, Anggota Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus

Comments
Loading...