Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Bencana Banjir dan Kekeringan Masih Mengancam Grobogan, Ini Sebabnya

Bencana Banjir dan Kekeringan Masih Mengancam Grobogan, Ini Sebabnya
Banjir di Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, pada 16 Maret 2022 lalu disebabkan meluapkan sungai Serang. (MURIANEWS/Saiful Anwar)

MURIANEWS, GroboganBencana banjir dan kekeringan sering terjadi di Kabupaten Grobogan. Bahkan sampai muncul celoteh ‘kalau hujan tidak bisa jongkok, kalau kemarau tidak bisa cebok’.

Kepala Bappeda Grobogan Anang Armunanto mengatakan ada beberapa hal yang menyebabkan bencana banjir masih melanda di Kabupaten Groboga. Salah satunya buruknya konservasi hutan.

Kondisi itu diperparah dengan tingginya praktik buang sampah di sungai maupun di tanggul sungai. Akibatnya sedimentasi sungai kian parah dan bila intensitas hujan tinggi maka bencana banjir tak terelakkan.

“Ketika intensitas hujannya tinggi, didukung oleh konservasi hutan yang tidak bagus, penggundulan hutan di daerah hulu sana, otomatis air itu akan ke bawah,” kata Anang, Selasa (29/3/2022).

Selain itu, di Grobogan juga terdapat beberapa daerah cekungan. Letak geografis seperti itu membuat wilayah tersebut rentan tergenang banjir.

Baca juga: Bencana Banjir Grobogan Makin Meluas

Apalagi, lanjut Anang, ditambah dengan adanya luapan sungai, maka banjir pun terjadi. Kebetulan, Kabupaten Grobogan sendiri dilalui sejumlah sungai besar seperti Sungai Lusi, Sungai Serang, dan Sungai Tuntang.

“Seperti banjir di Cingkrong (Kecamatan Purwodadi) kemarin itu kan karena luapan Sungai Serang,” tambah Anang.

Sementara, pada penyebab bencana kekeringan di beberapa tempat di Kabupaten Grobogan dikarenakan struktur tanahnya tidak terdapat cekungan bawah tanah. Selain itu, beberapa daerah rawan bencana kekeringan juga tidak adanya sumber air baku di permukaannya.

“Tidak semua desa kan dekat dengan sungai, dekat dengan waduk. Sehingga tidak semua air permukaannya ada. Ditambah tidak ada lagi air di bawah tanahnya. Maka susah bagi mereka di musim kemarau mendapatkan air,” terangnya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.