Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Melihat Panorama Puncak Gunung Merapi dari Dusun Stabelan Boyolali

Melihat Panorama Puncak Gunung Merapi dari Dusun Stabelan Boyolali
Foto: Kondisi di sekitar gapura masuk Dusun Stabelan, belum lama ini. (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

MURIANEWS, Kudus- Gunung Merapi adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Selama ini, sudah puluhan kali, gunung ini erupsi.

Meski demikian, banyak orang yang tertarik untuk melihat dari dekat keindahan gunung Merapi ini. Tentu saja, hal ini hanya bisa disaksikan ketika Merapi dalam kondisi tenang.

Ada beberapa lokasi yang bisa jadi pilihan untuk menyaksikan panorama gunung Merapi. Salah satunya dari Dusun Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah.

Baca juga: Gunung Merapi Kembali Muntahkan Awan Panas Guguran

Jarak dusun ini sangat dekat dengan puncak Merapi, sekitar 3,5 kilometer saja. Dari jarak sedekat ini, kita bisa menyimak panorama puncak Merapi dengan jelas, dengan catatan cuaca cerah.

Dikutip dari Solopos.com, keindahan pemandangan di Dusun Stabelan ini sudah menarik minat para wisatawan untuk datang ke sana. Selama pandemi Covid-19, dusun itu ramai dikunjungi warga dari berbagai wilayah.

“Pemandangan di sini, bisa melihat Merapi, Merbabu, Telomoyo, Sumbing, Sindoro, Slamet, dan Prau. Banyak wisatawan yang ke sini di era pandemi karena banyak tempat wisata. Jadi pada ke sini, sempat gapura masuk Stabelan itu viral,” ungkap Kepala Dusun (Kadus) Stabelan Maryanto, saat dijumpai Solopos.com di rumahnya, Minggu (20/2/2022) pagi.

Dari halaman rumah Maryanto, memang bisa menyaksikan pemandangan gunung Merapi. Selain itu, terlihat pula gunung Merbabu. Hal itu adalah salah satu pesona Dusun Stabelan.

Pemandangan yang indah tersebut, lanjut dia, membuat para pesepeda dari luar kota datang ke Stabelan untuk berfoto-foto. Ia mengatakan banyaknya wisatawan yang datang ke Stabelan mampu mendongkrak perekonomian warga yang terimbas pandemi.

“Pegowesnya ada yang dari Magelang, Jogja, Solo, dan Boyolali. Itu mendongkrak perekonomian di sini, ada warga yang buka warung di sini pendapatannya naik. Ada juga wisatawan dermawan, mereka ngasih bantuan ke warga sini yang kekurangan,” kata lelaki 27 tahun tersebut.

Pada Minggu pagi itu, gunung Merapi tampak gagah dari gapura Dusun Stabelan. Dari lokasi itu bisa disaksikan dengan jelas batuan-batuan di lereng Merapi. Sementara, beberapa warga Dusun Stabelan terlihat beraktivitas membawa rumput di lereng gunung yang berstatus siaga sejak 5 November 2020 itu.

Lebih lanjut, Maryanto menceritakan view gunung Merapi pada peralihan musim seperti ini memang menjadi favorit karena didukung oleh pencahayaan alami matahari. “Saya yang warga sini aja pas view bagus juga sering foto. View bagus ya pas bulan-bulan ini. Pokoknya pascamusim pancaroba dari hujan ke kemarau karena langitnya ngasih pencahyaan yang bagus,” kata bapak satu anak tersebut.

Maryanto mengungkapkan, jarak puncak Merapi dengan dusunnya hanya sekitar 3,5 kilometer (km). Hal tersebut membuat Stabelan menjadi dusun terdekat dengan Merapi di wilayah Boyolali.

“Dari Stabelan, setelah naik ada hutan rakyat atau hutan kas milik desa. Habis itu hutan taman nasional gunung merapi. Nah setelah itu, wilayah gunung Merapi,” kata dia.

Selain menawarkan pesona dusun terdekat dengan Merapi dan juga pemandangan menawan, Maryanto mengungkapkan ada pesona lain yang tidak dimiliki oleh daerah lain, yaitu keramahan penduduknya.

“Kemarin ada anak KKN dari Cirebon sampai bilang Jogja yang katanya penduduknya ramah, lebih ramah sini. Intinya kami seadanya saja, kami tidak menjanjikan memberikan lebih misal ada orang yang mampir ke sini, paling tidak kami berikan air putih,” kata Maryanto.

Pesona Dusun Stabelan lainnya yang diungkapkan oleh Maryanto adalah warga Dusun Stabelan masih kental dengan adat istiadat leluhur.

“Kami ada kepercayaan, sewaktu-waktu Gunung Merapi erupsi, sebisa mungkin kami tidak mengeluarkan suara. Misal mitigasi bencana harus menggunakan sirine, kentongan, dan sebagainya, kami nggak boleh karena sudah turun temurun dari nenek moyang,” jelasnya.

Selain itu, selama Gunung Merapi erupsi, warga Dusun Stabelan selalu membuat api unggun. Hal tersebut, kata Maryanto, untuk memberi tanda bahwa ada anak cucu pepunden Mbah Petruk di Stabelan.

“Sebenarnya kalau zaman dahulu, api unggun kan untuk penerangan jalan karena belum ada penerangan. Tapi itu sebagai kepercayaan, di Merapi itu ada Mbah Petruk, kalau kami bikin api unggun, ini bukan kami anak cucu menolak atau menghalangi erupsi,” jelasnya.

 

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: solopos.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.