Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Jeritan Penjual Gorengan Grobogan: Dari Masalah Minyak Goreng Hingga Sekolah Terbatas

Jeritan Penjual Gorengan Grobogan Dari Masalah Minyak Goreng Hingga Sekolah Terbatas

Salah satu penjual gorengan di Purwodadi yang mengaku omzetnya turun sejak minyak goreng naik. (Murianews/Saiful Anwar)

MURIANEWS, Grobogan – Penjual gorengan merupakan satu di antara pelaku usaha kecil yang merasakan betul dampak sulitnya mendapatkan minyak goreng murah. Mereka tengah dipusingkan dengan kondisi tak menentu.

Gegara minyak goreng Rp 14 ribu sulit didapatkan membuat para penjual gorengan menjerit. Sebab, keuntungan mereka turun drastih, bahkan sampai 40 persen.

Itu diungkapkan Fajar, salah satu penjual gorengan di Purwodadi, Grobogan. Dia mengaku kesulitan mendapatkan minyak goreng harga Rp 14 ribu.

Baca juga: Catat! Grobogan Kembali Gelar Operasi Pasar, 3.000 Liter Minyak Goreng Digelontorkan

Akhirnya, ia pun harus membeli minyak goreng mahal. Padahal, sehari ia menghabiskan 4 liter minyak goreng untuk jualan. Gara-gara itu, keuntungannya turun.

“Ini saya pakai curah, seliter masih Rp 18 ribu. Sebelumnya malah per liter Rp 20 ribu,” kata dia.

Namun dia sudah bersyukur karena minyaknya sekarang lumayan tersedia meskipun masih mahal. Sebab, sebelumnya saat mendapatkan harga Rp 20 ribu per liter, dia bahkan masih kesulitan mendapatkannya.

“Baru dua hari ini ada. Sebelum ini kan sudah Rp 20 ribu per liter, barangnya tidak ada,” tambah Fajar.

Masalah itu makin melengkapi deritanya. Di mana, pada masa pandemi ini, pembatasan masih diberlakukan dan kegiatan jadi berkurang. Terutama di sektor pendidikan.

Fajar yang berjualan sejak pukul 09.30 hingga waktu Maghrib tiba biasanya menghabiskan 4 kilogram tahu dan 15 kg ketela. Namun, sekarang dagangannya tidak benar-benar habis.

“Di sini anak sekolah daring lagi. Tidak mesti habis soalnya tidak ada anak sekolah,” terangnya.

Cerita yang sama juga dialami Rudi, penjual gorengan lainnya. Ia mengaku omzetnya menurun semenjak minyak goreng murah langka.

Namun, dia tak menyebutkan berapa kerugiannya. Hanya saja, dia kini harus bekerja lebih keras agar omzet yang biasa didapatkannya tercapai.

“Pokoknya turun lah. Barangnya juga susah. Ada yang harus belinya pakai KTP, harus langgananlah, ribet,” kata dia.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.