Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Anak Rawan Tekena Demam Berdarah pada Jam-Jam Ini, Perhatikan!

Anak Rawan Tekena Demam Berdarah pada Jam-Jam Ini, Perhatikan!
Nyamuk Aedes Aegypti (pixabay.com)

MURIANEWS, Kudus- Demam Berdarah Dengue ( DBD ) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Kasus DBD bisa menyerang anak-anak hingga orang dewasa.

Kasus DBD biasanya meningkat pada musim penghujan, seperti saat ini. Jika tidak ditangani dengan tepat, DBD bisa mengancam nyawa. Setiap tahun, angka kasus DBD ini masih cukup tinggi. Sebagian penderita DBD ini adalah anak-anak.

Untuk itu, pada musim hujan seperti ini, orang tua harus menaruh kewaspadaan lebih terhadap aktivitas yang dilakukan anak. Terutama, saat mereka beraktivitas di luar rumah dan dekat dengan tempat genangan air yang berpotensi jadi sarang nyamuk.

Baca juga: Beda Data Kasus DBD, Catatan RS Mardi Rahayu Kudus Justru Sudah Segini

Selain itu, kewaspadaa terhadap waktu bermain anak juga perlu diperhatikan. Soalnya, ada jam-jam rawan dimana anak bisa rawan Tekena DBD karena pada saat inilah nyamuk Aedes Aegypti biasanya beroperasi.

Dilansir dari okezone.com (01/02/2022), Sub Koordinator Urusan Penyakit Menular Tular Vektor dan Zoonosis Dinkes DKI Jakarta Roosvita Nur Aini mengatakan, nyamuk Aedes Aegypti beroperasi ketika rush hour atau jam sibuk seperti di jam 08.00-10.00 WIB, kemudian siang di jam 14.00-16.00 WIB.

Ketika seseorang terkena gigitan, gejala baru akan muncul di hari ketiga setelah gigitan. Gejalanya meliputi demam tinggi di hari 1-3, sakit kepala berat, mual, susah makan, ruam atau bintik merah. Kondisi yang dan lebih parah lainya ialah pendarahan.

“Di Faskes kita sudah ada pemeriksaan dini untuk meneliti apakah sudah ada virus dengue di tubuh. Pemeriksaan ini dimulai dari hari 1-3 demam tinggi, dengan cara pengecekan darah,” kata dr. Roosvita, sebagaimana dirangkum dari laman resmi Dinas Kesehatan Jakarta, Senin (31/01/2022).

Dokter Roosvita mengatakan, perbedaan yang paling terlihat hanya pada demam. Jika manusia normal akan merasakan demam tinggi, namun bagi penderita Immunocompromised mereka akan mengalami demam biasa namun gejala lainnya seperti hilang nafsu makan, sakit kepala dan lain-lain sama.

”Oleh karena itu sebaiknya jika penderita Immunocompromised mengalami gejala DBD lainnya selain demam, segera memeriksakan diri ke Faskes terdekat,” tuntasnya.

 

 

Penulis: Chambali
Editor: Dani Agus
Sumber : okezone.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.