Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Imlek dan Tradisi Ceng Beng

Moh Rosyid *)

KEHIDUPAN etnis dan umat beragama (apa pun) di dunia lazim memiliki hari istimewa yang bermakna bila dipahami pemilik tradisi, bila tidak dipahami, perayaan hambar makna. Mengokohkan makna, sesepuh/tokoh memberi pemahaman bagi generasinya diwujudkan berperilaku bajik pada sesama makhluk Tuhan lintas etnis dan agama.

Hal ini tidak bedanya dengan etnis Tionghoa (di negara mana pun) memiliki tradisi berbasis budaya yakni Imlek.

Awalnya perayaan ini oleh petani di Tiongkok menyambut musim semi, masa itu musim yang baik bercocok tanam. Kini, era meneruskan menanam kebajikan kepada sesama makhluk Tuhan dan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.

Ada keyakinan hari Imlek yang baik ditandai hujan, maknanya menghapus dosa/kesalahan meluruh bersama air hujan.

Kini, kebaikan tidak harus ditandai hujan, tapi memberi manfaat dengan sesama dan meneguhkan satya/zhong yakni beribadah pada Tian (baca: ti’en) atau Tuhan berdasarkan Wujing/5 Kitab suci: shi jing (sajak), shu jing (hikayat), yi jing (simbol suci), li jing/dai jing (kesusilaan), dan chun qiu jing/lin jing/qi lin (kelahiran Nabi Khongcu) sebagai standar kebajikan umat.

Sejarah Imlek

Imlek diawali era Dinasti Xia di China tahun 2000 SM. Pada masa ini awal penanggalan lunar diresmikan hingga kini dan tahun kelahiran Khonghucu ditetapkan sebagai tahun pertama.

Imlek juga disebut Sin Cia atau nong li atau penanggalan petani atau Sin Tjia sebagai hari kemenangan melawan hewan liar Nian yang memangsa ternak.

Hewan menjinak setelah melihat anak berbaju merah, sehingga warna merah menghiasi perayaan Imlek.

Imlek dalam bahasa China berarti bulan dan tanggal, artinya penanggalan berdasar peredaran bulan. Perayaan Imlek dimulai tanggal 30 bulan ke-12 dilanjutkan perayaan cap go meh yakni rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek (tiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa) dengan pertunjukan barongsai.

Di Indonesia, Imlek dirayakan sejak abad ke-16 dan puncaknya 1950-1960, Orde Baru melarang beserta adat istiadat dan budaya Tionghoa bila dirayakan di ruang publik. Hal ini atas usulan warga China Kristoforus Sindhunata (Ong Tjong Hay) pada Presiden Soeharto, maka diterbitkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967.

Kebijakan yang diskriminatif ini oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 9 April 2001 dicabut dengan Kepres Nomor 19 Tahun 2001. Maka perayaan Imlek dan budaya China dapat dilakukan di ruang publik. Presiden Megawati pada 9 April 2002 menerbitkan Kepres Nomor 19 Tahun 2002 bahwa Imlek sebagai Hari Libur Nasional hingga kini.

Tradisi Imlek

Ada berbagai tradisi dalam Imlek yang harus dilestarikan. Di antaranya membersihkan pintu dan jendela rumah sebagai simbol membuang sial dan menghias rumah dengan ornamen kertas merah dengan ungkapan mengharap kesejahteraan,.

Bersembahyang (penghormatan) pada leluhur dengan menyajikan hidangan di depan altar minimal 12 macam masakan dan 12 ragam kue mewakili 12 shio/hewan (tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, dan ular). Hidangan utamanya mi panjang (simbol panjang umur).

Kemudian malam harinya jamuan makan dan bercengkerama, pintu rumah dibuka agar rezeki masuk sebagai simbol mengharap dari-Nya di lapangkan jalan rezeki.

Pada hari pertama tahun baru bersilaturahmi, yang muda pada yang senior beserta keluarga dan dengan tetangga untuk saling memaafkan. Bagi anak/yang muda menerima angpao (amplop berisi uang) dari yang tua setelah sungkem.

Mengevaluasi Tradisi

Bagi etnis Tionghoa di Nusantara, lahir dan besar hingga senior adalah bangsa Indonesia seutuhnya. Perbedaan etnis tidak untuk dijadikan sekat kesenjangan tapi sebagai wahana penyadaran diri bahwa Tuhan menciptakan hamba disengaja beda untuk media saling menghormati menjadi rahmat bagi alam semesta.

Mengevaluasi agar tradisi bermakna penghormatan pada leluhurnya agar tak luluh maka ceng beng/ziarah kubur perlu dilestarikan, meski sebagian warga Tionghoa enggan karena tidak menjadi ajaran agama yang dipeluknya kini.

Ceng beng menjadi perekat batin antara generasi kini dengan leluhur yang telah kembali pada Tian, baik berziarah di makam atau menabur bunga di laut di mana abu jenazah leluhur disemayamkan di alam baka.

Tema Imlek 2022, seorang Jun Zi dalam tengah sempurna; Xiao Ren hidup menentang tengah sempurna (seorang yang berbudi luhur) hidup harmonis dalam keseimbangan, menjaga diri dan tidak takut berlebihan menghadapi Covid-19 dan seorang rendah hati dalam berperilaku hidup di jalan Zhong (keimanan).

Umat Khonghucu berharap semua umat mampu membina diri, hidup harmoni bersama pemerintah mengatasi pandemi Covid-19 dalam naungan NKRI.

Xin Nian Kuai Le, Gonghe Xinnian (selamat tahun baru semoga berbahagia), Guo Nian Hao (selamat merayakan imlek), Shengness Flourishes (semoga bisnisnya sukses), Wanshi ruyi, Gong Xi Fa Cai (selamat semoga makmur). Nuwun. (*)

 

*) Pemerhati Sosial, Dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...