Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Dugaan Pungli Juga Terjadi di Pasar Randublatung Blora

Dugaan Pungli Pasar Blora Belanjut ke Pasar Randublatung
Kasat Reskrim Polres Blora AKP Setiyanto. (MURIANEWS/Kontributor Blora)

MURIANEWS, Blora – Dugaan adanya pungutan liar (pungli) juga terjadi di Pasar Pasar Kobong Kelurahan Wulung, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Sebelumnya, dugaan yang sama juga terjadi di Pasar Rakyat Blora Sido Makmur.

Dua kasus itu pun sudah proses penyelidikan oleh Polres Blora. Itu diungkapkan Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Blora, AKP Setiyanto.

Ia mengatakan sejumlah data-data telah dikumpulkannya untuk mengusut dugaan tindak pidana tersebut.

Baca juga: Dugaan Pungli ‘Iuran Keamanan Pasar’ Blora Diusut

“Kami telah melakukan penyelidikan terhadap dugaan pungli di Pasar Kobong Kelurahan Wulung, kecamatan Randublatung kabupaten Blora,” ucap Setiyanto, Jumat (28/1/2022).

Pasar tersebut memiliki sekitar 99 kios. Para pedagang yang ingin memiliki kios tersebut diwajibkan membayar uang sekitar Rp 45 juta sampai Rp 50 juta rupiah.

“Adapun kami melakukan penyelidikan terkait dengan 55 kios yang saat ini masih proses angsur. Kemudian, kami sudah mengamankan beberapa barang bukti yaitu berupa fotokopi DP atau uang muka, kemudian angsuran dan identitas daripada pemilik toko,” terang dia.

Setiyanto menyebut dugaan adanya pungli dalam jual beli kios di pasar itu sudah terjadi sekitar tahun 2019 setelah pasar tersebut selesai dibangun.

“Secara nominal jumlah kami masih melakukan pemeriksaan, namun untuk perkiraan ya ratusan juta rupiah kerugian yang diakibatkan oleh jual beli kios pasar,” ujar dia.

Salah seorang pedagang, Supriyono (65) mengatakan sudah membayar uang muka dan angsuran dengan total Rp 22.500.000 agar memiliki kios di pasar tersebut.

Dirinya juga mengaku sempat kaget ketika pengelola pasar tersebut mengajak rapat untuk menentukan harga per kios di pasar itu.

“Harusnya gratis, tapi malah harus bayar Rp 50 juta,” kata dia.

 

Kontributor Blora
Editor: Zulkifli Fahmi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.