Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Beda Data Kasus DBD, Catatan RS Mardi Rahayu Kudus Justru Sudah Segini

Beda Data Kasus DBD, Catatan RS Mardi Rahayu Kudus Justru Sudah Segini
Ruang pelayanan administrasi RS Mardi Rahayu Kudus (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Terdapat perbedaan data kasus demam berdarah dengue (DBD) antara Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus dan Rumah Sakit (RS) Mardi Rahayu.

Jika DKK mencatat pada 1 Januari hingga 15 Januari terdapat 25 kasus. Data dari RS Mardi Rahayu justru lebih mengcengangkan.

Meski selisih tiga hari saja, yakni sejak 1 Januari hingga 18 Januari, RS Mardi Rahayu mencatat ada 159 pasien DBD yang dirawat di sana. Bahkan, dua di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: Kasus DBD di Kudus Makin Mengkhawatirkan

“159 kasus itu hanya sampai 18 Januari saja ya, yang sampai saat ini belum kami update kembali, tapi yang jelas ada peningkatan,” kata Direktur Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus, Pujianto, Jumat (28/1/2022).

Puji menyampaikan, rentang usia pasien yang dirawat pun beragam. Mulai dari anak di bawah usia 14 tahun hingga lanjut usia. Hanya, imbuh dia, yang paling mendominasi adalah usia di bawah 14 tahun.

“Dari kami mencatat anak-anak yang paling banyak, 40 anak menjalani rawat jalan dan 73 anak menjalani rawat inap, selebihya remaja, dewasa, dan lansia,” imbuh Puji.

Untuk asal pasien yang dirawat di RS Mardi Rahayu sendiri, Puji menyampaikan memang benar ada sejumlah pasien dari luar Kudus. Namun sebagian besarnya berasal dari dalam kabupaten.

“Prosentasenya sekitar 70 persen hingga 80 persen dari Kudus, sisanya dari luar Kudus ada dari Jepara, Demak, Pati,” lanjutnya.

Atas banyaknya temuan kasus DBD ini, Puji berharap masyarakat bisa lebih waspada terhadap lingkungan sekitarnya. Bila memang diperlukan, masyarakat bisa menggelar kerja bakti untuk mencegah penyakit tersebut bisa semkain meluas.

Begitu pula bila memang telah terjangkit, Puji menyarankan agar segera membawanya ke fasilitas kesehatan. “Namun kami rasa masyarakat sudah paham kalau ini, di rumah sakit juga tidak membutuhkan rujukan bila sakitnya gawat darurat,” pungkasnya.

Sementara diberitakan sebelumnya, sejak awal Januari sampai 15 Januari ada 25 kasus DBD. Sementara kasus yang terjadi setelahnya masih belum terdata.

DKK baru bisa merekap akhir bulan ini karena mobilitas tim yang sibuk melakukan aktifitas pencegahan dan penanggulangan.

“25 kasus ada yang masih dirawat ada juga yang sudah sembuh, namun kami belum mencatat ada pasien yang meninggal untuk saat ini,” kata Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Nuryanto.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...