Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Cerita R.A Kartini dan Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Jepara

Cerita R.A Kartini dan Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Jepara
Suasana gerbang Kelenteng Hian Thian Siang Tee, di Kecamatan Welahan, Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – R.A Kartini dan Kelenteng Hian Thian Siang Tee, di Kecamatan Welahan, Jepara, memiliki ikatan sejarah cukup menarik. Kedekatan itu terkuak dalam surat Kartini ke sahabat penanya, J.H Abendonan.

Dalam surat dikirim R.A Kartini pada 27 Oktober 1902 itu, Ia bercerita bahwa pada suatu waktu pernah mengalami sakit keras saat masih kanak-kanak.

R.A Kartini dalam suratnya bahkan mengaku sebagai ‘Bocah Budha’. Karena ia memiliki hubungan baik dengan kepercayaan masyarakat di Kongco Welahan (dekat Kudus). Di sana merupakan tempat ziarah banyak orang dari berbagai daerah.

Baca juga: Jelang Imlek, Umat Tridharma Welahan Jepara Sucikan Kelenteng

“Ketika saya masih anak-anak, saya telah dapat sakit keras, dokter-dokter tidak bisa menolong, mereka putus asa,” kata Kartini seperti dikutip dalam buku Door Duisternis tot licht yang terbit pada 2005.

Dalam buku tersebut, Kartini bercerita jika ada seorang etnis Tionghoa menawarkan diri untuk memberikan pengobatan. Sebab, segala obat yang diberi orang-orang terdidik tak mampu menyembuhkannya.

Justru obat yang menurut Kartini sebagai bagian dari tahayyul bisa menyembuhkannya. Seorang Tionghoa tersebut mengobati Kartini secara cuma-cuma. Tanpa dipungut biaya sepeserpun.

“Saya disuruh minum abu dari hioswa yang dibakar sebagai sembah bakti pada satu Tepekong Tionghoa. Lantaran minum obat itu, saya jadi anaknya orang suci itu, Santikkong Welahan,” ujar Kartini.

Setahun setelah kesembuhannya, R.A Kartini mengunjungi orang suci tersebut. Kartini melihat hanya ada satu patung emas kecil, yang siang malam diliputi asap hio.

Bila ada orang yang sakit, atau muncul wabah penyakit hebat, patung kecil itu digotong kesana kemari sebagai prosesi upacara untuk mengusir pengaruh jahat dari iblis-iblis.

 

Penulis: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...