Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Sejarah Desa Barongan Kudus Lekat dengan Kiai Barong

Sejarah Desa Barongan Kudus Lekat dengan Kiai Barong
Warga melintasi kawasan Poroliman, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Desa Barongan terletak di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Lokasinya membujur panjang di pusat kota, Kabupaten Kudus.

Desa ini diapit Desa Burikan Kudus dan Desa Keramat di sisi timur, Desa Kaliputu di sisi utara, Desa Singocandi, Desa Glantengan, dan Desa Demaan di sisi Barat, dan Kelurahan Panjunan di bagian selatannya.

Konon katanya, Desa Barongan ini tak lepas dari sosok mbah Barong atau Kiai Barong. Ia merupakan salah satu murid dari Sunan Muria dari Ponorogo, Jawa Timur.

Sejarawan Sancaka Dwi Supani mengatakan sekitar abad 15 silam di Desa Barongan terdapat langar atau surau milik mbah Barong. Surau itu diperkirakan berada disekitar Proliman Barongan.

“Mbah Kiai Barong itu muridnya Sunan Muria yang ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di Kudus bagian selatan. Mulai di Desa Barongan, Desa Kaliputu, Desa Kramat, dan sekitarnya,” katanya, Selasa (18/1/2022).

Dari hasil penyebaran agama Islam di sana, Kiai Barong akhirnya memiliki santri-santri dan pengikut. Surau Kiai Barong ini pun terus berkembang dan menjadi sebuah pesantren.

“Pesantrennya mbah Kiyai Barong terus berkembang. Santrinya juga dikenalkan kesenian Barong. Kesenian Barong itu kan memberikan pelajaran tentang kebaikan dan keburukan,” terangnya.

Kesenian Barong itu kemudian dijadikan alat dakwah untuk mengenalkan Islam. Sebab, kesenian itu tak sekadar atraksi semata. Melainkan ada pelajaran tentang kebaikan dan keburukan.

“Memberi contoh kalau orang yang berkelakuan tidak baik akan dimakan candi ala yang digambarkan dari sosok barongan atau leak. Sedangkan orang yang memiliki perilaku baik tidak akan dimakan barong,” jelasnya.

Lambat laun, tempat singgah dan surau Kiai Barong itu kemudian dikenal dengan sebutan Desa Barongan. Hingga kini, sepeninggal Kiai Barong, nama Desa Barongan masih digunakan. Di desa itu pula, Kiai Barong dimakamkan.

“Sampai saat ini warga di Desa Barongan setiap ada nazar entah itu diterima kerja atau ada gawe apa pasti mengadakan selamatan di makamnya mbah Barong,” imbuhnya.

Baca juga: Sejarah Hari Dharma Samudera yang Diperingati Setiap 15 Januari

Sementara itu, terdapat versi lain terkait asal-usul Desa Barongan. Dalam laman, barongan.sideka.id, terbentuknya Desa Barongan ini bermula dari datangnya seorang wali Allah bernama Abdurahman dari sebuah derah di Timur Tengah.

Abdurahman datang ke Indonesia pada abad ke 11 dan diangkat menjadi penasehat para wali. Awalnya Majapahit yang dulu merupakan pusat pemerintahan dan kebudayaan menjadi tujuan awal kedatangannya di Indonesia.

Ia datang ke Indonesia melalui Jepara dan melanjutkan perjalanan ke Kudus. Sampai di Kudus, ia juga sempat mensyiarkan agama Islam. Hingga sampai di sebuah desa, ia kemudian singgah di sana.

Namun dalam perjalannya menyebarkan Islam, Abdurahman diketahui meninggal di bawah hutan bambu besar yang pada jaman dahulu pohon ini dinamakan “Barong”. Dari situlah nama desa Barongan diambil dan sang wali terkenal dengan nama Mbah Kiai Barong.

Ada versi lain menyebutkan mbah Kiai Barong ini berasal dari kerajaan Majapahit. Ia kemudian mulai mensyiarkan agama Islam sambil berdagang.

Mbah Kiai Barong ini dikenal sebagai guru besar dari Sunan Kudus dan Sunan Muria. Saat mensyiarkan agama di daerah tersebut, banyak orang yang tertarik terhadap ajaran-ajarannya.

Meninggalnya Kiai Barong tak diketahui secara pasti. Namun, letak makamnya itu di bawah pohon bambu yang besar. Pohon pring yang besar itu namanya ‘Barong’. Sehingga ia dikenal dengan nama “Mbah Kiai Barong”.

Sebelum wafat, ia sempat berpesan pada muridnya untuk menamakan tempat tersebut dengan sebutan desa “Barongan”. Jadi, dinamakan desa Barongan itu bukan karena terdapat banyak barongan (kesenian) di daerah tersebut, melainkan karena letak makam wali tersebut di bawah pohon pring yang besar yaitu “Barong”.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...