Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Mbah Tardi Kangen Truk Mainan Buatannya Mejeng di Dandangan Kudus

Mbah Tardi menujukan truk mainan kayu yang dibuatnya. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Pandemi Covid-19 membuat tradisi Dandangan untuk menyambut Ramadan di Kudus, tak digelar dalam dua tahun terakhir. Hal ini pun membuat banyak pihak yang kangen.

Terutama bagi mereka yang biasa mendapatkan rezeki dengan hadirnya Dandangan di Kudus. Salah satunya adalah Mbah Tardi.

Kakek berusia 70 tahun ini merupakan seorang pembuat mainan truk dari kayu. Truk buatanya biasa dikulak oleh para pedagang di Dandangan.

MURIANEWS menemui Tardi di kediamannya. Yakni di RT 4 RW 3, Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus. Tardi menceritakan pengalamannya selama terdampak pandemi Covid-19.

“Keinginan saya bisa berjualan lagi. Semoga ada Dandangan diselenggarakan tahun ini,” katanya, Sabtu (15/1/2022).

‎Tardi mengatakan, hanya bisa menjual mainan truk kayu saat perayaan tertentu. Terdiri dari perayaan Dandangan di Kudus dan perayaan Kupatan di Rembang.

Truk mainan yang dijualnya itu tidak dipasarkan seorang diri. Ada bakul yang datang langsung ke kediamannya untuk kulakan truk mainan buatannya.

Bakul-bakul yang datang ke tempatnya itu sedikit membawa angin segar bagi pendapatannya. Pasalnya, truk mainan buatannya bisa terjual Rp 150 ribu per unitnya.

Di setiap ada even Dandangan Tardi mampu menjual rata-rata 80 unit truk mainan. Jika ditambah dengan momen kupatansetidaknya 160 unit truk mainan terjual.

Baca: Difabel di Kudus Ini Sulap Limbah Mebel jadi Karya Seni Tinggi

Namun dua tahun ini tak ada Dandangan, sehingga ia hanya bisa pasrah.

Kendati demikian, Mbah Tardi tetap membuat truk mainan untuk persiapan Dandangan tahun ini. Ia berharap tradisi itu tak lagi ditiadakan.

“Jumlah poduksinya tidak tentu. Soalnya ini kan sambilan. Jadi tidak bisa dipatok sehari harus buat berapa banyak,” terangnya.

Untuk membuat truk mainan itu, dia memanfaatkan limbah kayu. Tardi juga tak sulit mencari pemasoknya.

Baca: Asal Usul Dandangan, Tradisi Warisan Walisanga

Harga limbah kayu tersebut berkisar dari Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per palet. Hal itu bergantung pada jenis kayunya.

“Harga limbah kayu ini juga tergantung dari jenisnya. Harga yang sampai Rp 20 ribu juga ada,” ungkapnya.

Baca: Tinggalkan Profesi Sopir, Warga Bucu Jepara Ini Pilih Jualan Miniatur Truk

Limbah kayu yang didapatkannya itu masih berbentuk palet. Kemudian dia membongkarnya dan dipotong sesuai kebutuhan.

Truk kayu mainan yang dibuatnya juga hanya bisa berjalan lurus dan berbelok menggunakan tali yang ditarik. Tidak seperti truk oleng yang bisa bergoyang ke kanan dan ke kiri

”Truk ini tidak bisa oleng. Kalau yang bisa oleng itu ada per dan ada karetnya. Tetapi kalau truk seperti itu lebih ringkih. Sebenarnya dulu pernah buat. Tetapi sekarang saya tidak buat lagi,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...