Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Monumen Palagan Lengkong di Tangsel, Ada Kisah Heroik Dibalik Pendiriannya

Monumen Palagan Lengkong di Tangsel, Ada Kisah Heroik Dibalik Pendiriannya
Monumen Palagan Lengkong (soffiamiraputri.blogspot.com)

MURIANEWS, Kudus – Monumen Palagan Lengkong di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten sudah dibangun cukup lama. Meski demikian, tidak banyak yang tahu keberadaan monumen ini.

Monumen berada di sisi lapangan Golf BSD, Jalan Bukit Golf Utara, Lengkong Wetan, Serpong. Kawasan monumen itu tak terlalu luas, hanya sekitar 500 meter persegi.

Ada cerita sejarah dibalik pembuatan monumen tersebut. Yakni, untuk mengenang adanya peristiwa Lengkong yang terjadi pada tahun 1946.

Baca juga: Cerita Dua Monumen di Blora Jadi Saksi Gugurnya Polisi dalam Insiden PKI

Melansir dari detik.com (13/01/2022), dalam Monumen Palagan Lengkong tersebut tertulis “Mayor Daan Mogot berserta tentara yang lainnya tewas karena diserang dengan tembakan. Menurut sejarahnya, peristiwa ini terjadi ‘secara tidak terduga’.

Pada hari Jumat petang tanggal 27 Januari 1946, telah terjadi peristiwa berdarah di Lengkong/Serpong. Dimana pasukan dari Akademi Militer Tangerang yang dipimpin Mayor Daan Mogot yang tengah merundingkan penyerahan senjata dari pasukan Jepang kepada TRI, secara tiba-tiba sekali telah dihujani tembakan dan diserbu oleh pasukan Jepang. Peristiwa ini mengakibatkan gugurnya 34 taruna akademi militer Tangerang dan tiga perwira TRI, di antaranya Mayor Daan Mogot sendiri,” begitulah yang tertulis di monumen itu.

Tidak jauh dari Monumen Palagan Lengkong, terdapat sebuah rumah yang dulunya menjadi saksi dimana sempat dijadikan markas persinggahan sementara tentara Jepang tahun 1945-1946.

Dikutip dari Tourism Information Center, diceritakan bahwa Daan Mogot adalah tentara PETA dengan pangkat mayor. Pada tanggal 25 Januari 1946, mayor bernama lengkap Elias Daniel Mogot itu ditugaskan untuk melucuti senjata tentara Jepang di Tangerang. Saat itu Jepang telah resmi dinyatakan kalah dari Sekutu dalam Perang Dunia II. Misi pasukan Mayor Daan Mogot adalah untuk mencegah senjata Jepang jatuh ke tangan Belanda.

Mayor Daan Mogot memimpin 70 taruna tentara menuju tempat bermukim tentara Jepang di daerah Lengkong. Sampai di sana, Mayor Daan Mogot mengutarakan tujuan kedatangannya kepada Kapten Abe yang merupakan pimpinan pasukan Jepang.

Proses pelucutan senjata yang mulanya berjalan damai menjadi pertempuran. Bermula dari terdengarnya suara letusan senjata dan keadaan berubah menjadi panik. Tentara Jepang yang panik dan mengira diserang serentak menembaki pasukan TRI Resimen 4. Para taruna saat itu berada dalam kondisi tidak terduga dan diposisi tidak menguntungkan.

Dalam baku tembak di Hutan Lengkong tersebut pasukan Mayor Daan Mogot terdesak dan kalah. Mayor Daan Mogot beserta dua perwira dan 34 taruna gugur. Sedangkan yang luka-luka menjadi tahanan Jepang.

Untuk mengenang perjuangan Daan Mogot, di bekas lokasi pertempuran didirikan Monumen Palagan Lengkong. Sejarah singkat tentang peristiwa ini juga bisa dibaca di depan bangunan rumah yang ada dekat monumen. Bangunan yang kerap disebut Monumen Lengkong tersebut berada di bagian depan Perumahan BSD.

Tugu peringatan peristiwa ini berbentuk persegi panjang dengan tinggi sekitar dua meter. Seluruh bangunan monumen didominasi warna gelap.

Jika ingin datang dan melihat langsung Monumen Palagan Lengkong ini, mudah menemukannya. Lokasinya tidak jauh dari BSD Plaza.

 

 

Penulis: Chambali
Editor: Dani Agus
Sumber : detik.com

 

Comments
Loading...