Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Pasar Kliwon Kudus Jadi Primadona Sejak 1960-an

Pasar Kliwon Kudus Jadi Primadona Sejak Tahun 60-an
Pasar Kliwon Kudus masih jadi primadona sejak 1960-an. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, KudusPasar Kliwon Kudus sudah berdiri sejak 1960an. Sejak awal berdiri, Pasar Kliwon Kudus selalu menjadi tempat berbelanja dari generasi ke generasi.

Sejarawan Kudus, Sancaka Dwi Supani mengatakan Pasar Kliwon Kudus sudah ada sejak ia masih berusia lima tahun. Saat itu Pasar Kliwon merupakan pasar tradisional terbesar.

“Tahun 1960 hingga 1980 an itu Pasar Kliwon menjadi primadona karena saat itu merupakan pasar terbesar se-Karesidenan Pati,” katanya, Jumat (14/1/2022).

Menurutnya, saat itu, Pasar Kliwon Kudus menjual segala kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Mulai dari hewan ternak, pakaian, ikan, lauk pauk, sayuran, bunga untuk ziarah, dan kebutuhan lainnya.

Baca juga: Berkas-Berkas Nasabah Ludes saat BRI Pasar Kliwon Kudus Kebakaran, BPKB dan Sertifikat Aman

Beragam kuliner juga sudah dijajakan saat itu. Seperti dawet, nasi kerbau, sate kerbau, nasi pindang, soto kerbau dan lainnya.

“Kadang orang tua kalau anaknya ada yang sakit atau juara kelas pasti nazar akan mengajak anaknya jalan-jalan ke Pasar Kliwon Kudus,” terangnya.

Setiap akhir pekan, Pasar Kliwon Kudus juga disambangi warga untuk sekadar berbelanja atau membawa anaknya jalan-jalan. Bahkan mereka yang datang berkunjung tidak hanya warga Kudus.

“Ada yang dari Pati dan Rembang juga. Dari luar Kudus ada juga yang datang ke Pasar Kliwon,” terangnya.

Supani mengatakan Pasar Kliwon Kudus juga dilalui jalur kereta api. Rel kereta api itu terletak di Jalan Hos Cokroaminoto Kudus hingga di sekitar Pentol. Jalur Kereta api itu merupakan rute Semarang-Pati.

“Berhentinya di Pentol itu. Dulu di situ halte (peron) kereta. Kemudian mereka yang mau ke Pasar Kliwon untuk berbelanja ada yang jalan kaki ada juga yang naik dokar,” katanya.

“Karena saat itu belum ada becak. Turunnya ya di Pentol itu terus ke Pasar Kliwon bisa memilih jalan kaki atau naik dokar,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...