Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Punya Utang Tak Mampu Melunasi, Simak Kajian Gus Baha Terkait Utang

Punya Utang Tak Mampu Melunasi, Simak Kajian Gus Baha Terkait Utang
Gus Baha dalam tausiah Ramadan bersama PR Sukun. (MURIANEWS)

MURIANEWS, Kudus – Utang merupakan tindakan yang seringkali dilakukan banyak orang untuk mengatasi persoalan yang sedang menimpanya. Ada yang berutang karena sekedar untuk membeli makanan bagi keluarga.

Kemudian, ada juga orang yang berutang untuk keperluan lainnya. Misalnya, biaya sekolah anak, pengobatan anggota keluarga yang sedang sakit hingga untuk membeli barang. Ada juga yang suka berutang karena menuruti gengsi.

Permintaan utang ini biasanya dilakukan pada saudara atau teman dekat serta tetangga. Namun, ada juga yang mengambil utang di lembaga perbankkan.

Baca juga: Terlilit Utang Jadi Alasan Pemuda Semarang Bawa Kabur Pajero Warga Sukoharjo

Di antara orang yang berutang ini, ada yang tidak bisa melunasinya. Ada juga sebagian di antara orang ini yang terpaksa meminta pertolongan pada orang lain untuk melunasi utangnya hingga menjual atau menggadaikan barang yang dimilikinya.

Lantas, bagaimana dengan kondisi orang-orang yang memiliki utang tetapi tidak mampu melunasinya,? simak penjelasannya seperti dilansir dari suara.com.

Melansir tayangan di kanal YouTube Kalam Kajian Islam yang diunggah pada 20 November 2021, KH Ahmad Baha Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha memberikan penjelasan terkait utang pituang. Ulama NU asal Rembang tersebut menyampaikan sebuah hadits tentang orang mempunyai utang yang banyak dan ingin bertobat, namun tidak mampu membayarnya.

Menurut Gus Baha, solusi dari permasalahan utang yang pertama adalah menjadi orang saleh terlebih dahulu.

“Jadilah kekasih Allah dulu, jadi orang bener dulu. Utangmu sebaiknya dibayar. Namun kalau terpaksa tidak bisa, ya biarkan saja, namanya juga gak mampu. Kalau sampai menjual rumah, anak istrimu mau ke mana?,” jelas Gus Baha.

Kemudian alternatif yang kedua adalah ketika seseorang sudah meninggal, utang itu dilunasi saudara atau anaknya yang masih hidup. Supaya mayit tidak akan membawa utangnya sampai ke akhirat.

“Di akhirat, dalam pengadilan Allah semua pemberi utang kepada wali tersebut menagih kepada Allah untuk keadilan. Karena utangnya belum dibayarkan oleh kekasih Allah tersebut. Akhirnya semua amal ibadah yang banyak di ambil sama pemberi utang,” ungkap Gus Baha.

“Kemudian Allah menyampaikan ada tempat khusus (syurga) bagi orang yang mengikhlaskan utang kepada orang-orang yang saleh. Seketika itu, semua pemberi utang tersebut mengikhlaskan utangnya kepada wali Allah,” Gus Baha menambahkan.

Gus Baha juga menyampaikan bahwa Allah SWT tidak bisa memaafkan utang. Bahkan Nabi SAW tidak mau menyalati orang wafat yang masih punya tanggungan utang.

“Orang syahid saja kata Nabi, masih diperhitungkan amalnya kalau punya utang, apalagi jika tidak syahid,” ujar Gus Baha.

Penting untuk diingat, utang itu tetap harus dibayar, sekalipun yang membayarnya adalah keluarga atau orang terdekatnya. Selanjutnya, segera bertaubatlah dan menjadi orang saleh yang selalu berbuat kebaikan.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: suara.com

 

Comments
Loading...