Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kebiri Kimia bagi Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Maksudnya?

Kebiri Kimia bagi Pelaku Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Maksudnya?
Ilustrasi (pixabay.com)

MURIANEWS, Kudus –  Topik mengenai kebiri kimia saat ini sedang ramai dibicarakan banyak orang. Ini, menyusul adanya tuntutan hukuman mati dan kebiri kimia terhadap seorang pelaku pemerkosaan belasan santri di Kota Bandung. Sebagian orang bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan hukuman kebiri kimia itu.

Kebiri kimia adalah salah satu hukuman untuk pelaku kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia. Terkait tindakan kebiri kimia, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak sebagai turunan dari Undang-Undang No. 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Aturan ini memberikan kewenangan kepada negara untuk dapat menjatuhkan tindakan kebiri kimia bagi pelaku persetubuhan terhadap anak. Di mana, tindakan kebiri kimia dilakukan dengan pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau menggunakan metode yang lain.

Baca juga: Ayah Diduga Cabuli Anak Kandung di Kudus, Komnas PA Dorong Terapkan Hukuman Kebiri

Dilansir dari laman liputan6.com (12/01/2022), berdasarkan pasal 5 aturan itu, tindakan kebiri kimia dikenakan untuk jangka waktu dua tahun. Tujuannya adalah untuk memberikan efek jera terhadap pelaku dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Sementara pasal 6, tindakan kebiri kimia dilakukan melalui tahapan, penilaian klinis, kesimpulan, dan pelaksanaan.

Pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 dilakukan dengan tata cara sebagai berikut, yaitu pelaksanaan tindakan kebiri kimia dilakukan setelah kesimpulan. Pasal 8 menyatakan pelaku persetubuhan layak untuk dikenakan tindakan kebiri kimia.

Dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari kerja sejak diterimanya kesimpulan, jaksa memerintahkan dokter untuk melakukan pelaksanaan tindakan kebiri kimia kepada pelaku persetubuhan. Pelaksanaan tindakan kebiri kimia sebagaimana dilakukan segera setelah terpidana selesai menjalani pidana pokok.

Pelaksanaan tindakan kebiri kimia dilakukan di rumah sakit milik pemerintah atau rumah sakit daerah yang ditunjuk. Pelaksanaan tindakan kebiri kimia dihadiri oleh jaksa, perwakilan dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum, kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial, dan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Pelaksanaan tindakan kebiri kimia dituangkan dalam berita acara. Kemudian jaksa memberitahukan kepada korban atau keluarga korban bahwa telah dilakukan pelaksanaan tindakan kebiri kimia.

 

Menurunkan Produksi Hormon

Melansir dari laman healthline, Selasa (11/1/2022), kebiri kimia adalah penggunaan obat-obatan untuk menurunkan produksi hormon pria atau androgen. Androgen utama adalah testosteron dan dihidrotestosteron (DHT).

Menurut tinjauan penelitian pada 2012, sekitar 90 hingga 95 persen androgen dibuat di testis. Sisanya berasal dari kelenjar adrenal.

Kebiri kimia bukanlah pengobatan satu kali. Dokter akan memberikan obat dengan suntikan atau menanamkannya di bawah kulit, tergantung pada obat dan dosisnya.

Tindakan kebiri kimia harus diulang sebulan sekali atau paling jarang setahun sekali. Nama lain kebiri kimia adalah terapi hormon, terapi, supresi androgen, dan terapi depresi androgen.

 

Efek Kebiri Kimia

Efek samping dari kebiri kimia dapat meliputi, yaitu hasrat seksual berkurang atau tidak ada, disfungsi ereksi (DE), pengecilan buah zakar dan penis, kelelahan. Dalam jangka panjang, kebiri kimia juga dapat menyebabkan osteoporosis, glukosa terganggu, depresi, ketidaksuburan, anemia, kehilangan massa otot, penambahan berat badan.

Menurut tinjauan penelitian 2013, efek samping dan komplikasi dapat meningkat semakin lama dalam perawatan. Dokter mungkin merekomendasikan terapi lain untuk mencegah atau meringankan efek samping ini.

Risiko potensial lainnya adalah diabetes, tekanan darah tinggi, strokeserangan jantung, masalah dengan pemikiran, konsentrasi, dan memori. Kebiri kimia berlangsung selama orang terus mengonsumsi obat-obatan. Setelah orang berhenti meminumnya, produksi hormon kembali normal.

 

 

Penulis: Chambali
Editor: Dani Agus
Sumber : liputan6.com

 

 

Comments
Loading...