Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Persiapan Piala Dunia 2022 Disorot Para Aktifis HAM Internasional

Persiapan Piala Dunia 2022
Persiapan Piala Dunia 2022 yang dilakukan Qatar mendapatkan sorotan dari Aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. (Facebook.com/pialadunia2022/photos)

MURIANEWS, London– Persiapan Piala Dunia 2022 yang dilakukan Qatar mendapatkan sorotan dari Aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Hal ini terutama terkait dengan buruknya perlakuan terhadap para pekerja migran di sana.

Dikutip dari Daily Mail, Inggris, situasi yang terjadi telah membuat sejumlah organisasi HAM internasional memberikan kecaman. Mereka menilai Pemerintah Qatar dan FIFA mengesampingkan persoalan ini.

“Jika kita terus maju dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, maka permainan yang indah itu akan hancur. Dan bukan hanya untuk kali ini saja,” kata Ghimire aktifis HAM dari Nepal, yang juga merupakan penggemar sepak bola, seperti dilansir Daily Mail.

Secara sakartis, Ghimire juga menyebut, citra Piala Dunia bisa saja menjadi kelam, jika masalah ini tidak diselesaikan. Banyaknya pekerja yang tewas, dan tidak adanya perlakuan yang jelas, memberi label buruk bagi Piala Dunia.

“Banyak pekerja muda telah kehilangan nyawa mereka. Jika pengorbanan itu tidak diakui dengan benar, saya pikir Piala Dunia akan menjadi piala berlumuran darah… bagi siapa pun yang memenangkannya,” tambah Ghimire.

Keuntungan yang dihasilkan Piala Dunia di Qatar dan perlakuan terhadap mereka yang membangun infrastruktur disebut-sebut sangat kontras. Ketika seorang pekerja meninggal, itu tidak hanya menghancurkan hati keluarga mereka di rumah, tetapi juga dapat menjerumuskan mereka ke dalam kemiskinan.

BACA JUGA: Catatan Kematian di Proyek Piala Dunia 2022 Berbeda-beda

Karena keluarga yang ditinggal, harus melunasi pinjaman yang dibayarkan kepada agen perekrutan untuk mengamankan pekerjaan di tempat pertama. Bhupendra Magar (35), seorang pekerja dari Nepal telah bekerja di proyek stadion al-Wakrah.

Ketika pekerja ini meninggal di kamp kerja, pada Mei 2018, telah meninggalkan seorang istri dan dua anak kecil. Menurut sertifikat kematiannya, dia meninggal karena ‘gagal pernapasan akut’.

Meninggal karena ‘gagal pernafasan’ dinilai sebagai klaim yang sangat menyakitkan. Sebab sebelum berangkat ke Qatar, Magar sudah menjalani pemeriksaan kesehatan. Semuanya dinyatakan baik-baik saja.

Para peneliti HAM percaya panas adalah faktor utama penyebab dari banyak kematian. Setidaknya seperti itulah yang dilaporkan oleh Daily Mail mengenai masalah ini. Dalam sebagian besar kasus, pemerintah Qatar tidak bisa memberikan keterangan mengenai penyebab kematian pekerja. Pemerintah Qatar juga melakukan otopsi yang tepat.

Pemerintah Qatar memperkirakan hanya 37 pekerja yang tewas dalam pembangunan stadion Piala Dunia mereka. Rameshwar, seorang peneliti HAM untuk Asia Selatan, menegaskan faktor cuaca panas menjadi penyebab dari banyak kematian yang terjadi.

“Kelelahan karena panas jelas merupakan faktor dalam banyak kematian. Mereka pergi bekerja; mereka bekerja dalam suhu tinggi dan mereka kembali ke kamar di malam hari atau larut malam dan keesokan paginya pekerja itu ditemukan tewas,” ujar Rameshwar.

“Ada banyak pekerja yang baik-baik saja tetapi ditemukan tewas di pagi hari. Ada banyak kasus seperti itu,” tambahnya.

 

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: Daily Mail

Comments
Loading...