Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Persiapan Piala Dunia 2022 Qatar ‘diwarnai’ Banyak Pekerja Mati

Piala Dunia 20w2
Persiapan Piala Dunia 2022 di Qatar masih terus dikejar pihak tuan rumah. Namun berita miring soal persiapan Qatar sebagai host turnamen sepak bola paling akbar menimbulkan kecaman.(facebook.com/pialaduniaqatar2022)

MURIANEWS, London- Persiapan Piala Dunia 2022 di Qatar masih terus dikejar pihak tuan rumah. Namun berita mirik soal persiapan Qatar sebagai host turnamen sepak bola paling akbar menimbulkan kecaman.

Kecaman itu muncul tidak lepas dari banyaknya insiden yang mewarnai proses pembangunan beberapa stadion di sana. Dalam proses ini, kini muncul istilah ‘Ciplo Mrtyu’, yang merupakan ungkapan dari Nepal yang berarti ‘kematian terpeleset’.

‘Cilo Mrtyu’ digunakan para pekerja yang mempersiapkan sarana dan prasarana Piala Dunia 2022 untuk menggambarkan jenis kematian menyedihkan rekan-rekan mereka. Mereka merupakan pekerja migran, yang kini sedang terlibat pembangunan stadion, hotel dan jaringan jalan baru untuk Piala Dunia 2022 di Qatar.

Para pekerja yang terlibat dalam pekerjaan proyek Qatar 2022, diyakini banyak yang ‘berjatuhan’ kehilangan nyawa, karena dipaksa bekerja terlalu lama di bawah terik sinar matahari. Kisah kelam seperti itulah  yang dikabarkan Daily Mail dalam sebuah laporannya.

BACA JUGA: Piala Dunia Akan Digelar Dua Tahun Sekali, Apa Yang Bakal Terjadi Ya?

Mereka harus bekerja di bawah terik matahari tanpa naungan, kurangnya istirahat dan asupan air di tengah suhu yang bisa melebihi 40 derajat Celcius. Dengan bayaran sebesar £8,30 (Rp160 ribu) sehari, mereka banyak ditemukan meninggal dalam tidur mereka, setelah kelelahan.

Sejak 2010, ketika FIFA memutuskan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022, maka dimulailah sebuah pekerjaan besar di sana. Dalam prosesnya, lebih dari 6.500 pekerja migran dilaporkan meninggal di negara Timur Tengah itu.

Mereka dikerahkan untuk membuat  kota baru, jalan, dan stadion di tengah gurun pasir yang kering. Kini, dengan 11 bulan menuju pertandingan pembukaan, proses itu semakin ditingkatkan untuk mencapai ‘siap’. Piala Dunia Qatar 2022 sendiri akan dimulai pada November nanti.

Situasi dan kondisi yang terjadi membuat para aktifis Hak Asasi Manusia Internasional mulai mengambil sikap. Barun Ghimire salah satu pengacara hak asasi manusia yang mewakili para pekerja migran di Qatar, sudah meminta agar pemerintah Qatar bertanggung jawab atas kematian ribuan para pekerja.

“Dan jika tidak, orang mati akan menghantui Piala Dunia 2022 di depan dan selamanya. Ini adalah cangkir bernoda darah,” kata Ghimire, yang tinggal di Nepal, yang telah mencatat 1.641 kematian warga Nepal di Qatar dalam satu dekade terakhir.

Pernyataan Ghimire yang dilansir Daily Mail, memunculkan sebuah citra kelam bagi sepak bola yang merupakan cabang olahra yang dicintai banyak orang dan Piala Dunia yang dinanti-nantikan. Ketika semua negara menginginkan menjadi pemenang, ketika semua menantikan pertunjukan, namun disisi lain ada lumuran darah orang-orang yang mati untuk mementaskannya.

Ghimire juga mempertanyakan, bagaimana mungkin dunia bisa menyaksikan kemegahan Piala Dunia dengan tontonannya, dengan keuntungan FIFA yang diperkirakan mencapai £3 miliar (Rp58 Triliun), jika dibalik itu ada ribuan pekerja mati karena tak diurus dengan baik.

“Jika Anda tahu biaya untuk mewujudkan permainan yang indah ini, jika anda mengetahui pengorbanan keluarga dan mereka yang kehilangan nyawa, apakah Anda dapat menikmatinya?. Atau jika Anda seorang pemain, apakah Anda bisa bermain dengan antusias… jika itu adalah negara Anda?,” ujarnya seperti dilansir Daily Mail.

Atas situasi ini, Daily Mail menyatakan, FA (Federasi Sepak Bola Inggris) sudah mendekati

kelompok hak asasi manusia, Amnesty, dan organisasi lain untuk memberi tahu pemain Inggris tentang situasi yang terjadi di Qatar.

Timnas Inggris, kabarnya akan memutuskan sikapnya, dalam pembicaraan yang dijadwalkan terjadi pada bulan Maret nanti. Tim nasional lain dikabarkan juga sudah mengambil sikap. Norwegia dan Jerman mengenakan kaus protes menjelang kualifikasi Piala tahun ini dan gelandang Belanda, Georginio Wijnaldum berbicara tentang masalah ini.

Ghimire bisa memahami, pekerja mati dalam proyek konstruksi besar adalah sesuatu yang tidak mungkin dielakan. Namun, skala kematian, keadaan mereka dan penolakan pemerintah Qatar atau FIFA untuk bertanggung jawab atas mereka, itulah yang membuatnya tak bisa menerima.

Pekerja dari India, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka dan Pakistan diketahui berbondong-bondong ke Qatar untuk bekerja. Dari penyelidikan kelompok-kelompok hak asasi manusia terungkap, bahwa mereka ternyata juga harus membayar sejumlah besar kepada agen perekrutan.

Jumlah yang dibayarkan, bahkan ada yang mencapai £ 3.000 (Rp58 juta), untuk bisa dipekerjakan. Namun di Qatar mereja mendapati gaji harga murah di panas yang membakar, dan kondisi yang mengerikan. Mereka harus  terikat pada majikan, dengan sedikit kemungkinan untuk melarikan diri.

 

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: Daily Mail

Comments
Loading...